--- El vie 19-sep-08, [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]> escribió:
Sebutlah pula misalnya temuan gw bahwa di sepanjang jalan melewati beberapa daerah Sumatera Selatan akan menemukan bahwa banyak orang malas, maaf no offense. Kerjaan mereka sehari-hari adalah pagi-pagi mandi, selesai mandi berjemur di depan rumah panggung yg tangganya dari tembok sampai siang, bahkan sering laki-perempiwi dengan pakaian seadanya. Laki tanpa baju - hanya celana dan sarung, sedang prempiwi-nya pake kemben ... jarang yg pake baju bener-bener rapi dan santun. Tapi dari sana bisa ditarik kesimpulan bahwa ada korelasi antara sifat malas mereka yg terlihat dengan kondisi kehidupan mereka yg juga terlihat (rumah dan kondisi mereka). Itu gw temui terutama di sekitar daerah sungai Ogan yg dilewati kalo menempuh jalan Lintas Barat Sumatera. Kesian liatnya, entah dari mana datang sifat malas itu ... Yg bagus gw lihat di Sumsel itu adalah di Lubuk Linggau...ini memang kota bagus, pembangunannya terstruktur dan masyarakatnya terlihat aktif dan hidup.. Kalo di Lampung, dari daerah yg gw lalui maka kondisi seperti di Lubuk Linggau akan ditemukan di Kotabumi. ==================== OOT dikit ah...pake nyinggung2 kotabumi sih, Atuk (nenek) gue tinggal disini....:) masa' sih orang2 Ogan itu malas bro?? gak yakin gue. gue sih bukan dari ogan, tapi setau gue rumah panggung bukan didesain untuk malas2an di tangganya, konon waktu SD dibilangin itu salah satu cara pertahanan diri dari hewan dll makanya rumah dibikin model panggung. soal keliatannya males2.....hihihi.....penduduk di kota2 kecil sepanjang lintas sumatra (kalo ke arah kotabumi ada bandarjaya misalnya) ritme kehidupan mereka memang lamban, alam udah nyediaan apapun yg mereka mau: ikan tinggal ngejala, di bawah panggung rumah ada kandang bebek (punya telor deh mereka), hutan deket kalo mau nyari kayu bakar, rotan, dll. tinggal tebang dikit, jual ke kota, dapet duit. nenek moyang gue asalnya dari kota kecil menggala, kabupaten tulangbawang, lampung. ini lewat lintas timur sumatra (lewat sini bisa tembus palembang). keluarga kita punya rumah panggung (sampe sekarang masih kokoh berdiri). gak jauh dari rumah, ada sungai besar, way tulangbawang, diseberangnya hutan lebat (jaman dulu). waktu gue masih SD dibawa ortu berkunjung kesana, konon waktu bokap masih kecil dari hutan di balik sungai itu kadang masih terdengar lengking gajah dan hewan2 lain (sekarang mah boro2, udah abis ditebang). sepelemparan batu dari rumah kita, ada rawa. di sungai, ikan dan udang menghampiri dirimu (koes plus mode on), di hutan, kayu bakar, buah, berserakan. di rawa, ada musim2 tertentu satu desa ngluruk itu rawa nangkepin ikan. pokoknya hidup enak banget. ini mungkin jadi asal muasal "malas" itu, walau sebenernya gak males2 juga, nyari kayu bakar dan nangkep ikan butuh tenaga juga khan? pas semua udah dapet, tinggal dinikmati. pernah lihat orang keluarga lampung makan bareng gak?? huahahaha.....lama, berisik banyak ngobrol. menu simpel, nasi hangat, ikan, sambel sruwit pake tempoyak. dari luar bisa keliatan mudah di-cap males, padahal sekedar enjoy the moment after hardwork. bandingin dgn keadaan jawa. lahan sempit, orangnya banyak, persaingan untuk hidup saja sudah susah banget. makanya mereka "keliatan" lebih giat dan seolah punya etos kerja lebih rajin. nembus lintas sumatra gue sih gak pernah sampe sumatra barat...gile, berapa hari tuh?? paling jauh lewat darat gue sampe ke Curup, bengkulu. mantab deh, beda sensasi ngejajal pantura. pantura padet, perkampungan nggak putus. lintas sumatra, jalan kecil, kadang banyak rusak, lika liku menyisir bukit barisan...yang ada juga kepala pening karena mobil belak belok tajam. kanan jalan tebing, kiri jalan jurang terjal dgn kedalaman tidak terhingga. ampun deh abang delfiar, bikin memori berkelebat di kepala aja ente...:) -omar- __________________________________________________ Correo Yahoo! Espacio para todos tus mensajes, antivirus y antispam ¡gratis! Regístrate ya - http://correo.yahoo.com.mx/
