Algojo Penalti yang baik hati.

Terkadang pemain mau melakukan apa saja untuk mendapatkan penalti. Tapi
kalau ada yang menolak hadiah penalti dan berbaik hati tidak memasukkannya
ke gawang lawan, itu pasti langka!


Robbie Fowler adalah pemain langka tersebut. Kelangkaannya adalah bersikap
jujur, yang dilakukannya pada 24 Maret 1997 saat timnya Liverpool bertanding
melawan Arsenal di Highbury.


Insiden masyhur ini adalah ketika ia terjatuh di kotak penalti Arsenal
setelah beradu dengan kiper David Seaman. Wasit Gerald Ashby langsung
menunjuk ke titik putih buat Liverpool. Tapi apa yang terjadi? Fowler
memprotes wasit! Ia mengatakan Seaman tidak menyentuhnya.


Namun wasit sudah meniup peluit dan tendangan penalti tetap harus dilakukan.
Fowler pun menjadi algojonya. Hasilnya? Sepakannya diantisipasi Seaman, lalu
Jason McAteer me-rebound bola dan membuangnya.


Orang-orang lalu mengatakan Fowler memang tidak berniat menggolkan hadiah
penalti itu. Tapi sangkaan itu ia bantah -- paling tidak, kemudian ia
memperoleh penghargaan fair play dari UEFA.


"Sebagai penyerang, mengambil penalti adalah bagian tugasku dan aku ingin
mencetak gol. Aku sudah berusaha dan tak pernah sengaja menghilangkannya.
Hanya saja eksekusi saya memang buruk," tuturnya.


Jika Fowler menyangkal sengaja membuang kesempatan penalti karena hati
nuraninya menolak, tidak demikian dengan Morten Wieghorst. Gelandang
Denmarkitu terang-terangan mengarahkan eksekusi penaltinya ke samping
gawang
Iran dalam sebuah pertandingan Piala Carlsberg di tahun 2003.


Ceritanya, Dikutip Guardian, di menit-menit terakhir pertama ia dan seorang
bek Iran seperti mendengar bunyi peluit. Mereka berpikir sudah saatnya turun
minum. Maka si pemain Iran enak saja memungut bola yang ada di kotak penalti
timnya.


Ternyata suara peluit datang dari arah penonton (yang iseng). Wasit tetap
melihatnya sebagai kesalahan dan Denmark dihadiahi tendangan penalti.
Setelah berdiskusi dengan pelatih Morten Olesen, Wieghorst yang menyandang
ban kapten "Tim Dinamit" sengaja mengalgojoi penalti itu dengan tidak
semestinya.


"Tidak adil," kata dia. Meskipun Denmark akhirnya kalah 0-1, tapi seperti
Fowler, Wieghorst juga diberi penghargaan fair play oleh Komite Olimpiade
atas sikapnya yang sportif dan gentle.


*cleo giselle*
:: it ain't funny living without sadness and happiness ::


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke