[rudy]
Gw punya firasat 2 tahun lagi Mancini bakalan balik ke Inter Milan, yah
mungkin itu juga dirasakan Mancini makanya dia sekarang lebih seneng
ngurusin hotel dan mungkin menunggu apa yang akan terjadi di Appiano
Gentile.

Ciao
[/rudy]

Senin, 28/07/2008 10:52 WIB
Masihkah Mourinho Spesial?

Milan - Jose Mourinho pernah dengan sedikit congkak menjuluki dirinya
sebagai The Special One. Itu di Inggris. Dengan kini bekerja di Italia,
masihkah Mourinho bisa disebut spesial?

Tangan dingin dalam meracik sebuah tim, ditambah dengan prestasi mengkilat,
dan plus bonus gemar mengumbar kontroversi menjadikan Mourinho sosok yang
menarik jadi bahan pemberitaan.

Italia tentu tidaklah sama dengan Inggris. Kesuksesan Mourinho ketika
meracik Chelsea adalah sejarah. Di taman bermain barunya bersama Inter
Milan, Mourinho bisa disebut anak bawang.

Seperti yang diyakini oleh Fabio Capello, orang Italia yang mengarsiteki
timnas Inggris. "Saya tak berpikir dia akan melakukan sesuatu yang spesial.
Yang akan dia ubah hanya satu persen," katanya.

Capello boleh berkata seperti itu. Tapi tidak menurut anak-anak asuh
Mourinho di Inter. Menurut Mario Balotelli dan kapten kesebelasan, Javier
Zanetti, Mourinho membawa pendekatan berbeda. Sementara bagi Esteban
Cambiasso, metode latihan Mourinho membuat Nerazzurri kelelahan.

Mourinho menguasai bahasa Italia dengan sangat fasih, sama dengan empat
bahasa lainnya (Portugal, Inggris, Spanyol dan Prancis). Ia bahkan memberi
keterangan pers di hari pertamanya di Inter dalam bahasa Italia yang nyaris
sempurna. Bagaimanapun, pria 45 tahun itu mengakui bahwa dirinya memang
masih perlu belajar banyak.

"Ada banyak ahli strategi hebat di Italia. Saya di sini untuk belajar dan
bukan bertingkah seperti seorang profesor," katanya kepada SkySports.

"Mereka yang berpikir bahwa mereka mengerti segalanya benar-benar tak
terdidik. Saya ingin belajar sesuatu yang baru setiap hari. Itulah tipe
saya."

Sebuah retorika belaka? Bisa jadi. Karena belum genap sebulan di Italia,
Mourinho sudah berani membuat gara-gara dengan Carlo Ancelotti, pelatih AC
Milan yang pernah mencelanya karena Mourinho bukan mantan pesepakbola
jempolan. Mourinho tampaknya tipe seorang yang bisa memaafkan namun sulit
melupakan.

Menyitir kalimat Arrigo Sacchi --mantan pelatih Milan yang juga bukan eks
pemain hebat yang pernah berkata bahwa untuk jadi joki, seseorang tak harus
pernah menjadi kuda balap--, Mourinho mencerca balik Ancelotti. "Dokter gigi
saya hebat, tapi dia tak pernah sakit gigi," ujarnya bertamsil.

Saat ini, jelas Mourinho belum bisa dibilang spesial dalam arti prestasi.
Pembuktian ke-spesial-an dirinya baru akan bisa dilihat saat Seri A nanti
menyelesaikan 38 pertandingannya dalam satu musim.

Meski demikian, spesialnya Mourinho sedikit banyak tercermin dari caranya
bersikap. Di satu sisi, ia tak segan-segan mengumbar komentar pedas namun
juga di sisi lain mengakui dirinya tak lebih dari seorang 'anak baru' yang
tak berpengalaman.

Mourinho memberi sentuhan intelejensia kepada sepakbola. Ia terkadang
arogan, tapi kemudian berubah kembali jadi humble.

"Sebuah kehormatan bagi saya bekerja di Italia dan berhadapan dengan tim-tim
yang memiliki pelatih hebat," tukasnya. "Hari di mana saya berpikir saya
tahu segalanya dan tak ada lagi yang harus dipelajari adalah hari di mana
saya berhenti melatih."

( arp / ian )

-- 
Cavaliere
AC Milan atau tidak sama sekal!


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke