Entah setan apa yg membuat waktu yg bertepatan antara kejadian kerusuhan 
suporter di Italia dengan gw mulai membaca novel quartology (CMIIW, setau gw 
cuma 4 buku sih) karangan Mario Puzo.

Gw tau lebih dulu karangan Mario Puzo justru dari buku intinya yaitu The 
Godfather (sekilas) dan tentunya filmnya yg trilogy bermain di sekitar Oscar 
(Academy Award). Kemudian bukunya yg gw baca tuntas satu-satunya sampai saat 
ini (dan tentunya wajib gw koleksi) adalah buku pamungkas dari Don Puzo yaitu 
The Last Don. Buku yg menceritakan persaingan antara 2 cucu tersayang dari the 
Don, Dante dan Cross (Crucifixio), 2 pemuda ganteng dimana satunya cucu 
langsung (Dante) dan lainnya cucu tidak langsung (Cross).

Jumat kemaren gw beli juga akhirnya buku Sisilia yg termasuk salah satu dari 
buku tersebut di atas. Baru gw mulai baca hari Sabtu, kerusuhan pun meruyak di 
sebagian Italia. Entah apa hubungannya, entah ... hehe.

Tapi yg jelas, di novel tersebut digambarkan adanya keinginan Sisilia untuk 
melepaskan diri dari Italia tapi tidak pernah terwujud sampai saat ini. 
Kemudian disana digambarkan Sisilia sebagai daerah yg sangat menyita perhatian 
Roma, mungkin karena orang-orang Sisilia yg sangat berani mati, dan pemimpin 
mafia di sana pun sangat ditakuti bahkan melebihi ketakutan orang atas polisi 
yg senang melakukan kekerasan.
Jika polisi ditakuti karena senjatanya dan tak ada kebaikan mereka yg bisa 
diterima masyarakat Sisilia maka kelompok mafia menjadi pelindung mereka dari 
ketakutan dan ketidakadilan pemerintahan Roma.

Kota Palermo sebagai kota besar Sisilia berdiri diatas sebuah cekungan yg 
merupakan bekas sebuah gunung mati. Hidup di Sisilia sana sangat keras dan dari 
sisi ekonomi sangat sederhana tapi mereka menjalaninya dengan penuh kehidupan 
sampai kemudian datang penjaga-penjaga keamanan kiriman pemerintahan Roma. 
Carabinieri tersebut menjadi momok bagi mereka karena kemudian pada satu dua 
bagian pulau Sisilia diterapkan jam malam dan makhluk yg terlihat pada jam 
malam bisa saja ditembaki tanpa ba-bi-bu.

Sisilia seperti halnya beberapa bagian lain Italia pasti sangat mengenal kata 
Vendetta. Ya, balas dendam sampai tuntas adalah hal biasa bagi mereka 
sampai-sampai bisa mengakibatkan satu keluarga musnah sampai akarnya. Tapi 
itulah Sisilia, dan itu adalah karena mereka tidak menyukai ada dendam yg tak 
tuntas dan tidak menyukai ke-banci-an. 

Lalu apakah Vendetta bisa dikaitkan dengan kerusuhan yg kemaren terjadi? Jika 
biasanya Vendetta terjadi antara 2 keluarga di (bil khusus) Sisilia, maka 
kemaren sepertinya terjadi Vendetta tidak sengaja dari polisi ke suporter. Kok 
bisa? Ada yg masih ingat kejadian ketika polisi terbunuh oleh suporter 
sebelumnya?
Mungkin itu yg mengakibatkan polisi menjadi ringan tangan, senjata di tangan 
dengan mudahnya menyalak. Tapi yg terkena akhirnya adalah orang yg tak 
bersalah. 

Gabriele Sandri yg notabene tidak ikut dalam tawuran antar suporter Lazio dan 
Juventus dan sedang berada di dalam mobilnya yg mengarah ke Milan malah menjadi 
korban sia-sia. Sandri yg adalah seorang DJ yg cukup terkenal dan termasuk 
cukup dekat dengan pemain Lazio terkena tembakan di lehernya. Lazio yg pada 
saat kejadian sedang pemanasan di Giuseppe Meaza (yg maen inter sih) akhirnya 
meminta FIGC membuat sebuah kebijakan karena mereka sedang berkabung sehingga 
kemudian FIGC memutuskan pertandingan ditunda sampai waktu tak tentu.

Pertandingan Atalanta - Milan yg baru berjalan 10 menit akhirnya juga 
ikut-ikutan ditunda karena suasana yg memanas diakibatkan penonton yg mulai 
tidak suka dengan pihak keamanan. Terasa ada kemarahan dari penonton yg 
diarahkan ke pihak keamanan. Mungkin belum bisa disebut Vendetta tapi sudah 
mulai terasa aroma dendam sampai akhirnya pertandingan dihentikan.



Delfiar

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke