Ini janji gw ke Daup untuk forward tulisan yg gw bikin dengan latar yg gak 
peduli menang atau kalah. Tulisan ini justru gw tulis waktu Milan kalah, 
artinya unek-unek (isi kepala) ataupun isi hati gak perlu keluar pas lagi di 
atas aja (jangan diterjemahin yg aneh2 ya! :D)



Delfiar

=====================================================================
17 Maret 2008


Dear All Bro n Sis, gw iseng nulis menjelang sholat subuh dan tidur ...

Sebelum Roma vs Milan, gw dah siap kalah atau menang, you know lah kondisi 
Milan skr ...
Cuman kalo kalah dengan cara seperti itu, kemasukan dengan 2 gol mudah, rasanya 
nyesek juga ya ... bener gak bro?!!!
Kenapa nyesek?
Liat aja bek-bek Milan setelah unggul 1-0, bermain bola kok kayak sedang 
bertanam tomat, alias santai, mungkin ingin membuat saos tomat ala Italia, 
gerakan mereka lamban, stagnan dan tidak fokus ...

Pada saat gol pertama mereka seperti sudah melupakan prinsip dasar bermain 
bola. Entah 3 atau 4 pemain hanya memperhatikan bola dan merubunginya, tanpa 
ingat ada pemain lain di sisi lain yg bebas yaitu Giuly. Tidak ada man-to-man 
marking, yang memang selama ini jarang dilakukan Milan karena memang kondisi 
umur tidak memungkinkan untuk itu, tapi paling tidak zona marking mesti jalan 
dong ... ini malah yg ada BALL marking, jadi tersungging gw mikirin ini ...

Giuly menghadirkan kembali mimpi buruk bagi Milan seperti halnya ketika dia 
mencubit Milan sangat keras dengan golnya bagi Barca ketika menyingkirkan Milan 
dari UCL. Sialan neh si kecil cabe rawit, sengatannya terasa sangat pedas di 
seluruh badan Milan, gatal-gatal dan selalu terasa butuh digaruk, seolah-olah 
baru tersentuh buah pohon enau (keterangan untuk ini : baca deh contohnya di 
buku Laskar Pelangi, dan gw sendiri pernah kena buah ini waktu kecil masih SD, 
sengsara dibuatnya jika sudah kena)

Entahlah, tapi rasanya Milan seringkali under estimate pada pemain yg terlalu 
pendek atau terlalu tinggi. Contoh bisa diberikan di Giuly dan Adebayor, atau 
mungkin dulu Papin. Ujung-ujungnya mungkin ada yg bertanya "kenapa Milan gak 
beli aja tuh Giuly dan Adebayor", Papin akhirnya memang dibeli, kan salah satu 
alternatif syarat dan pasal pembelian pemain Milan adalah dia adalah pemain yg 
pernah mempersulit Milan, banyak bukti ...

Pada gol kedua, bek-bek tadi pada kemana? Kok bisa-bisanya si Mirko Vucinic (yg 
mirip mantan bintang Milan, Dejan Savicevic si profesor), lagi-lagi dia yg 
menusuk Milan yang dengan polosnya berdiri bebas dan para bek seperti tersihir 
pemain Roma asal Balkan ini. Jika dulu pernah Inzaghi mempermalukan bek-bek 
pools dari umpan Kaka, semalam Milan terkena karma. Dan jeleknya dalam situasi 
one-on-one melawan kiper dengan tinggi menjulang, jikalau tebakan kiper arahnya 
tidaklah sangat tepat maka hampir pasti akan dimenangkan sang penyerang karena 
lambannya kiper yg menjulang tersebut. Ini mau nggak mau seperti itu, agility 
sang kiperlah yang jadi masalah disini.

Adakah yg memperhatikan permainan Milan berubah drastis menurun dan kedua gol 
terjadi adalah lagi-lagi setelah Milan mengganti Seedorf (kali ini dengan 
Emerson). Hal ini pernah juga terjadi di pertandingan Milan sebelumnya (gw lupa 
lawan siapa, lawan inter-kah?). Jika holding midfielder Milan diganti pada saat 
melawan klub yg seimbang dan dalam posisi punya grip, hasilnya hampir pasti 
kalah. Tidak ada pemain yg men-delay permainan sekaligus menarik perhatian 
lawan. Kaka kemudian sendirian, solitaire dan solitude ditengah sepeninggal 
Seedorf, hanya Kaka yg diperhatikan. "Mudahlah itu" ada di benak pemain Roma.

Kesimpulan untuk itu, untuk kondisi setelah Emerson masuk (dan Seedorf keluar) 
ada 2 catatan untuk efek yg diberikan :
- Lapangan tengah yg tadinya imbang, langsung dikuasai Roma dengan mencolok, 
Kaka bekerja sendirian di tengah sebagai holding midfielder Milan. Ambro 
terlihat tidak balance kali ini, tidak biasanya. Inipun pernah terjadi 
sebelumnya ketika Seedorf diganti si kereta cepat, oom Serginho, di sayap. 
Entah kenapa C.A selalu sudah puas dengan keunggulan 1-0 padahal untuk menjaga 
keuntungan posisi itu yg dibutuhkan adalah tentara-tentara petarung berkaki 
segar dan juga pengalih perhatian semacam si panthera di tengah padang, 
bukannya tembok (Emerson) ataupun pasukan penyusup (Serginho).
- Lapangan tengah terlihat canggung seperti hippopotamus atau rhinoceros yg 
keberatan badan, padahal the real rhino sudah ada di sana (Gattuso). Kebanyakan 
cula badak tidaklah bagus untuk kesehatan, walaupun satu badak tetap perlu 
dijaga kelestariannya di tengah lapangan Milan.

Untuk C.A gw juga punya 2 catatan :
- Pergantian yg selalu tidak tepat, terutama untuk kemenangan yg baru 1-0. 
Entah apakah hanya pergantian Paloschi yg langsung mencetak gol setelah 12 
detik yg pernah bisa dianggap satu-satunya pergantian tepat dari C.A ... entah. 
Capek ngomonginnya.
- Pergantian yg selalu tidak tepat waktunya yaitu selalu telat.. ini sudah 
beberapa kali gw omongin, di tulisan (beberapa kali), yg jelas waktu nonton 
bareng di sebelah Gugun (masih ingat kan Gun) gw pernah juga ngomongin ini 
sampai gw saking kesalnya, waktu nonton di Pasar Festival, dll ... pada saat 
letih, tengah dan belakang terutama butuh kaki-kaki segar. Capek juga ngomongin 
dan ngulangin yg ini lagi. Ngapain masukin pemain di menit 85? Itupun 
pergantian karena terpaksa ... paling bisa lari-lari tanpa penyesuaian diri.

Kemudian perjalanan berlanjut dan hasilnya Kaka menjadi bekerja berlebihan dan 
cedera pinggang tengah (punggung bawah), atau entah apa namanya. Mungkin 
cederanya seperti yg pernah gw alami yaitu tertariknya otot punggung karena 
kerja berlebihan, yg bisa juga mengakibatkan urat/syaraf terjepit. Gw ngalamin 
hal seperti itu waktu ngangkat beban fitness yg berlebihan. Entahlah benar Kaka 
cedera seperti itu, entah iya entah tidak, ini interpretasi pribadi gw aja. 

Jadi kembali ke judul ... C.A pinter atau bodoh ?
Kalo bodoh, tuh 2 pelatih lagi nganggur (ML sama JM), suruh saja salah satunya 
nendang pantat C.A supaya dia dengan besar hati minggir. Apalagi tadi ada 
berita bahwa sang pelatih juara dunia rindu melatih klub. Katanya sih kalo 
melatih di negeri hujan, Inggris, menambah panjang CV dengan portofolio baru 
dalam hal jenis aliran sepakbolanya, tapi rasanya dia akan senang hati melatih 
di Milanello di klub juara dunia dengan para pemain juara dunianya. Lippi juga 
prefer jadi pilihan gw, itu jika C.A memang harus dipaksa pergi.

Jadi, C.A pinter atau bodoh? Tadi malam dia bagi gw sangat-sangat bodoh !!! No 
sorry for Ance lovers ...

*** Sorry tulisannya kepanjangan, ngeluarin unek-unek aja, biar lega, lagian 
dah lama nggak nulis biar bisa latihan ...
*** 'n sorry gak bisa ikutan nonton karena lagi jaga kesehatan, 
mind-body-and-soul ...

Salam merah-hitam,



Delfiar
*** Akhirnya azan subuh juga ... abis itu tidur sampai siang ahhhhh ...



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke