UEFA Bantah Soal 'Perbudakan' Doni Wahyudi - detikcom Zurich, Pernyataan Sepp Blatter soal adanya 'perbudakan' di sepakbola tak didukung "anak buahnya" sendiri. UEFA dengan tegas membantah kalau pesepakbola disamakan seperti budak belian.
"Akan sangat penting untuk diingat oleh orang kalau dalam semua sistem perbudakan tak ada yang namanya gaji," ungkap Direktur Komunikasi UEFA, William Gaillard, seperti diberitakan FoxSport. Menyusul perseteruan panjang Manchester United dan Real Madrid untuk memperebutkan Cristiano Ronaldo, Presiden FIFA, Sepp Blatter, kemarin malah mengeluarkan pernyataan kontroversial. Selain meminta MU melepas CR7, dia juga mengandaikan apa yang terjadi pada Ronaldo dan pemain lain yang tak diizinkan pergi ke klub idamannya sebagai sebuah bentuk perbudakan. Komentar tersebut langsung mendatangkan reaksi keras dari banyak pihak. Publik dan media di Inggris menyebut kalau sebagai Presiden FIFA, Blatter tak seharusnya berkomentar seperti itu. "Terlihat kalau kedua klub dan sang pemain mencoba menegosiasikan keluarnya si pemain sebelum kontrak berakhir. Itu konsekuensi Bosman ruling - tak ada yang bisa kita lakukan dengan hal itu," lanjut Gaillard. Berbeda dengan Blatter, Gaillard malah menyebut pemain kini punya kuasa yang sangat besar atas nasibnya sendiri. Dengan gaji besar yang mereka dapat, kekuatan tawar pesepakbola jauh meningkat dibanding tahun-tahun sebelumnya. "Jelas sekali terlihat kalau pesepakbola saat ini lebih memiliki banyak power dibanding 20 tahun lalu. Tak diragukan pula kalau agen (pemain) juga lebih memiliki kekuatan dibanding 20 tahun lalu. Benar kalau gaji (pemain) sudah mulai tak terkendali. Banyak klub sudah menyadarinya," pungkas Gaillard. Menyebut pesepakbola sebagai budak memang sangat tidak tepat. Lihatlah Cristiano Ronaldo yang dibayar 120.000 poundsterling atau Rp 2,1 miliar setiap pekan. Itu belum termasuk kontrak dengan sponsor yang nilainya bisa berpuluh kali lipat dari gaji serta bonus yang didapat.
