Rabu, 19/12/2007 12:00 WIB
Jelang Inter vs Milan
Bukan Derby Saling Membenci
Doni Wahyudi - detikSport

AC Milan
Jakarta - Tak seperti derby lain di Italia, laga AC Milan vs
Internazionale jarang diwarnai bentrok antarsuporter. Buat warga Kota
Milan ini memang bukan perang saudara, tapi perseteruan antaranggota
keluarga.

Maaf jika berlebihan, tapi keindahan sebuah derby di pentas sepakbola
ya adanya memang di kota mode Italia ini. Indah dalam arti sepakbola
yang "murni", tanpa dicampuradukkan dengan bumbu-bumbu lain seperti
politik, sosial, atau agama. Beda misalnya dengan derby di kota Roma,
Glasgow (Skotlandia), atau Madrid (Spanyol), yang kerap membuat tensi
pertandingan melebar sampai ke luar stadion.

Okelah, suatu waktu derby ini pernah dikait-katikan dengan urusan
politik. Inter secara tradisi sempat dianggap representasi kalangan
konservatif yang didukung oleh orang-orang kaya di kota ini. Pemilik
yang sekarang yang juga Raja Minyak Italia, Massimo Moratti, merupakan
orang kiri dalam peta politik domestik yang pernah dicalonkan sebagai
walikota Milan oleh aliansi partai-partai berhaluan tengah-kiri.

Milan sebaliknya. Klub ini pernah diidentikkan sebagai tim kelas
pekerja yang didukung oleh semacam serikat-serikat buruh. "Si Tuan
Besar" Silvio Berlusconi adalah konglomerat media yang juga pemimpin
Forza Italia, partai oposisi beraliran tengah-kanan. Tifosi Milan
tentu amat bangga melihat patronnya itu saat ini menjabat perdan
menteri Italia.

Akan tetapi perbedaan politik di atas sudah basi sekitar satu dekade
lalu. Yang ada saat ini ya tinggal urusan sepakbola. Derby Milan
adalah soal prestise, tentang sentakan cinta domestik warga kota ini.
Jangan heran kalau sampai beberapa jam sebelum kedua tim ini berlaga
pun para Milanisti dan Internisti masih sempat-sempatnya minum bareng
di bar atau kafe yang sama dan saling berkelakar akrab.

"Kami tidak suka satu sama lain, tapi mungkin kami berdua lebih
membenci Juventus," tutur seorang fans Inter. "Memang ada ejekan atau
lelucon di antara kami, tapi tetap ada batasnya. Kami toh tinggal di
jalanan yang sama, bekerja di tempat yang sama, dan bepergian dengan
metro yang sama. Kadang-kadang terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,
tapi itu jarang."

Beberapa hari lalu percikan api perseteruan sempat muncul menyusul
komentar Roberto Mancini soal Kejuaraan Dunia Antarklub yang baru
dimenangi Milan. Tapi pelatih 43 tahun itu kemudian mengklarifikasi
dan menyebut adanya kesalahan interpretasi wartawan dan justru
mengucapkan selamat pada Carlo Ancelotti.

"Saya mengucapkan selamat dan pujian pada Ancelotti dan Milan, karena
banyak jurnalis memunculkan masalah dengan memutar kata-kata saya,"
sahut Mancini.

Dalam beberapa tahun terakhir, insiden paling mengerikan yang terjadi
dalam derby Milan itu adalah kasus pelemparan mercon yang mengenai
kepala Dida di perempatfinal Liga Champions tahun 2005 lalu. Namun
kekesalan yang dirasakan fans Milan karena pemain kesayangannya
dilukai, dan dongkolnya tiffosi Inter karena timnya tersingkir, tak
berlanjut di luar lapangan. Tak ada laporan soal kerusuhan suporter
usai laga yang akhirnya dihentikan di menit 74 itu.

Akhir pekan ini San Siro kembali mempersatukan sebuah keluarga bernama
Kota Milan. Keluarga yang akan beradu urat saat mendukung timnya
masing-masing lalu menjalankan kembali keharmonisan yang memang sudah
tercipta saat melangkah keluar stadion dan berjalan menuju rumahnya
yang mungkin bersebelahan.

Jika orang bilang sepakbola menyatukan warga dunia, maka San Siro
adalah pemersatu warga kota Milan. Di stadion megah berkapasitas
85.700 penonton ini magis sepakbola betul-betul dirasakan
pengunjungnya. Nyala kembang api, gemuruh teriakan suporter,
warna-warni dari aneka kostum dan produk: Well, apalagi yang lebih
indah dari suasana seperti itu? Kenapa harus gontok-gontokan?
(din/a2s)

-- 
Cavaliere
AC Milan atau tidak sama sekal!

Kirim email ke