Ferrari emang penuh konspirasi. Artikel tulisan Arief Kurniawan ini [wartawan
Bola] memperlihatkan salah 1 contoh gimana Hamilton dizolimi oleh si kuda
jigrik. Joni Lono wartawan majalah Otomotif juga pernah membeberkan borok2
Ferrari yang kalo dikumulasikan cukup bikin geleng2 kpala kita.
buat fans Ferrari [bukan Massa or Raikkonen] pissss yoooo...!!!! ini cuma
sebuah wacana buat kita, bahwa pertandingan olah raga bukan sekedar
tanding/lomba dan menang, tapi mengaitkan segala aspek kehidupan [ego, ambisi,
kejahatan konspirasi, kekuatan duit, dsb]
monggo dipun waos.. [please read it]
Kasihan Hamilton...Kasihan McLaren...
SUDAH berapa banyak FIA, lebih tepat para steward,
mengambil keputusan yang sepertinya berbau 'Ferrari banget'? Kalau mau
dirunut ke belakang memang banyak dan itu menurut sebagian mantan
pembalap dan juara dunia F1 akan melunturkan kecintaan orang pada
olahraga maut ini.
Saya buka ingatan sedikit tentang
keputusan-keputusan kontroversial atau "kontroversial" yang pernah
diambil FIA lewat para steward mereka yang bekerja sebagai pengawas
lomba F1 dari race ke race.
1) Valencia 2008: Felipe Massa dianggap membahayakan sesama pembalap (Adrian
Sutil)
akibat saat sudah menyelesaikan pit stop tidak melaju pada kondisi
aman. Kita tak usah membicarakan penyebab, tapi jenis hukumannya. Kalau
memang itu berbahaya, ya bisa saja Massa kena penalti drive through di
pit lane yang bisa dikonversi menjadi tambahan waktu 25 detik dari
hasil lombanya, karena investigasi dilakukan pasca-lomba bukan saat
lomba. Untuk "menyelamatkan" Massa (dan juga Ferrari?) akhirnya Massa
hanya diberi peringatan keras dan denda 10.000 euro dan ia tetap
dinyatakan sebagai pemenang lomba. Kalau Massa dipenalti, Hamilton yang
menang.
2) Interlagos 2007: Pada mobil-mobil dua tim, BMW
dan Williams, kedapatan suhu bahan bakar yang lebih dingin dari
keharusan 10 derajat di bawah suhu udara di trek (terdeteksi 12-15
derajat). FIA menyatakan mereka bersalah, tapi uniknya tidak
mendiskualifikasi mereka. Kalau para pembalap Williams dan BMW yang
masing-masing finis di GP Brasil itu pada urutan 4 (Nico
Rosberg/Williams), 5 (Robert Kubica/BMW), dan 6 (Nick Heidfeld/BMW)
didiskualifikasi, maka Hamilton yang waktu itu finis di urutan 7 akan
naik ke urutan 4. Kalau itu skenarionya, Hamilton-lah yang jadi juara
dunia 2007 bukan Kimi.
3) Monza 2006: GP Italia
kandang Ferrari, tekanan ada pada siapa pun yang mencoba melawan
mereka, termasuk para steward? Pada babak kualifikasi Felipe Massa
mengeluhkan ia dihalang-halangi oleh Fernando Alonso yang waktu itu
masih membela Renault dan sedang bersaing keras dengan Michael
Schumacher untuk jadi juara dunia. Memang ada regulasi bahwa siapa pun
yang menghalangi seorang pembalap yang sedang membuat catatan waktu
kompetitif (flying lap) akan kena penalti berupa pencoretan waktu
terbaiknya. Dari layar kaca jelas terlihat waktu itu Alonso berada jauh
di depan Massa (sekitar 300-an meter) dan masih jauh dari kategori
"menghalangi". Massa komplain dan steward memutuskan Alonso bersalah.
Gara-gara start dari posisi 10 dan mobilnya dipaksa geber habis, Alonso
rontok saat lomba. Kebetulan Schumacher menang saat itu dan menyatakan
pensiun pada akhir musim.
Ini adalah tiga contoh besar yang
"melibatkan Ferrari" dan bahkan bisa ikut menentukan ke mana juara
dunia berlabuh. Memang pada beberapa kasus para steward juga berlaku
fair, seperti kasus Schumacher yang sengaja "memarkir" mobilnya di GP
Monako yang sempit sehingga pembalap lain tak bisa lewat. Schumi waktu
itu diganjar start dari urutan paling belakang dan itu tepat.
Sekarang kita lihat kasus Hamilton, pertama dari regulasinya dulu.
Ada beberapa istilah yang kayaknya enak kalau kita sedikit buka
maknanya. Pertama, chicane. Mudahnya, ini adalah tikungan berbentuk
hurus S alias dua belokan beruntun (kanan-kiri atau kiri-kanan). Kedua,
cut the chicane. Ini adalah gejala akibat pembalap kehilangan kendali
untuk tetap berada di chicane (jalur lomba) sehingga dia terpaksa
memotong chicane itu dengan biasanya melaju lurus dan dengan sendirinya
mendapat keuntungan.
Regulasi mana yang dianggap terlanggar oleh Hamilton adalah:
Regulasi Lomba F1 2008
Pasal
30.3 a) During practice and the race, drivers may use only the track
and must at all times observe the provisions of the Code relating to
driving behaviour on circuits.
juga... Appendix L International Sporting Code FIA 2008
g) The race track alone shall be used by the drivers during the race.
Kedua
regulasi ini mengarah kepada penggunaan seluruh trek, bukan dengan cara
memotongnya, oleh semua pembalap, dari free practice, kualifikasi,
hingga race. Memang pada saat kejadian di lap 41 GP Belgia itu Hamilton
yang sedang berduel dengan Kimi jelas-jelas salah karena cut the
chicane yang berarti dia tidak menggunakan jalur lomba yang benar,
yaitu di trek. Tapi, ada regulasi tidak tertulis di F1 dan ini adalah
kesepakatan antar-pembalap dengan Charlie Whiting (race director tetap
F1), bahwa kalau seorang pembalap terpaksa cut the chicane, maka dia
harus segera memberi jalan kepada siapa pun pembalap yang "disusulnya"
akibat keuntungan yang didapatnya. Misalnya, sebelum chicane Kimi di
depan Hamilton di belakang. Lantas karena Hamilton memotong jalur dia
jadi lebih cepat dan akhirnya ada di depan Kimi, nah Hamilton harus
memberikan jalan kembali kepada Kimi. Kalau tidak ia kena penalti.
Sekarang,
apakah Hamilton bersalah? Kalau hanya mengacu pada dua regulasi di
atas, ya. Tapi bila melanjutkan pembahasan pada gentlemen agreement
pembalap-race director, tidak. Kenapa? Karena Hamilton telah memberikan
jalan kembali kepada Kimi, dalam arti waktu itu posisi pimpinan lomba
tetap dipegang oleh Kimi. Menurut pengakuan kubu McLaren pun mereka
telah kontak-kontakan dengan FIA pada kejadian itu dan FIA bilang, oke.
Maksudnya kelakuan Hamilton tepat.
Namun rupanya para steward punya pandangan lain. Tiga steward GP Belgia
yang mengambil keputusan, Nicholas Deschaux, Surinder Tatthi, dan Yves
Bacquelaine, menetapkan bahwa Hamilton tetap bersalah karena "cut the
chicane and GAINED ADVANTAGE". Dalam rilis mereka kata-kata gained
advantage tidak dijadikan kapital, itu hanya penekanan saya. Kayaknya,
definisi gained advantage ini yang dijadikan pemicu. Hamilton telah
memberikan jalan kepada Kimi, ya. Tapi ia tetap masih punya keuntungan
karena "bisa langsung menyerang" Kimi yang akhirnya ia berhasil
menyusul Kimi tak lama setelah itu. Aksi "bisa langsung menyerang"
inilah yang bisa jadi dianggap sebagai keuntungan yang didapat Hamilton
karena ia menjadi amat dekat dengan Kimi dan Hamilton tidak sedikit
menahan laju mobilnya agar Kimi benar-benar punya jarak. Hamilton
akhirnya dipenalti 25 detik dan melorot ke posisi 3 di bawah Massa dan
Heidfeld.
Beberapa pembalap, Massa tentu, juga Jarno Trulli
(Toyota), melihat Hamilton memang mengambil keuntungan dari cut the
chicane ini. Namun, tak sedikit yang sinis dengan keputusan para
steward ini di antaranya Niki Lauda, yang pernah jadi juara dunia
bersama McLaren dan Ferrari.
McLaren sudah mengajukan banding.
Tapi, sekali lagi, biasanya banding terhadap penalti yang sebenarnya
berupa drive through itu tidak lazim. Karena drive through adalah
hukuman yang harus dijalankan, bukan dibanding. Ini juga masalah
penting. Hamilton sebenarnya memang dikenai drive through penalty,
namun karena kejadiannya pada lap 41 (dari 44) alias 5 lap menjelang
finis, maka dikonversi menjadi 25 detik.
Kasihan Hamilton...kasihan McLaren...
---------------------------------------------------------------------------------
Mengenai hukuman kepada pembalap:
F1 Adu Penalti
Euro sudah selesai. Saya terkena imbasnya dan membuat judul di atas
yang amat berbau sepakbola. Tetapi F1 belakangan memang seru karena
banyak penalti yang menimpa pembalap tertentu, ada yang semestinya, ada
yang tidak, atau ada yang mestinya kena penalti tapi malah aman-aman
saja.
Kalau boleh flashback ke belakang, GP Monako, mestinya
Kimi Raikkonen bisa dikenai hukuman mundur 10 posisi start untuk seri
berikutnya, GP Kanada. Tapi karena dianggap bukan kesalahan murni, tak
sengaja, Kimi pun luput dari hukuman.Tentu masih sama-sama kita
ingat betapa 'spektakulernya' Kimi menabrak Adrian Sutil di Monte
Carlo. Padahal Sutil waktu itu berkesempatan mendapatkan poin
bersejarah baginya dan juga bagi Force India (4 poin hasil finis,
mestinya, kelima). Saya gak tahu apakah seluruh India bakal
marah pada Kimi, tapi yang pasti mereka gagal dapat poin yang mungkin
tak akan pernah kembali mereka dapatkan.
Kimi tak perlu mundur 10 grid, tapi ia tampaknya mendapatkan
karmanya di Kanada. Lewis Hamilton, di pit lane exit, menabraknya saat
menanti keluar pit. Lewis jelas salah karena Kimi, dan juga Robert
Kubica, sedang sama-sama menanti lampu hijau (lampu masih merah) tanda
pembalap baru boleh keluar pit. Namun Lewis, yang pastinya juga tak
sengaja (mana ada toh tabrakan yang benar-benar diniatkan
sengaja?), malah menghantamnya. Hebatnya, di antara Kimi dan Kubica
yang sejajar, kok ya Lewis milih Kimi?Dari sisi persaingan,
Lewis benar 'memilih' Kimi. Karena saat itu Kimi sedang
kencang-kencangnya dan mungkin akan memenangi lomba di Montreal itu.
Lewis mengaku salah dan ia menerima dengan setengah hati penalti yang
mengharuskannya mundur 10 grid di GP Prancis. Setengah hati yang lain
adalah, ini sentimen dari McLaren, ya soal Kimi di Monte Carlo itu.
Kalau Kimi tidak dihukum, kenapa Lewis dipenalti? Menurut saya, ini
memang ganjil. Selain Hamilton, Nico Rosberg mendapat hukuman serupa
akibat tabrakan di tempat dan waktu yang nyaris bersamaan.
.................. edit......................
..............................................
Arief Kurniawan
Sumber : Tabloid BOLA
,,(o_o),,
nguuuiiikk.. nguuuiiiikkkk...
[Non-text portions of this message have been removed]