Minggu, 28 Oktober 2007 OLAHRAGA 
 
OFFSIDE

Hidup Tanpa Sepak Bola

Oleh: Amir Machmud NS 

MUNGKINKAH kita hidup tanpa sepak bola? Bagi Bill Shankly, tentu 
tidak. Bukankah legenda Liverpool itu pernah menebar kalimat 
seram, "Sepak bola lebih dari sekadar hidup dan mati"? Tetapi bagi 
para pengambil keputusan di negeri ini, sepak bola hanyalah bagian 
dari elemen kehidupan: boleh ada, boleh tidak. Kalaupun ada, itu 
bukan urusan APBD untuk meng-cover-nya.

Bijak atau tidak bijak, keputusan sepak bola non-APBD itu cukup 
argumentatif. Anggaran besar dari APBD untuk tim-tim Liga Indonesia 
menggambarkan betapa sepak bola diposisikan seolah-olah menjadi 
bagian terpenting kehidupan. Bayangkan, angka Rp 14 miliar untuk 
PSIS, Rp 20 miliar untuk Persija, juga M-M besar lainnya! Pada sisi 
lain, larangan penggunaan anggaran daerah juga rasional untuk melihat 
sepak bola bukan segala-galanya karena masih banyak bagian kehidupan 
yang harus disikapi lebih dari sekadar urusan bola.

Masalahnya, tentu, dari sisi Liga Indonesia, bukankah kegairahan 
kompetisi yang separoh lebih nyawanya bergantung pada APBD bakal 
sekarat?

Dengarlah dendang putus asa tim-tim kontestan liga yang membayangkan 
musim depan kehilangan kaki dan tongkat penyangganya. Ketelanjuran 
bergantung pada kucuran anggaran telah menciptakan profesionalisme 
semu. Tak ada uang yang bisa diputar untuk "menghidupi" klub karena 
kebiasaan memperoleh dana segar, mengucurkannya tanpa berpikir 
bagaimana mengembalikan sebagai semacam investasi. Ketika aturan 
belum menjerat, lobi pun jadi syarat. Alasannya, apalagi kalau bukan 
kegairahan rakyat?

Simaklah beberapa pesan pendek ke Redaksi Suara Merdeka, yang 
melukiskan pentingnya mencari solusi: bagaimana PSIS ke depan, 
bagaimana pula seharusnya sepak bola kita menata diri.

"Tolong dong PSIS jangan habis-habisin dana APBD. Eman-eman to, 
mending buat bangun Kota Semarang dan membantu masyarakat". "Jadikan 
penolakan tambahan dana oleh DPRD sebagai warning. Ingat tahun depan 
sudah gak ada dana APBD lagi. Ayo pengurus, kutunggu kreativitas 
Anda". "Walah... Pak Wali kok repot nyarikan anggaran dana buat PSIS, 
apalagi mengatasnamakan rakyat. Wong ada manajernya buat apa?".

* * *

SEJUMLAH formulasi non-APBD sudah dibayangkan: bakal seperti apa PSIS 
dan tim-tim "pemda" lainnya. Ada yang berancang-ancang menjualnya ke 
BUMN, mengalihkan ke swasta, menjadikan BUMD, membubarkan tim, atau 
solusi-solusi teknis lain seperti mencari bapak asuh para pemain 
untuk menanggung gaji bulanan. Apa pun bentuknya, akan terjadi 
semacam efisiensi otomatis dari kesan jor-joran yang terjadi selama 
ini.

Bayangkanlah, dalam satu tim terdapat lima pemain asing yang bisa 
dimainkan berbarengan, dan bukan rahasia lagi rata-rata pemain manca 
itu menyedot anggaran kontrak terbesar, sehingga berkesan dana APBD 
lebih banyak memanjakan mereka.

Kita memang bangga, sebagai profesional, para pemain kelas satu 
Indonesia kini mengantongi kemungkinan hidup sangat layak dengan 
kontrak per musim ada yang mencapai hampir Rp 1 miliar. Jika tidak 
ditopang oleh APBD sebagai sumber utama, bagaimana kelak angka-angka 
itu bisa disetarakan? Dengan efisiensi dan adaptasi drastis, misalnya 
dalam besaran gaji, bonus, dan fasilitas tim, akankah mutu industri 
kompetisi bakal terpengaruh?

Saya percaya, tidak. Bagaimanapun, lima pemain asing di satu klub 
bukan hanya mendatangkan kegairahan industrial, melainkan juga 
kemudaratan berupa hilangnya peluang pengembangan pemain lokal. 
Memakai pemain muda lokal bakal lebih mengefisienkan anggaran sebagai 
gambaran paling rasional.

Sebelum sepenuhnya lari ke APBD, rasionalisasi pembiayaan klub liga 
mengetengahkan pola yang bisa membuat ngeri setiap penyandang dana: 
uang hanya terkucur dan mengucur tanpa bisa diharapkan berputar 
kembali. Harapannya, ya konsesi untuk memperoleh kemudahan proyek, 
dan itu - dahulu - merupakan risiko logis ketimbang tim sepak bola 
tak punya tenaga untuk bergerak. Kalaupun konsesi itu terbatas, 
dorongan lain hanyalah karena kegilaan orang berduit pada sepak bola. 
Sesuatu yang terbukti sangat langka sekarang!

Yang terjadi sekarang, APBD menjadi solusi utama, padahal pada sisi 
lain banyak sektor yang terus berteriak meminta perhatian tambahan 
seperti perjuangan menaikkan anggaran pendidikan. Cabang olahraga 
lain yang potensial mengangkat martabat bangsa di forum internasional 
juga tertindih oleh "gemuruh" kebutuhan sepak bola, karena anggaran 
tim liga yang eksklusif dibandingkan dengan jatah KONI-KONI kota atau 
kabupaten.

Jadi bijakkah ketika usulan tambahan dana ditolak, beban target serta-
merta diralat seolah-olah boleh menjadi "seadanya", dan performa tim 
terjustifikasi ikut-ikutan anjlok? Padahal mestinya 
pertanggungjawaban kepada rakyat tetap harus mengemuka untuk anggaran 
yang sebelumnya telah terlimpah.

Suka atau tidak suka, sepak bola Indonesia memang penuh dengan ironi. 
Geger APBD baru salah satu di antaranya. Dan, musim depan adalah 
ujian - apakah daya tahan eksistensi suatu klub berbanding lurus 
dengan kucuran dana APBD atau tidak. Bukankah sudah ada contoh 
pengecualian Arema Malang atau Semen Padang?

Kita mungkin berpikir radikal: terserah pemerintah daerah mau 
memperpanjang napas klub liganya, atau membiarkan mati dengan segala 
risikonya. Mereka yang menjadi martir manajemen klub tentu sudah 
punya ancang-ancang, karena pada segi-segi tertentu juga memperoleh 
konsesi sosial-politik di mata rakyat.

Sepak bola non-APBD adalah sebuah konsekuensi jika kita berani beradu 
dada menatap profesionalisme sewajarnya. Yakinilah akan selalu 
terbuka jalan. Menangisinya sama saja dengan menyepelekan kebutuhan 
lain rakyat yang jauh lebih gawat ketimbang muramnya tim sepak 
bola....(40) 
 


Kirim email ke