Sharapova - Ana : Sabtu pagi abis sarapan paling enak liat dua cewe paling kece main tenis. Agak heran tadinya kenapa mereka main jam 1.30 siang tengah bolong padahal matahari lagi panas-panasnya.
Biarpun cuma dua set, pertandingannya seru terutama di set pertama. Ana sempat unggul 5-4 (30-15) dengan servis dipegang Sharapova. Dua ball lagi, Ana bakal nutup set pertama. Tapi Sharapova bener-bener 'cool' ga beda sama mukanya yang ga pernah senyum selama pertandingan. Tiga kali in dia dapet untuk nyamain skor jadi 5-5. Sharapova menang karena dia unggul pengalaman dan kematangan mental. Umur 17 tahun udah juara Grand Slam sementara Ana baru menanjak 1,5 tahun terakhir. Dibanding putra, persaingan di putri kayaknya ga sekedar di lapangan. Gue perhatiin setelah pertandingan selesai, Sharapova - Ana ga ngobrol sedikitpun. Pas nerima hadiah pun, Ana ga ngasih pujian buat Sharapova. Sama seperti Hantuchova yang 'gondok' banget waktu kalah dari Ana di semifinal. Masa bunyi sepatu Ana aja diprotes dan jadi alasan kalah. Kalo dari segi fisik, dua-duanya cantik dengan tekstur bodi sedikit berbeda. Sharapova tinggi langsing dengan berat sekitar 58 kg. Sementara Ana lebih berisi. Pas baca berat badannya di statistik tivi, gue rada ga percaya : 69 kg! Apapun, Ana lebih enak dliat. Apalagi selama pertandingan banyak senyum ketimbang nonton Sharapova yang terlalu serius. Djokovic - Tsonga Komentator bilang kalo dua orang ini adalah bintang masa depan tenis. Gue sepakat untuk Djokovic tapi tidak untuk Tsonga. Tsonga ini masih sebatas kejutan dan banyak yang harus dia buktikan. Apalagi pemain-pemain seperti Nadal, Gonzales, Blake masih ngantri untuk gantiin posisi Federer. Diliat dari segi permainan, Tsonga bisa gue ibaratin kayak Mike Tyson di tinju. Powernya besar. Ga perlu bermain cantik asal bisa "mematikan lawan" dengan seketika. Di saat yang tepat, servis dan forehandnya luar biasa kencang dan bikin takjub yang liat. Apalagi badannya tinggi besar. Jadi kalo pas mukul forehand dari garis belakang, efeknya serasa pukulan voli di depan net. Yang bikin dia kalah adalah tidak sabar dan faktor teknis yang masih di bawah Djokovic. Apalagi dari semua call yang dia minta untuk mengoreksi keputusan hakim garis, semuanya salah. Itu yang yang bikin dia makin down. Set terakhir ketika kedudukan 6-6 dan lagi tie break, Tsonga justru bikin double fault dari dua kali servis terburu-buru yang jatuh di luar garis. Setelah hasil di Australia Open ini, muncul pertanyaan apakah era dominasi Federer bakal selesai. Mungkin ada benarnya kalo liat trend tahun 2007 dan awal tahun 2008 ini. Tapi setidaknya, Federer tetaplah pemain yang paling ditunggu untuk diliat permainannya. Menurut gue, belum ada satupun pemain yang bisa menyamai teknik bermain dan bagaimana dia memainkan pertandingan tenis.
