Ada blog dari seorang teman penggemar Lega Calcio, mungkin bisa menjadi
referensi tentang Ultras dan sedikit cerita tentang bubarnya FDL (dari
sumber lain).

http://bangunsuporter.blogspot.com/2007/11/gabriele-sandri-dan-suporter-anonim.html

*"As an ultra I identify myself with a particular way of life. We are
different from ordinary supporters because of our enthusiasm and excitement.
This means, obviously, rejoicing and suffering much more acutely than
everybody else ".*

Nukilan kalimat dari seorang anggota Brigate Rossonere, salah satu ultras AC
Milan, membantu kita untuk mengenali fenomena ultras. Ultras bukanlah
sekadar kumpulan suporter (tifosi) biasa melainkan kelompok suporter fanatik
nan militan yang mengidentifikasikan secara sungguh-sungguh dengan segenap
hasrat dan melibatkan dengan amat dalam sisi emosionalnya pada klub yang
mereka dukung.

Ultras mempelopori suporter yang amat terorganisir (highly organized) dengan
gaya dukung 'teatrikal' yang kemudian menjalar ke negara-negara lain. Model
tersebut sekarang telah begitu mendominasi di Prancis, dan bisa dibilang
telah memberi pengaruh pada suporter Denmark 'Roligans', beberapa kelompok
suporter tim nasional Belanda dan bahkan suporter Skotlandia 'Tartan Army'.

Model tersebut masyhur karena menampilkan pertunjukan-pertunjukan
spektakuler meliputi kostum yang terkoordinir, kibaran aneka bendera,
spanduk & panji raksasa, pertunjukan bom asap warna-warni, nyala kembang api
(flares) dan bahkan sinar laser serta koor lagu dan nyanyian hasil
koreografi, dipimpin oleh seorang CapoTifoso yang menggunakan megaphones
untuk memandu selama jalannya pertandingan.

Dalam tradisi calcio, ultras adalah "baron" dalam stadion. Mereka menempati
dan menguasai salah satu sisi tribun stadion, biasanya di belakang gawang,
yang kemudian lazim dikenal dengan sebutan curva. Ultras tersebut menempati
salah satu curva itu, baik nord (utara) atau sud (selatan), secara konsisten
hingga bertahun-tahun kemudian. Utras dari klub-klub yang berbeda
ditempatkan pada curva yang saling berseberangan. Selain itu, berlaku aturan
main yang unik yaitu polisi tidak diperkenankan berada di kedua sisi curva
itu.

Kelompok Ultras yang pertama lahir adalah (Alm.) Fossa dei Leoni, salah satu
kelompok suporter klub AC Milan, pada tahun 1968. Setahun kemudian pendukung
klub sekota sekaligus rival, Internazionale Milan, membuat tandingan yaitu
Inter Club Fossati yang kemudian berubah nama menjadi Boys S.A.N (Squadre
d'Azione Nerazzurra). Fenomena ultras sempat surut dan muncul lagi untuk
menginspirasi dunia dengan aksi-aksi megahnya pada pertengahan tahun
1980-an.

Fenomena ultras sendiri diilhami dari demontrasi-demontrasi yang dilakukan
anak-anak muda pada saat ketidakpastian politik melanda Italia di akhir
1960-an. Alhasil, sejatinya ultras adalah simpati politik dan representasi
ideologis. Setiap ultra memiliki basis ideologi dan aliran politik yang
beragam, meski mereka mendukung klub yang sama. Ultras memiliki andil
"melestarikan" paham-paham tua seperti facism, dan komunism socialism.

Mayoritas ketegangan antar suporter disebabkan oleh perbedaan pilihan
ideologis daripada perbedaan klub kesayangan. Untungnya, dalam tradisi
Ultras di Italia terdapat kode etik yang namanya Ultras codex. Salah satu
fungsi kode etik itu "mengatur" pertempuran antar ultras tersebut bisa
berlangsung lebih fair dan "berbudaya". Salah satu etika itu adalah dalam
hal bukti kemenangan, maka bendera dari ultras yang kalah akan diambil oleh
ultras pemenang. Kode etik lainnya ialah, seburuk apapun para tifosi itu
mengalami kekejaman dari tifosi lainnya, maka tidak diperkenankan untuk
lapor polisi.

Dewasa ini, ultras kerap dipandang sebagai lanjutan atau warisan dari
periode ketidakpastian dan kekerasan politik 1960-an hingga 1970-an.
Berbagai kesamaan pada tindak tanduk mereka disebut sebagai bukti dari
sangkut paut ini. Kesamaan-kesamaan itu tampak pada nyanyian lagu - yang
umumnya digubah dari lagu–lagu komunis tradisional - lambaian bendera dan
panji, kesetiaan sepenuh hati pada kelompok dan perubahan sekutu dengan
ultras lainnya, dan, tentunya, keikutsertaan dalam kekacauan dan kekerasan
baik antara mereka sendiri dan melawan polisi!

*Che Guevara & Palu Arit*
Bentrok dengan polisi menjadi salah satu tabiat asli ultras. Bagi ultras,
polisi adalah hal yang diharamkan alias A.C.A.B (All Cops Are Bastar*s).
Sebulan sebelum Sandri terbunuh, muncul klaim dari pihak polisi yang
menyatakan bahwa tak kurang dari 268 kelompok ultra dengan aspirasi politik,
semuanya memiliki semangat kebencian pada polisi. Selain itu, masih menurut
polisi, mayoritas kelompok tersebut berhubungan dengan gerakan ekstrim kanan
yang fasis.

Tak hanya polisi, manajemen klub, staff pelatih dan bahkan pemain juga
pernah mengalami perlakuan tidak menyenangkan dari ultras. Beberapa kelompok
Ultras dalam menjamin dukungannya (terutama dalam pertandingan tandang),
memaksa klub untuk memberi jatah tiket gratis, keuntungan perjalanan, dan
bahkan hak atas merchandise. Ketegangan dengan pihak klub kerap berujung
boikot dukungan pertandingan di kandang.

Pelatih atau manajer yang mundur (bukan karena dipecat manajemen klub)
biasanya adalah produk dari tekanan ultras. Dari pihak pemain, Christian
"Bobo" Vieri pernah mengalami teror fisik dari ultras Inter, termasuk
dirusaknya salah satu properti bisnisnya, karena dianggap berkurang kadar
loyalitasnya pada tim.

Dengan kemegahan dan kesuramannya ultras adalah fenomena khas Italia,
representasi masyarakat Italia, dan identitas calcio. Seperti halnya
kualitas Lega Serie A yang menjadi kiblat dunia sepak bola, seperti sistem
catenaccio yang mengilhami banyak pelatih di dunia, maka aksi ultras di
stadion pun menjadi rujukan dan referensi bagi suporter-suporter negara
lain, termasuk kelompok suporter di Indonesia.

*Suporter Indonesia Rasa Ultras*
Suporter di Indonesia sedang berada dalam periode bertumbuh. Dalam lima
tahun terakhir ini, muncul kelompok-kelompok suporter terorganisir. Suatu
fenomena yang berdampak amat positif bagi perkembangan sepak bola nasional.
Kehadiran kelompok suporter ini sedikit banyak merubah gaya dukung dan pola
perilaku penonton di lapangan. Secara keseluruhan, berdampak pada industri
sepak bola nasional yang lebih semarak dan berwarna.

Tak bisa dipungkiri aksi-aksi kreatif kelompok suporter di Indonesia ini
mengadopsi gaya suporter luar negeri. Meski di kemudian hari, terjadi proses
kreatif dengan lebih banyak menampilkan produk budaya lokal. Suporter luar
negeri yang menginspirasi itu bisa dari Barras Bravas (Argentina/Amerika
Latin), Roligan (Denmark), Tartan Army (Skotlandia) dan tentunya Italian
Ultras!

Kentalnya budaya ultras bisa dilihat dengan teramat jelas dari atraksi
kelompok suporter kita di lapangan. Mulai dari menempati sisi tribun
tertentu meski tidak selalu di belakang gawang. Namun yang konsisten di
sekitar belakang gawang diantaranya yaitu Slemania (PSS Sleman), dan
Brajamusti (PSIM Jogjakarta), sedangkan beberapa kelompok suporter lainnya
lebih suka di tribun tengah menghadap kamera!

Dirijen seperti Yuli Sumpil yang sohor itu adalah manifestasi seorang
CapoTifoso. Yuli memiliki wibawa seorang CapoTifoso, apabila ia
memerintahkan untuk melakukan suatu gerakan maka akan dipatuhi oleh suporter
termasuk (seandainya) memerintahkan mengintimidasi pemain lawan dengan
lemparan benda-benda, tetapi apabila ia melarang, maka tidak ada satupun
suporter yang berani melawannya.

Belum lagi kostum yang terkoordinir, dan bentangan spanduk yang di
pinggir-pinggir lapangan adalah rasa ultras pada suporter Indonesia.
Sayangnya, prestasi tim nasional dan klub-klubnya tak semanis prestasi
Squadra Azurri dan wakil-wakil Serie A di Eropa. Pahit getir sepak bola
Indonesia terutama sekali saat menilik kelakuan oknum pengurus dibawah
kepemimpinan Yang "Terhormat" Nurdin Halid!

[quote]
*Cerita tentang bubarnya FDL
*Di sepakbola Italia, Ultras dikenal sebagai Tuhan didalam stadion,
merekalah yang berkuasa. Biasa bertempat di tribun di belakang garis gawang,
dimana di tribun tersebut memiliki kekhususan, yaitu polisi tidak
diperkenankan berada di tribun ini atau muncul masalah. Seperti kita lihat
pada partai derby, Roma - Lazio, dimana ultras dapat membatalkan
pertandingan dengan isu ada anak kecil yang ditembak polisi.

Di Italian ultras ini, mereka memiliki tradisi, yaitu pertempuran antar grup
ultras, artinya sah-sah aja kalo salah satu grup ultras berkelahi dengan
grup ultras lainnya, dan sebagai bukti kemenangan, maka bendera dari grup
ultras yang kalah akan diambil oleh sang pemenang. Kode etik dari ultras
lainnya ialah, seburuk apapun para tifosi ini mengalami kekejaman dari
tifosi lainnya, maka tidak diperkenankan untuk lapor polisi.

Hal inilah yang membuat salah satu grup ultras Milan yaitu Fossa Dei Leoni
(FDL) dinyatakan bubar, karena menjelang pertandingan Milan melawan Juventus
beberapa musim yang lalu, seorang tifosi garis keras Milan melambaikan
bendera Viking Juve.
http://www.tifonet.it//fotousr2/1394_31102005134730.jpg
Dalam tradisi ultras Italia, apabila ada grup tifosi lain yang memiliki
flags dari musuhnya, maka berarti bahwa grup tifosi tersebut berhasil
menaklukan atau mempermalukan musuhnya tersebut, tetapi ada syaratnya,
bendera tersebut bukan diperoleh dari dicuri, atau diambil tanpa
sepengetahuan grup ultras lawan tersebut melainkan harus dari open fight.

Masalah timbul, karena tifosi FDL ini memperoleh bendera Viking JUVE bukan
dari open fight, melainkan dari menemukan di jalan. Viking JUVE tidak terima
dengan hal tersebut, sehingga mereka mencegat tifosi Milan di Eindhoven
setelah partai liga Champions PSV - Milan, mereka mencegat dengan
menggunakan senjata tajam dan berhasil merebut bendera FdL.
http://www.vikingjuve.com/foto/0506milanju.jpg

Timbul masalah, karena hal tersebut, FdL lapor polisi, padahal dalam kode
etik italian ultras, polisi adalah hal yang di haramkan alias A.C.A.B (All
Cops Are Bastar*s). FdL semakin mendapat tekanan dari grup tifo Milan yang
lainnya, seperti Brigate Rossonere, sehingga grup tifosi tertua ini (1968)
menyatakan mundur dan membentuk grup baru yaitu Guerrieri Ultras. Banyak
yang bilang, bubarnya FdL juga disebabkan konflik internal, selama ini FdL
lah yang berada di belakang aksi koreografi tifosi Milan, BRN ingin
mengambil peran itu.

Kekerasan juga menjadi hal yang buruk dalam sejarah ultras di Italia, tetapi
diluar itu, mereka juga memiliki kode etik tersendiri dalam kehidupannya.

Biasanya grup ultras akan bertempat di suatu tribun di stadion di Italia,
dan dipimpin oleh seseorang yang disebut CapoTifoso. Masalah timbul apabila
ada seseorang (diluar grup ultras) yang telah memiliki tiket resmi, dan
sudah antri untuk masuk ke tribun yang kebetulan ditempati ultras dan
mendapat tempat yang nyaman, tetapi ketika grup ultras masuk, maka orang
tersebut akan diusir dari tempat duduknya, memang tidak fair. Seorang
CapoTifoso juga memiliki kekuatan tersendiri di tribun tersebut, apabila ia
memerintahkan untuk melempar benda-benda kelapangan, maka akan dilemparkan
benda tersebut ke lapangan, tetapi apabila ia melarang, maka tidak ada
satupun tifosi yang berani melawannya.
[/quote]

-- 
Cavaliere
AC Milan atau tidak sama sekal!


[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

HAPUS BAGIAN EMAIL YG TIDAK PERLU SEBELUM ME-REPLY.

==========================================================
Milis Tabloid BOLA
Untuk KELUAR DARI MILIS INI. Kirim Mail kosong (tanpa subject) ke alamat [EMAIL 
PROTECTED]
==========================================================Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/bolaml/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/bolaml/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke