Sebagai warga yang tinggal di Kaltim saya sangat kecewa juga dgn hal ini

 

Bahkan berita olah raga di TV swasta Indonesia mgkn hanya 2% berita dgn
pesta olahraga Indonesia ini

Tapi hari ini saya akan pergi menonton Pembukaan PON meski kurang
publikasi tapi mungkin sekali seumur hidup saya

 

He...heee

________________________________

From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf
Of Stevie G
Sent: Friday, July 04, 2008 11:51 PM
To: [email protected]
Subject: [BolaML] Fw: [Ada Olahraga di Mataku] Indonesia, sambutlah:
PEKAN OLAHRAGA NASIONAL XVII 2008

 

ada yang tau besok ada pembukaan PON? sori yah kalo kesannya kayak
promosi (padahal emang iyah ;p )

----- Original Message ----- 
Liga sepakbola di belahan dunia sono sudah selesai (sebagian mungkin
masih, tapi tidak terlalu diperhatikan). Pergelaran Piala Eropa baru
saja menelurkan juara baru. Balap motor Grand Prix dan mobil Formula-1
silih berganti mengisi kalender olahraga dunia, Indonesia, bahkan blog
ini. Namun, sadarkan kita semua bahwa perayaan olahraga terbesar di bumi
Indonesia akan dilangsungkan esok hari?

Hingar bingar olahraga dunia internasional begitu melenakan kita sebagai
penikmat di Indonesia, sehingga walaupun sampai sekarang masih bertaraf
sebagai "penonton", bukan "pelaku", kita terus mengikuti, bahkan rela
mengadu urat "maju tak gentar membela yang benar" (menurut anggapan
masing-masing) demi sesuatu yang mungkin berada jauh di luar jangkauan
kita. Dan saat Pekan Olahraga Nasional (PON) XVII akan digelar di
Kalimantan Timur, akankan ada pasang mata sebanyak yang menoleh ke pesta
sepakbola Eropa yang baru saja selesai dua minggu lalu itu?

PON tidak bisa dipungkiri merepresentasikan keadaan dunia olahraga
Indonesia yang paling sahih, sekaligus menjadi potret pembangunan. Yang
pertama mungkin masuk di akal, tapi yang kedua? Sejarah mencatat, bahwa
sejak masa pemerintahan "Bapak Pembangunan Indonesia", hanya sekali (dan
itu pun di masa-masa awal, dimana keputusan itu mungkin sudah dibuat
sebelumnya) PON diadakan di luar Jakarta. Penyelenggaraan pesta olahraga
se-Indonesia yang tersentralisasi seperti ini memberikan kesan bahwa
pembangunan di masa itu terlalu berpusat di ibukota, sehingga tempat
lain tidak mendapatkan kesempatan untuk menjadi tuan rumah. "Menjadi
tuan rumah" bukan sekedar "kesempatan", tapi lebih kepada kesiapan
sarana dan prasarana kota yang ditunjuk. Jika kota-kota di luar Jakarta
tidak mendapat kesempatan, itu artinya karena mereka belum mampu
menyiapkan sarana olahraga berskala internasional yang bisa digunakan
sebagai sarana berkompetisi guna mendapatkan atlet-atlet berskala
internasional yang nantinya akan mampu mengharumkan nama bangsa.
--cut---



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke