Nama mereknya Super Copa, mulai di buat ketika Aji Santoso bermain di PSM Makassar di akhir era 90an. Tahun 2000an bisnis itu berkembang ketika Aji membela Persema Malang dan dia bisa monitor terus perkembangan bisnisnya. Bahkan di Jawa Timur dia beberapa kali mendirikan kejuaraan antar SSB dengan Sepatu Super Copa sebagai sponsornya. Namun akhir 2003 dan 2004 sejalan dengan penampilan AJi Santoso ketika itu bisnis sepatunya ikut meredup. Namun kabarnya tahun kemarin ia berencana memulai lagi bisnis sepatunya. sekedar informasi, bahan baku produk Super Copa berasal dari produk impor. Berikut berita terkait dari Jawa Pos :
*RADAR MALANG* * * ------------------------------ Kamis, 27 Sept 2007 * Jatuh Bangun Bisnis Mantan Bintang Lapangan Hijau Aji Santoso * Sempat Trauma, Habis Lebaran Rintis Super Copa Lagi Ibarat pergelutan di dunia bola yang penuh naik turun prestasi, begitu juga kehidupan Aji Santoso. Bisnis sepatu yang awalnya sukses perlahan-lahan meredup dan tutup. Kini apa obsesi mantan bintang Timnas Indonesia itu? Yoyon S - L. Firdaus, Malang Mencari rumah Aji Santoso memang tidak begitu sulit. Apalagi, sosok mantan bintang Arema, Persema, dan Timnas PSSI itu cukup terkenal di Perumahan Taman Sulfat, Blimbing. Bertanya kepada satpam perumahan, langsung ditunjukkan rumah bercat kuning dengan kombinasi hijau tua di blok II/1. Rumah Aji terbilang mewah. Ukurannya luas. Di rumah ini, Aji tinggal bersama istrinya, Rini, serta ketiga anaknya: Bella Sabrina Sufri, 11; Mira Andira Sufri, 8; dan Calvin Aji Santoso, 8. Keluarga Aji menempati rumah tersebut sejak 1994. Meski terbilang mewah, Aji terus melakukan perbaikan rumahnya. Seperti ketika Radar berkunjung, timbunan material bangunan menghiasi rumah tersebut. "Maaf Mas, rumah saya masih berantakan karena masih ada renovasi sedikit di belakang," ungkapnya. Ketika masuk ke ruang tamu, terlihat koper yang cukup besar. Kebetulan saat itu Aji hendak bepergian ke Surabaya terkait jabatannya sebagai pelatih sepak bola PON Jatim. Rencananya dia berada di Surabaya selama tiga hari. "Sekarang saya ditugasi menangani tim sepak bola PON. Jadi, saya harus pulang pergi (PP) Malang-Surabaya," tuturnya. Kini hari-hari Aji disibukkan dengan melatih dan melatih. Di samping membesut tim PON Jatim, dia juga tercatat sebagai pelatih Persekam Kabupaten Malang. Kesibukannya itu berbeda dengan tahun 1999 sampai 2004. Aji ketika itu bergelut dengan bola sebagai pemain dan bisnis sepatu. Dia membuka usaha sepatu dengan merek Super Copa. Awal berdirinya, tahun 1999, sepatu produk Aji benar-benar laris manis. Pesanan berdatangan dari mana-mana sampai-sampai Aji kewalahan memenuhinya. Apalagi di Malang. Sosok Aji yang begitu terkenal sangat mendongkrak penjualan Super Copa. Bahkan, sepatu rakitan Aji ini tidak kalah kualitasnya dengan sepatu impor. "Saat itu animo pemain bola untuk memakai sepatu produk saya memang cukup tinggi karena kualitasnya cukup baik di kelas produk lokal, " ungkapnya. Aji menyadari betul pentingnya kualitas. Makanya, bahan-bahan mentah sepatu dia datangkan dari Taiwan. "Saya berpikir kalau sepatu saya tidak berkualitas, bisa-bisa tidak disukai orang," ungkapnya. Super Copa tidak memproduksi sepatu sendiri, melainkan memesan sepatu kepada dua perusahaan: PT Telaga Mas di Pandaan dan PT Rikio di Lawang. Terakhir, ada tiga jenis sepatu yang diproduk Super Copa, yakni sepatu bola dari bahan kulit dengan harga Rp 250 ribu dan sepatu bola dari sintesis dengan harga Rp 150 ribu. Satu sepatu lainnya merupakan sepatu jogging dengan harga Rp 100 ribu. Selama menjalankan roda bisnisnya, Aji tidak melupakan teman-teman dekatnya di Arema. Ada tiga pemain Arema seangkatannya yang diajak untuk membesarkan usaha sepatunya, yakni Yanuar Hermansyah, Jonathan, dan Nanang Hidayat. Ketiganya dijadikan pekerja sekaligus penasihatnya. Yanuar ditempatkan di bagian produksi. Sedangkan Nanang dan Jonathan diletakkan di bagian marketing. Yanuar, misalnya, diajak bergabung dengan perusahaan sepatu Aji pada 2002. "Saya cukup lama di Super Copa. Saya keluar pada 2004. Saat itu kondisi perusahaan tidak berkembang," ungkap Yanuar. Selama bekerja di Super Copa, Yanuar mengaku dibayar Rp 1 juta per bulan mulai dari awal bekerja hingga dirinya berhenti. Kendati dirinya tidak mengalami kenaikan gaji, dia merasa tetap enjoy bisa bekerja dengan Aji. "Dari kerja di Super Copa, saya bisa mengetahui secara detail cara membuat sepatu, termasuk cara berbisnis dan mencari jaringan. Tapi saya masih belum berani untuk memproduksi sepatu karena butuh dana dan risiko besar. Tapi, kalau ada yang mengajak lagi, saya mau ikut," terang mantan kiper Arema tersebut. Sayang, meski kualitasnya bersaing, bisnis sepatu Aji tidak bertahan lama. Super Copa hanya beredar di tengah-tengah masyarakat selama empat tahun. Pada 2004, usaha sepatu itu pun bangkrut. Terpuruknya bisnis itu diakui Aji karena dia kurang total menekuninya. Maklum, perhatian Aji ketika itu terpecah. Dia banyak meninggalkan bisnis sepatu karena sibuk membela klub yang mengontraknya maupun timnas. Aji tercatat pernah membela beberapa tim di luar Malang seperti Persebaya Surabaya dan PSM Makassar. Makanya, dia banyak meninggalkan Malang yang berarti juga meninggalkan bisnisnya.Manajemen yang dia beri kepercayaan mengelola bisnis tersebut juga tak mampu mempertahankan kelangsungan usaha. "Saya benar-benar terpukul saat bangkrut karena mengalami kerugian banyak," ucapnya. Aji pun sempat kapok untuk merintis bisnis lagi. Dia memilih terus menekuni dunia bola. Makanya, dia mengikuti kursus pelatih begitu menyatakan pensiun sebagai pemain pada 2004 (membela Arema di divisi satu). Keinginan Aji menjadi pelatih terwujud sampai sekarang. Sebelum menukangi tim PON Jatim dan Persekam sekarang, Aji pernah membesut Persikoba Kota Baru, Kalimantan. "Saya takut merintis usaha lagi," ujarnya. Namun, seiring beranjaknya waktu, perlahan-lahan trauma Aji terkikis. Dia mulai berpikir lagi untuk meneruskan bisnis sepatu. "Mungkin usai Lebaran, saya akan kembali menekuni bisnis sepatu," tutur mantan kapten Timnas PSSI ini. Niat Aji untuk kembali ke bisnis sepatu didasari pemikiran bahwa tak mungkin selamanya dia berkarir di sepak bola. Ia memang mencintai sepak bola. Namun, siapa tahu cinta itu bertepuk sebelah tangan sehingga dia memikirkan upaya lain agar asap dapur terus mengepul. "Sekarang bola bisa menghidupi saya dan keluarga saya. Tapi, bagaimana nanti saya di masa tua," terangnya. Tentu saja, Aji bakal lebih total menekuni bisnis sepatu ini. Artinya, manajemen benar-benar dia persiapkan agar usahanya tidak bangkrut lagi. "Kebangkrutan usaha saya dulu memberikan pelajaran yang berharga buat saya," ungkapnya. Apakah kalau lebih total terjun ke bisnis, berarti dia segera pensiun sebagai pelatih? Ditanya begitu, Aji hanya tersenyum. "Ya, lihat saja nanti. Pokoknya doakan bisnis saya lancar dan maju," ucap dia. (*) Pada 25 Juni 2008 16:12, heye <[EMAIL PROTECTED]> menulis: > [h] > kalo di indonesia gimana? > Yg gw inget, Aji Santoso pernah punya pabrik sepatu bola, merk coppa, > CMIIW... > > ..::[heye]::.. > > > On 6/25/08, Reri Perdana S <[EMAIL PROTECTED] <rerips%40gmail.com>> wrote: > > On 6/25/08, Frely Pakan <[EMAIL PROTECTED]<frely%40jogjamultimedia.com>> > wrote: > > > >> jangankan beckham, yang opa-opa kek Fergie aja yang gajinya gak segede > >> beck > >> investasinya bertebaran di mana-mana. mulai dari kuda no 1 di dunia yang > >> sempat jadi kasus dulu, ampe punya perusahaan investasi properti juga > plus > >> opa fergie juga punya investasi di e-business. > >> kalo gak salah website reservasi terbesar di eropa.lupa namanya.. table > >> top > >> ato apalah... > >> > >> > > Ini cerita dari North America Sports > > > > 1. http://www.briancuban.com/why-athletes-go-broke/ > > 2. 60% of NBA players will be broke within 5 yrs of retirement > > http://www.thestar.com/article/299119 > > > > Di NBA Minimum Salary per season untuk 1 orang pemain adalah sekitar > > 400 ribu USD tergantung sudah berapa musim dia di NBA. Tapi statistik > > itu benar adanya.. > > Terakhir 2 pemain yang filed for bankruptcy adalah Jason Caffey (ex > > Bulls & Bucks) dan Latrell Sprewell (Knicks & Wolves). Sprewell adalah > > starter, dan di Knicks dia sempat punya gaji diatas 7 juta dollar per > > season. > > > > Cuma buat perbandingan aja.. > > --rr-- > > > > [Non-text portions of this message have been removed]
