Betul itu. Italia setelah kalah dari Belanda, mengganti pemain belakang penyebab kekalahan tersebut yaitu Mat-terasi dengan Chiellini (bacanya : kiyelini) dan hasilnya segera terlihat. Italia - Bld : 0 - 3 (90 menit) Italia - Rom : 1 - 1 (90 menit) Italia - Prc : 2 - 0 (90 menit) Italia - Spa : 0 - 0 (120 menit)
Ketika lawan Spanyol, Buffon dicecar habis sama penyerang Spanyol tapi cuma bisa nyaris bobol, tetap nggak bobol toh ... mungkin itulah beda Buffon dan Akinfeev (gw denger bacanya akinfeyef ya?). Nah, setelah 2 centerback baru mulai dari pertandingan kedua, Italia telah menemukan pertahanan terbaiknya. Mulai dari kebobolan 3 gol, 1 gol, dan kemudian di 2 pertandingan lain tanpa gol, bahkan oleh Spanyol selama 120 menit yg biasanya Spanyol bisa menggelontor gawang lawan dengan 3-4 gol. Jerman pun bisa dikasih 1 ketupat yg telak. Walaupun Spanyol menguasai 120 menit itu, tapi terbukti lini belakang Italia telah kembali, dan jangan sebut itu Catenacio karena mereka tidak lagi menggunakan 1 libero tapi koordinasi 2 centerback saja. Bagi gw kesimpulannya adalah lini belakang Italia bagus, koordinasi Buffon dan 4 bek terbukti settingannya pas. Sayang ke-atraktifan poros Buffon-Chiellini tidak tersambung ke depan. Dua poros mati, poros di tengah dan penyerang, depannya malah ancur abis. Nggak ada striker yg bikin gol adalah bukti telak. Nggak mau bawa Inzaghi yg sedang hangat pantatnya (tidak mungkin dia bisa duduk manis di bangku cadangan dengan koleksi golnya di beberapa pertandingan terakhir), nggak mau coba Boriello yg 3 besar di capo, masang Del Piero hanya di beberapa sisa menit pertandingan. Apa yg ada di kepala Dona-Doni sehingga begitu kerasnya dia mempertahankan Toni yg ternyata paling layak diberi gelar melempem selesai diperas tenaganya di Muenchen? Agak keluar dari topik dikit : Tapi apapun itu, bagi penyuka Italia ambil sisi positifnya. Telah lahir satu tiang baru bagi poros permainan Italia, Chiellini. Betul-betul penerus Baresi dan Nesta jika dia bisa menjaga dan meningkatkan permainannya. Ditambah Buffon maka yg kemudian harus diperhatikan Lippi adalah mengembalikan lini tengah dan depan Italia. Kemudian untuk (hanya) 1-2 tahun ke depan, Nesta dan Totti harusnya masih bisa ditarik ke timnas, untuk kemudian dicarikan penerusnya. Penerus Nesta artinya pendamping Chiellini, penerus Totti haruslah pemain yg bisa terlihat besar karena perannya yg besar. Lippi bisa melakukannya karena 3 hal. Pertama, dia pernah melakukannya. Kedua, menghabiskan umur kepelatihannya di klub-klub besar dan dengan sendirinya sering menangani bermacam tipe pemain termasuk pemain-pemain besar dan ber-ego tinggi. Ketiga, dia lebih dihormati hal yg kedua tadi, dia punya kharisma, yg belum dipunyai Dona-n-Doni. Kembali ke topik, itulah beda Buffon dan Akinfeev, kematangan berkoordinasi dengan the-flat-four (no libero) of the back. Dan gw setuju bahwa kualitas penyelamatannya beda. Delfiar *Akhirnya bisa duduk manis lagi n balas email teman2 lagi sekembali dari anak perusahaan. Sayang justru saat teman-teman sedang bobo manis, hehehe* ----- Original Message ----- From: bAKT To: [email protected] Sent: Tuesday, July 01, 2008 11:41 AM Subject: Re: [BolaML] Best Team...Re: Xavi Pemain Terbaik Euro mungkin kualitas penyelamatannya yg beda, membantu tim apa enggak. buffon sedikit, karena tendangan yg mengarah ke dia juga sedikit. :D buffon nyerah cuma karena adu penati. Duddy Heryudi wrote: > Okelah Akinfeev kebobolan banyak gol, tapi hal itu jgn dilihat dari kesalahan dia semata. > Lihat penyelamatan2 yg dia lakukan, jumlahnya lebih dari 2x lipat yang bisa Buffon lakukan buat Italia. > > Saves : > - Akinfeev : 35 (7 per game) > - Buffon : 17 (4.25 per game) . [Non-text portions of this message have been removed]
