Artikel menarik untuk dibaca :)
------------------------------------------------------------------
Etos Klub, Identitas Klub
Liza Arifin - detikcom

London, Sebelum pertandingan antara Manchester United melawan 
Chelsea, sehari setelah Jose Mourinho meninggalkan klub London Barat 
itu, Alex Ferguson ditanya mengenai pola permainan yang akan 
ditampilkan di pertandingan.

Jawab Alex Ferguson sederhana dan sepertinya tanpa dipikir, "Orang 
mengatakan kami selalu tampil menyerang dan kami tidak pernah 
mengecewakan mereka."

Apa yang dikatakan oleh Alex Ferguson sebenarnya adalah etos dasar 
eksistensi Manchester United. Artinya Manchester United sejak awal 
didirikan atau katakanlah dalam perjalanan sejarahnya berevolusi 
menjadi satu klub yang menjadikan sepakbola menyerang sebagai satu-
satunya ekspresi permainan.

Untuk memenuhi filosofi klub yang seperti itu maka pilihan manajer, 
pemain, fasilitas latihan, pola latihan, maupun lapangan 
pertandingan, pendeknya segala tetek bengek yang berkaitan dengan 
klub mengarah kesana. Etos itu sudah sedemikian hidup karena melalui 
perjalanan sejarah panjang, sehingga semuanya serba otomatis, 
seotomatis jawaban Alex Ferguson.

Etos klub itulah yang digarisbawahi oleh Jose Mourinho dalam sebuah 
artikel yang ditulisnya mengenai sepakbola. Mourinho tidak salah, 
berbicara mengenai etos klub akan membawa kita kepersoalan-persoalan 
mendasar yang rumit, yang kalau terpecahkan diyakini akan membawa 
kesuksesan: untuk apa sebuah klub didirikan dan mewakili entitas 
seperti apa.

Mourinho yakin betul setiap klub harus mempunyai etos yang jelas, 
satu filosofi dasar yang kukuh, yang membedakan dengan "musuh-
musuhnya". Etos inilah yang akan membawa kesuksesan satu klub dan 
diharapkan akan berkesinambungan. Etos ini yang pada nantinya yang 
akan memberi identitas.

Ada satu cerita mengenai Mourinho muda ketika ia diwawancarai oleh 
sebuah klub di Portugal untuk menjadi pelatih. Konon Mourinho-lah 
diakhir wawancara yang justru mengajukan pertanyaan sulit. "Klub ini 
didirikan untuk apa dan mewakili keyakinan seperti apa?" 

Presiden klub kebingungan menjawab tetapi kemudian mengatakan ingin 
selalu meraih kemenangan. Dengan separuh mengejek, Mourinho mudapun 
berkata ketus: "Kalau cuma meraih kemenangan, semua orang ya ingin 
menang!" 

Memang terkadang identitas yang terbentuk oleh etos itu bisa 
dirasakan walau sulit untuk dirumuskan dalam abcd abjad ataupun 
formula matematis. Tetapi semua klub besar pasti punya identitas itu.

Robie Van Persie tidak bisa menjelaskan dalam kata-kata apa yang 
dimaksudkan dengan gaya Arsenal. Ia mengaku membutuhkan waktu agak 
lama untuk memahami dan lebur dalam gaya Arsenal. Kita juga susah 
untuk mengatakannya, tetapi melihat permainan Arsenal kita tahu apa 
yang dimaksud oleh Robie Van Persie.

Tengoklah Rafael Benitez di Liverpool. Ia mungkin saja pernah meraih 
Piala Champions ditahun pertama memegang Liverpool. Tetapi ia belum 
memahami nyawa Liverpool yang tidak sekadar soal meraih piala, 
tetapi ada gaya permainan yang khas Liverpool. Sekarang ia mulai 
mengerti dan perlahan merekrut pemain yang dianggap bisa memainkan 
sepakbola cara Liverpool dan membuang mereka yang dianggapnya tidak 
akan mampu mewakili Liverpool.

Semua klub dengan dasar identitas yang kuat tak akan mudah goyah 
seandainya manajer diganti, pemain berpengaruh keluar atau berbagai 
perubahan terjadi, karena mekanismenya adalah semua perubahan 
diperlukan agar identitas terjaga, bukan untuk mengubahnya. Tidak 
ada yang lebih besar dari klub, itulah moto yang dipahami oleh 
mereka yang berada di klub-klub besar, yang pada saat bersamaan 
berarti tidak ada posisi aman, apakah itu pemain, manajer, atau 
siapapun juga.

Orang sekarang sedang menunggu, terbuat dari apakah klub seperti 
Chelsea ini setelah ditinggal oleh manajer paling sukses sepanjang 
sejarah mereka? Adakah cetak biru identitas Chelsea yang bisa 
membuat klub ini disejajarkan dengan klub besar Inggris kontemporer 
seperti Manchester United, Liverpool, atau Arsenal? 

Mungkin ada spekulasi, kepergian Mourinho adalah sebuah keharusan 
karena ia tidak mampu memenuhi perwujudan identitas Chelsea atau 
karena Mourinho justru sadar identitas itu tidak ada atau juga ada 
perubahan identitas yang sengaja dirancang untuk membawa Chelsea 
maju ke masa depan? Entahlah.

Kirim email ke