SETElAH "dihajar" dengan pelbagai macam kondisi olahraga nasional yang
bisa dikatakan terpuruk, mulai dari menunrunnya prestasi bulutangkis
di tingkat dunia, kurangnya atlit junior yang menonjol sampai dunia
sepakbola yang nyaris amburadul dengan kekerasan dimana-mana,
sepertinya akhir tahun 2007 ini harus menjadi refleksi tersendiri
tidak hanya bagi induk masing-masing olahraga saja, tapi juga kapal
besarnya. Ada apa sebenarnya olahraga nasional di tahun 2007 lalu?
Dari sekian banyak poin permasalahan yang pastinya bisa diidentifikasi
secara derail, tentu satu yang bakal mencuat adalah ketidakberdayaan
olahraga Indonesia untuk menciptakan the new strong generation.
Maksudnya jelas, tidak hanya menciptakan pengganti atlit yang sudah
mulai uzur, namun lebih dari itu harus diciptakan juga atlit yang
tangguh baik fisik maupun mentalnya. Namun apa yang terjadi?bisa
dilihat dengan mata kepala bersama, di pelbagai ajang lokal nyaris
selalu dihiasi dengan aksi anarkis atau protes yang terlalu butral.
Akibatnya tidak hanya untuk citra saja, namun juga mengimbas pada si
atlit itu sendiri. Kalau atlit senior mungkin sudah tidak menjadi
masalah lagi, namun bagi atlit yang baru berkembang tentu sisi
traumatik menjadi hal baru bagi mereka. Akibatnya tentu ada dua
kemungkinan, mundur atau terus maju. Nah yang maju ini juga ada dua,
maju karena keterpaksaan dan maju dengan membawa efek psikologis buruk
yang telah menimpanya dan bukan tidak mungkin justru menjadi kelemahan
si atlit itu sendiri.
Karena itulah, berkaca pada pelbagai kegagalan yang menimpa individu,
kelompok/tim dan di multievent, terasa menyakitkan tentu sesumbar yang
tidak terbukti di ajang SEA Games lalu, sudah saatnya momen di tahun
2008 mendatang bisa menjadi patokan sekaligus membangun pondasi cakar
ayam yang mumpuni.
Tercatat hanya ada Piala Thomas dan Uber yang termasuk "bergengsi"
dalam agenda olahraga internasional di tahun 2008 mendatang. Ini tentu
menjadi objek sangat menarik bagi KOI dan induk masing-masing olahraga
untuk memantapkan diri dan menyiapkan sejak dini atlit-atlit
juniornya. Paling tidak momen tahun 2008 yang bertepatan dengan 100
tahun Kebangkitan Mnasional bisa menjadi semangat tersendiri bagi
seluruh elemen untuk berkembang, memasang peluru dan siap tempur di
ajang olahraga dunia. Paling tidak pencanangan juara umum SEA Games
mendatang harus menjadi target minimal untuk memperlihatkan potensi
olahraga Indonesia sesungguhnya. Jangan lagi ada kalimat yang
menyebut,"Mempertahankan peringkat keempat saja sudah bagus,".
Sebenarnya kalimat tersebut tentu menjadi sebuah ironi yang terasa
sangat menyakitkan. Bayangkan kita memiliki sumber daya manusia yang
berlipat-lipat banyaknya dari Singapura bahkan Thailand sekalipun,
namun apa yang terjadi?dalam satu dekade saja kita sudah sangat
ketinggalan kereta dari mereka. Ibaratnya mereka sudah menggunakan
kereta setingkat Taksaka, kita masih saja menggunakan Logawa atau Fajar.
Tahun 2008 juga harus menjadi sebuah implementasi tersendiri bagi
keberanian semua induk olahraga untuk benar-benar mencari dan
menciptakan bibit-bibit baru yang mampu diberangus dalam kesiapan
mental dan fisik mumpuni. Paling tidak, kita bisa berharap di awal
tahun 2009 mendatang kita sudah bisa melihat aksi pengganti Oka
Sulaksana di cabang layar, atau muncul lagi Richard Sam Bera-Richard
Sam Bera yang baru, semoga. Bravo Olahraga Indonesia!!!!



nurfahmi budi
RT 02/RW 07 Kelurahan Wangon
Kabupaten Banjarnegara Jawa Tengah
53417

Kirim email ke