nguuuiiiikkkk.... nguuuuuiiiiiikkkkkkkk... [baca: setuju, setuju!]
terpaksa posting krn ada namaku disebut2 :) cabut dulu ahhh... mo nge-bier ma temen2 seperjuangan lama di kemang neh.. MU nyungsepppp.... MU nyungsepppppp sepppppppppppp :D ,,(o_o),, nguuuiiiikkkk... ________________________________ From: meidian_abraham <[email protected]> hm.. milis sepi.. mending re-post tulisan di BOLA 2 minggu yang lewat, siapa tau ada yang belom baca: Kilas Balik Euro 2008 (he he..), BOLA 26 Desember 2008, halaman 14: Kemenangan Sepakbola Indah Setelah menyaksikan kemenangan 1-0 Spanyol atas Jerman di final Euro 2008, lan Hansen, mantan bek Liverpool yang juga seorang kolumnis surat kabar The Telegraph, menggmbarkan kesuksesan La Furia Roja sebagai "1-0 Annihilation" . Skor 1 gol tanpa balas memang termasuk kategori tipis. Namun, untuk melukiskannya sebagai sebuah pembinasaan Der Panzer, tentu Hansen memiliki pertimbangan kuat. Ucapan Hansen sendiri hanya melegalisasi suara-suara senada yang dilontarkan masyarakat awam. Selama berjalannya partai puncak di Stadio Ernst Happel, Wina, Austria, yang dipimpin wasit Roberto Rosetti asal Italia, Xavi Hernandez dkk. seperti mengajari kesebelasan Jerman cara bermain sepakbola. Panzer praktis hanya diberi waktu 20 menit awal untuk mengimbangi. Kalah penguasaan bola 48% - 52% tampaknya bukan masalah buat Spanyol. Toh presentase ini hanya berlaku di daerah pertahanan Jerman. Begitu harus masuk ke zona defensa Espana, Lukas Podolski cs. seolah tak punya jawaban sama sekali. Ini tercermin jelas dari total tembakan yang cuma empat. Itupun hanya satu yang benar-benar on target. Sebaliknya, El Matador mampu menciptakan 13 tembakan, tujuh di antaranya tepat sasaran. Gol semata wayang Fernando Torres merupakan kulminasi dari melimpahnya peluang pasukan Luis Aragones. .. Setelah terus menyandang tim unggulan tapi selalu gagal, di Euro edisi ke-13 ini, La Roja membuktikan bahwa kutukan itu bisa dilawan. Senjatanya? SEPAKBOLA INDAH!! (nguik..) Atraksi gemulai trio Xavi-Senna-Iniesta seoah tercipta untuk meninabobokkan lawan-lawan mereka. Dipadukan dengan kuartet lini belakang yang solid serta ditopang duet algojo yang tajam, Spanyol pun dengan mudah menyayat-nyayat teritori pertahanan sang rival. Keindahan yang mematikan ini bukan cuma muncul di final, tapi sepanjang turnamen berlangsung. Bukti lain keperkasaan mereka adalah gelar juara ini diraih melalui rentetan enam laga tanpa kekalahan (menyamai Jerman di Euro 1996), serta serupa Prancis di Euro 1984 dengan melahap seluruh partai penyisihan grup. Tak seperti ketika Yunani menjuarai Euro 2004 atau Italia saat mencaplok gelar juara dunia 2006, di mana publik kurang bisa menerima lantaran permainan yang dinilai tak menarik, kali ini SEMUA sepakat Spanyol memang layak menjadi el campeon de Europa. [Non-text portions of this message have been removed]
