Maap ga pernah onlen sekalinya onlen ngirim OOT dari hasil diskusi sama temen2 
di milis sebelah..

Bukannya pro-Soekarno, soalnya emang ga pernah hidup di jaman beliau, ..
cuma pingin ngasi bahan bacaan sejarah yang bisa jadi jarang orang yang tau..

yang namanya kebenaran akan selalu benar dan yang namanya kebusukan cepat atau 
lambat akan ketahuan juga ..
harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meinggalkan nama.. gitu ya 
peribahasa tempo doeloe :)

cheers..

----- Forwarded Message ----






 
 

 

 

 

 

 


<!--

 _filtered {font-family:Tahoma;panose-1:2 11 6 4 3 5 4 4 2 4;}
_filtered {font-family:"Felix Titling";panose-1:4 6 5 5 6 2 2 2 10 4;}
_filtered {font-family:"Franklin Gothic Demi";panose-1:2 11 7 3 2 1 2 2 2 4;}
/* Style Definitions */
 p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal
        {margin:0in;margin-bottom:.0001pt;font-size:12.0pt;font-family:"Times 
New Roman";}
a:link, span.MsoHyperlink
        {color:blue;text-decoration:underline;}
a:visited, span.MsoHyperlinkFollowed
        {color:blue;text-decoration:underline;}
p
        {margin-right:0in;margin-left:0in;font-size:12.0pt;font-family:"Times 
New Roman";}
span.EmailStyle18
        {font-family:Arial;color:navy;}
_filtered {margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in;}
div.Section1
        {}
-->






  
 

  
 










From: aditia buana
[mailto:[EMAIL PROTECTED] 



Subject: Re: Soekarno vs Soeharto
 




  
 



Gue nggak begitu tau soal ekonomi, tp yg jelas dari dulu gue
nggak pernah respect sama Soeharto...
 






Liat dong gimana dia bisa jadi presiden di Indonesia... buat gue,
Soeharto ini cuma bonekanya Amerika... waktu Soekarno lebih condong ke sosialis
(Soviet), Amerika mulai melihat Indonesia sbg lawan politiknya... memanfaatkan
pemberantasan komunis di Indonesia, Soeharto naik dgn backing Amerika. 

Berapa
orang yg mati di Indonesia waktu pemberantasan G30S/PKI, ada lebih dari 1 juta
orang yg mati, dan tidak semua orang yg mati itu komunis... 

dgn mengorbankan
begitu banyak rakyat Indonesia, Soeharto naik jd presiden... bahkan selama dia
jadi presiden-pun, sudah bukan rahasia lagi kalo siapa aja yg bertentangan dgn
dia akan mati.



 
 






Ini gue kasih tulisan dari WS Rendra, yg gue dapet dari milis
sebelah....
 

  



 






Soekarno VS Soeharto - WS Rendra 
 

  
 






Soekarno - Sejarah yang
tak memihak
 

  
 






Malam minggu. Hawa panas dan angin
seolah diam tak

berhembus. Malam ini saya bermalam di rumah ibu saya. 
 

  
 

Selain rindu
masakan sambel goreng ati yang dijanjikan, saya juga

ingin ia bercerita mengenai Presiden Soekarno. Ketika semua

mata saat ini sibuk tertuju, seolah menunggu saat saat

berpulangnya Soeharto, saya justru lebih tertarik mendengar

penuturan saat berpulang Sang proklamator. 
 

  
 

Karena orang tua saya adalah
salah satu orang yang pertama tama 
 

bisa melihat secara
langsung jenasah Soekarno. 
 

  
 






Saat itu medio Juni 1970. Ibu yang baru
pulang berbelanja,

mendapatkan Bapak (almarhum) sedang menangis sesenggukan.
 






"Pak Karno seda" (meninggal).
 






  
 

Dengan menumpang kendaraan militer
mereka bisa sampai di

Wisma Yaso. Suasana sungguh sepi. Tidak ada penjagaan dari

kesatuan lain kecuali 3 truk berisi prajurit Marinir (dulu

KKO). 
 

  
 

Saat itu memang
Angkatan Laut, khususnya KKO sangat

loyal terhadap Bung Karno. Jenderal KKO Hartono - Panglima

KKO - pernah berkata, 
 






"Hitam kata
Bung Karno, hitam kata KKO. Merah kata Bung

Karno, merah kata KKO".
 






Banyak prediksi
memperkirakan seandainya saja Bung Karno

menolak untuk turun, dia dengan mudah akan melibas Mahasiswa

dan Pasukan Jendral Soeharto, karena dia masih didukung oleh

KKO, Angkatan Udara, beberapa divisi Angkatan Darat seperti

Brawijaya dan terutama Siliwangi dengan panglimanya May.Jend

Ibrahim Ajie.
 

  
 






Namun Bung Karno
terlalu cinta terhadap negara ini.

Sedikitpun ia tidak mau memilih opsi pertumpahan darah

sebuah bangsa yang telah dipersatukan dengan susah payah. Ia

memilih sukarela turun, dan membiarkan dirinya menjadi

tumbal sejarah. 
 






  
 

 The winner takes it all. 
 

Begitulah sang pemenang
tak akan sedikitpun menyisakan ruang 
 

bagi mereka yang
kalah. 
 

  
 

Soekarno harus
meninggalkan istana pindah ke

istana Bogor .
Tak berapa lama datang surat 
dari Panglima

Kodam Jaya - Mayjend Amir Mahmud - disampaikan jam 8 pagi

yang meminta bahwa Istana Bogor harus sudah dikosongkan jam

11 siang.
 






Buru
buru Bu Hartini, istri Bung Karno mengumpulkan pakaian

dan barang barang yang dibutuhkan serta membungkusnya dengan

kain sprei. Barang barang lain semuanya ditinggalkan. 
 






  
 

"Het is niet
meer mijn huis" - sudahlah, ini bukan rumah

saya lagi, demikian Bung Karno menenangkan istrinya.
 






Sejarah kemudian
mencatat, Soekarno pindah ke Istana Batu

Tulis sebelum akhirnya dimasukkan ke dalam karantina di Wisma

Yaso.
 






Beberapa panglima
dan loyalis dipenjara. 
 

Jendral Ibrahim Adjie
diasingkan menjadi dubes di London .

 

Jendral KKO Hartono
secara misterius mati terbunuh di rumahnya.
 






  
 

  
 

Kembali ke kesaksian yang diceritakan
ibu saya. 
 

Saat itu belum banyak yang datang, termasuk keluarga Bung Karno

sendiri. 
 

Tak tahu apa mereka masih di RSPAD
sebelumnya.




 

  
 

Jenasah dibawa ke Wisma Yaso. 
 






Di ruangan kamar yang suram, terbaring
sang proklamator yang 
 

separuh hidupnya dihabiskan di penjara
dan pembuangan kolonial 
 

Belanda. 
 

Terbujur dan mengenaskan.
Hanya ada Bung Hatta (!) dan Ali Sadikin 
 

- Gubernur Jakarta - yang juga berasal
dari KKO Marinir.
 






Bung Karno meninggal masih mengenakan
sarung lurik warna

merah serta baju hem coklat. Wajahnya bengkak bengkak dan

rambutnya sudah botak.
 






  
 

Kita tidak membayangkan kamar yang
bersih, dingin berAC dan

penuh dengan alat alat medis disebelah tempat tidurnya. 
 

Yang ada hanya
termos dengan gelas kotor, serta sesisir buah

pisang yang sudah hitam dipenuhi jentik jentik seperti

nyamuk. 
 

Kamar itu agak luas, dan jendelanya
blong tidak ada gordennya. 
 

Dari dalam bisa terlihat halaman
belakang yang ditumbuhi rumput 
 

alang alang setinggi dada manusia (!).
 






  
 

Setelah itu Bung Karno diangkat.
Tubuhnya dipindahkan ke

atas karpet di lantai di ruang tengah.
 






Ibu dan Bapak saya serta beberapa orang
disana sungkem

kepada jenasah, sebelum akhirnya Guntur Soekarnoputra

datang, dan juga orang orang lain.
 






Namun Pemerintah orde baru juga kebingungan kemana hendak

dimakamkan jenasah proklamator. 
 

Walau dalam Bung Karno berkeinginan agar
kelak dimakamkan 
 

di Istana Batu Tulis,
 Bogor, pihak militer tetap tak mau mengambil 
 

resiko makam seorang Soekarno
yang berdekatan dengan ibu kota .

 






  
 

Maka dipilih Blitar,
 kota kelahirannya sebagai peristirahatan
terakhir.
 






Tentu saja Presiden Soeharto tidak
menghadiri pemakaman ini.
 






Dalam catatan Kolonel Saelan, bekas
wakil komandan Cakrabirawa, 
 






"Bung karno diinterogasi oleh Tim
Pemeriksa Pusat di Wisma Yaso. 
 

Pemeriksaan dilakukan dengan cara cara yang amat
kasar, 
 

dengan memukul mukul meja dan memaksakan jawaban".

 






  
 

"Akibat perlakuan kasar terhadap
Bung Karno,

penyakitnya makin parah karena memang tidak mendapatkan

pengobatan yang seharusnya diberikan. "
 






(Dari Revolusi 1945 sampai Kudeta 1966).
 

  
 






dr. Kartono Mohamad yang pernah
mempelajari catatan tiga

perawat Bung Karno sejak 7 februari 1969 sampai 9 Juni 1970

serta mewancarai dokter Bung Karno berkesimpulan telah 

terjadi penelantaran. 
 

  
 

Obat yang diberikan hanya vitamin B, B12, dan
duvadillan untuk 
 

mengatasi penyempitan darah.

Padahal penyakitnya gangguan fungsi ginjal. 
 






  
 

Obat yang lebih baik dan mesin cuci
darah tidak diberikan. 
 

(Kompas 11 Mei 2006).
 

  
 






Rachmawati Soekarnoputri, menjelaskan
lebih lanjut, "Bung

Karno justru dirawat oleh dokter hewan saat di Istana

Batutulis. Salah satu perawatnya juga bukan perawat. Tetapi

dari Kowad" (Kompas 13 Januari 2008).
 

  
 






Sangat berbeda dengan dengan perlakuan
terhadap mantan

Presiden Soeharto, yang setiap hari tersedia dokter dokter

dan peralatan canggih untuk memperpanjang hidupnya, dan

masih didampingi tim pembela yang dengan sangat gigih

membela kejahatan yang dituduhkan. 
 






  
 

Satu kalipun Soeharto tidak pernah datang
berhadapan dengan pemeriksanya, 
 

dan ketika tim kejaksaan
harus datang ke rumahnya di Cendana, mereka harus

menyesuaikan dengan jadwal tidur siang sang mantan Presiden!
 






  
 

Malam semakin panas. Tiba tiba saja
udara dalam dada semakin

bertambah sesak. Saya membayangkan sebuah bangsa yang 

menjadi kerdil dan munafik. Apakah jejak sejarah tak pernah

mengajarkan kejujuran ketika justru manusia merasa bisa

meniupkan roh roh kebenaran? 
 






  
 

Kisah tragis ini tidak banyak diketahui
orang. Kesaksian tidak pernah menjadi hakiki

karena selalu ada tabir tabir di sekelilingnya yang diam membisu. 
 






Selalu saja ada korban dari mereka yang
mempertentangkan benar atau salah.
 






Butuh waktu bagi bangsa ini untuk
menjadi arif.
 






Kesadaran adalah Matahari, Kesabaran
adalah Bumi.
 






Keberanian menjadi cakrawala
dan Perjuangan adalah pelaksanaan kata kata.
 






(* WS Rendra)



[EMAIL PROTECTED]
wrote:
 




wah kalo gw lebih
cendrung ke pemikiran ekonomi barat ndra, gw kurang sreg

dengan gaya 
sosialis kayak sukarno gitu.

soalnya udah banyak terbukti, kapitalis itu lebih banyak yang berhasil,

banyak kan 
contohnya.

ekonomi pasar kliatannya jauh lebih fair.

ya kalo ada yang bilang ekonomi sosialis lebih bagus ya sah sah aja, tapi

kalo gw cendrung lebih setuju dengan ekonomi pasar,

soalnya udah terbukti bagus, tapi bukan yang di
 indonesia lo ya, di

 indonesia 
sih dirusak oleh kelakuan kelakuan segelintir orang tuh







===
Indra.Gunawan@
wrote:

Kata Sukarno kan ,
beri aku seribu pemuda maka aku akan menggerakkan Gunung,

tapi beri aku 10 orang pemuda yang cinta tanah airnya, maka aku akan

mengguncang dunia.



Kalimat ini lebih kurang sama maksudnya, dengan yang paling kuat di dunia

ini adalah besi, tapi besi kalah dengan api, dan api kalah dengan air, air

kalah dengan angin dan angin kalah dengan gunung, tapi ada yang lebih kuat

dari gunung, dia itu adalah orang yang ikhlas.



Kayaknya Soekarno kalau untuk ketahanan ekonomi dia ngerti, soalnya pada

jaman Soekarno investasi asing ga ada yang boleh masuk sama sekali

katanya," Biarkan barang tambang kita itu tetap di dalam tanah sampai
anak2

bangsa kita sendiri mampu mengolahnya." ide2 yang begini ini sangat

berbahaya bagi visi ekspansif negara lain, mengingat
 Indonesia punya

resources sangat besar untuk keperluan visinya tersebut, oleh karenanya

Soekarno perlu disikat, dan akhirnya disikat
 kan ?



Karena memang sabar itu berat, dan pembangunan ekonomi yang kuat itu perlu

kesabaran ekstra tinggi untuk implementasinya, ditambah kondisi ekonomi

dalam negri yang morat-marit, kekuasaan Soekarno yang memang otoriter

dengan sedikit intrik bisa digulingkan.



Kalau pak Harto, dengan tidak menafikan jasanya, beliau ini sudah menjadi

bagian simulacra, jadi ya permainannya di sekitar situ lah, ditambah pula

pakar2 ekonominya dari Berkeley ,
yang percaya kekuatan pasar yang

menggerakkan ekonomi, betul sih tapi tidak diiringi dengan peningkatan

pembangunan kompetensi ekonomi nasional, jadinya sekedar meminjam uang

untuk menaikkan tingkat konsumsi tapi tidak diiringi dengan sikap mental

untuk bekerja lebih keras, minjemnya bukan buat kerja tapi konsumsi, mark

up dan KKN yang didahulukan, hasilnya krisis yang terjadi belakangan ini

sampai sekarang gak berakhir2, lebih lanjut mengancam keseimbangan alam

pula.






 










      Looking for last minute shopping deals?  
Find them fast with Yahoo! Search.





      
____________________________________________________________________________________
Looking for last minute shopping deals?  
Find them fast with Yahoo! Search.  
http://tools.search.yahoo.com/newsearch/category.php?category=shopping

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke