Ternyata Aragones udah belajar gimana caranya mendapatkan kembali
momentum yang hilang. Inget kan gimana Spanyol di Piala Dunia 2006.
Sukses di dua pertandingan pertama penyisihan grup, ngelawan Arab
Saudi cuma nurunin pemain bench. Pas lawan Perancis di 16 besar,
Spanyol kalah. Pengamat bilang itu karena hilangnya peak performance
pemain inti karena jeda pertandingan terlalu lama.

Untungnya kejadian di PD ga terulang. Biarpun lagi-lagi Aragones cuma
nurunin cadangan di pertandingan terakhir grup, pemain-pemain inti
Spanyol nunjukkin performa mereka tetap seperti seharusnya.

Itali di tangan Bang Dona bukan Itali yang juara dunia. Gue liat Itali
yang penuh ketakutan. Mereka cuma sekedar main bertahan dan ngandalin
serangan balik. Pola serangannya juga monoton. Selalu dibangun dari
sisi sayap, umpan lambung ke kotak penalti berharap ada keajaiban dari
si striker mandul Luca Toni. Nyatanya Toni cuma jadi pelengkap. Lebih
sering jatuh, offside atau fault.

Buat Spanyol, hasil kemarin akan menjadi sinyal kebangkitan mereka di
arena internasional. Spanyol bukan lagi si langgapan juara grup.
Mereka kini kandidat juara dan semoga ngelawan Rusia nanti, hasil di
penyisihan bisa diulang. Gue sangat optimis untuk ini.

- daniel -

> Selanjutnya -->
> Gw setuju masalah momentum hilang.
> Tim yang istirahatkan pemain inti, gak bisa kembali lagi ke permainan yang
> bagus mereka punya. Portugal dan Belanda udah kena. Spanyol gw pikir akan
> gitu juga. Sementara Italia dalam kondisi semua serba lancar dan mental
> sangat prima.
>
> Ciaooooooooo
>
> --
> Forza MILAN
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
> 

Kirim email ke