Sebelum pertandingan, banyak prediksi meramalkan Madrid akan menang. Bukan karena kualitas teknis, materi pemain atau posisi di klasemen. Namun lebih disebabkan faktor internal yang menggoyahkan mental para pemain Valencia.
Dua hari sebelum pertandingan, manajemen Valencia memecat pelatih Flores. Juan Soler, presiden Valencia, menyebutkan,"Ini bukan keputusan mudah. Tapi kami rasa kami harus mengambil keputusan terbaik untuk membawa Valencia menjadi salah satu yang terbaik di Eropa". Sebuah pidato yang klise untuk keputusan yang memiliki resiko teramat besar. Manajemen Valencia bekerja cepat untuk merayu para pelatih top Eropa. Scolari, Mourinho, Lippi, Koeman menjadi target mereka. Sementara itu untuk menangani persiapan Valencia menghadapi Madrid, manajemen menugaskan Oscar Fernandez yang selama ini menjadi pelatih Valencia B. Tentu bukan tugas ringan namun Fernandez cukup percaya diri, "Kami adalah Valencia. Jelas saat ini, tim terpengaruh oleh situasi yang ada. Tetapi mereka adalah pemain-pemain yang berani. Fans harus mendukung kami 100%". Sang lawan, Real Madrid, turun ke lapangan dengan mentalitas positif. Mereka hanya sekali kalah sampai saat ini, memimpin liga dan grup di liga Champion. Di lapangan, formasi 4-3-3 ala Madrid bertemu dengan formasi 4-5-1 Valencia. Schuster membangkucadangkan Sneijder dan menggantinya dengan Gago. Sementara trisula di depan tetap ditempati trio R - Raul, Robinho dan RVN. Madrid hanya butuh 40 detik setelah pertandingan dimulai untuk menghancurkan semua rencana Fernandez. Diawali gerakan Robinho dari sayap kiri kemudian menusuk ke tengah pertahanan Valencia. Tiga bek Valencia mencoba menghadang namun Robinho sempat berkelit dan melepaskan umpan ke Raul yang berdiri bebas. Tanpa kontrol, Raul melepaskan tendangan datar ke pojok kanan gawang Valencia. 1-0 untuk Madrid. Setelah gol pertama, semua terasa mudah bagi Madrid. Mereka bermain satu sentuhan dan para pemain bergerak leluasa tanpa tekanan dari Valencia. Bisa dikatakan, Valencia bermain tanpa motivasi. Bahkan fans mereka di Mestalla lebih senang duduk manis menikmati permainan tim lawan. Tak ada sorak sorai, suara terompet atau kibaran kain putih seperti tradisi yang mereka lakukan saat menjamu Madrid. Maka gol bagi Madrid hanya persoalan waktu. Memasuki menit 20, RVN terlepas dari jebakan offside. Meski mendapat gangguan dari Helguera namun insting gol RVN membuatnya tetap tenang mengontrol bola, melambungkannya melewati kiper dan Madrid unggul 2-0. Hingga babak pertama berakhir, Madrid telah unggul 4-0 dengan tambahan gol dari Ramos dan RVN. Skor ini memang di luar dugaan siapapun. Menurut saya, bukan karena Madrid bermain luar biasa bagus namun lebih karena penampilan Valencia yang berkelas amatir. Persoalan mereka bukan dari sisi teknis namun hilangnya spirit bermain. Ronald Koeman yang akhirnya ditunjuk menjadi pelatih Valencia bukanlah orang baru di La Liga. Semestinya Valencia telah mendapatkan orang yang tepat. Pertandingan berikutnya adalah bertandang ke Malorca dan ini akan jadi ajang yang tepat bagi Koeman untuk membuktikan kapasitasnya. Kemenangan besar Madrid jelas mendatangkan kepercayaan diri untuk menghadapi tuan rumah Sevilla Sabtu nanti. Mereka belum lupa kekalahan di Piala Super Agustus lalu. Tapi kini mereka tahu bagaimana bermain dengan gaya sendiri, mendikte lawan dan mencetak gol sebanyak-banyaknya.
