Oxymoron ??
sepertinya bahasa ilmiah dari self-destruct ... :)

-------------------------------------------------
Oxymoron Sepakbola Inggris
Liza Arifin - detikcom

London, Per definisi kata Oxymoron menurut kamus Oxford berarti 
paduan dua kata yang saling berlawanan yang membentuk satu 
pengertian baru. Beberapa contoh: gemuruh kesunyian, keteraturan 
acak, amarah terkendali.

Kata oxymoron jarang muncul dalam percakapan sehari-hari. 
Penggunaannya lebih sering terasosiasikan dengan dunia sastra 
ataupun dalam percakapan akademis.

Hanya saja penggemar sepakbola Inggris sepertinya selalu saja 
terbentur-bentur dengan kata ini setiap kali melihat penampilan tim 
nasionalnya.

Terkenal mempunyai semangat pantang menyerah dan mampu bertarung 
habis-habisan, tetapi selalu berantakan bila berada di bawah 
tekanan. Oxymoron.

Inilah yang dieksploitir oleh pelatih Rusia, Guus Hidink, saat 
Inggris bertemu Rusia dalam laga kualifikasi Euro 2008 dua hari 
lalu. Seperti orang Belanda, pada umumnya Hiddink fasih bercas-cis-
cus dalam bahasa Inggris. Ia juga seorang pemikir sepakbola. Ia 
paham akan psyche -- mentalitas tim nasional Inggris. Ia paham akan 
arti oxymoron terkait dengan skuad Three Lions.

Cobalah simak apa kata Hiddink kepada tim Rusia di jeda paruh waktu 
pertandingan Inggris lawan Rusia: "Cetak satu gol, gol kedua akan 
datang dengan sendirinya. Semangat tak kenal menyerah Inggris hancur 
berantakan bila berada di bawah tekanan." Sungguh kesimpulan jenial 
dan terbukti benar.

Bukankah semangat tak kenal menyerah semestinya terkait dengan 
kevakuman situasi. Artinya, apapun situasi yang dihadapi Inggris, 
tidak akan mempengaruhi konsentrasi ataupun usaha pemain Inggris di 
lapangan. Kalau itu halnya, lalu bagaimana mungkin semangat itu 
hancur berantakan ketika situasi mereka tertekan. Sebuah oxymoron 
bukan?

Hiddink tidak asal omong ketika mengatakan hal ini kepada pemain 
Rusia. Ia mempelajari perilaku Inggris di Piala Dunia yang lalu 
ketika tersingkir dari Portugal di babak perempat final, yang juga 
mendepaknya di Piala Eropa 2004. Di Piala Dunia 2002 Inggris tunduk 
di tangan Brasil yang bermain dengan 10 pemain.

Catatan serupa terjadi di hampir semua turnamen besar yang diikuti 
Inggris sejak 1970-an hingga sekarang. Hampir di semua momen Inggris 
bermain kesetanan tapi hasil akhirnya sama saja : setiap kali berada 
di bawah tekanan Inggris selalu tersingkir. Tak kenal menyerah 
tetapi hancur berantakan di bawah tekanan. Sekali lagi sebuah 
oxymoron.

Kekalahan dari Rusia belum sepenuhnya memupus harapan Inggris untuk 
lolos ke Piala Eropa 2008, tapi nasib mereka kini di bawah 
keberuntungan Rusia. Kalau Rusia bisa memenangi dua pertandingan 
sisanya melawan Israel dan Andora, apapun hasil pertandingan Inggris 
melawan Kroasia, Inggris pasti tersingkir.

Kalau saja Inggris bisa menghapus kata oxymoron dari perbendaharaan 
kata mereka, betapa leganya, pastilah sudah mereka lakukan. 


Kirim email ke