Biografi Ramang

Ramang (lahir: 1928; meninggal di Makassar, 26 September 1987) adalah 
pemain sepak bola Indonesia dari PSM Makassar yang terkenal pada tahun 
1950-an. Ia berposisi sebagai penyerang. Dia pernah mengantarkan PSM ke 
tangga juara pada era Perserikatan serta pernah memperkuat tim nasional 
sepak bola Indonesia.

Awal karir
Ramang mulai memperkuat PSM Makassar pada tahun 1947, waktu itu masih 
bernama Makassar Voetbal Bond (MVB). Melalui sebuah klub bernama Persis 
(Persatuan sepak bola Induk Sulawesi) ia ikut kompetisi PSM. Pada sebuah 
pertandingan, ia mencetak sebagian besar gol dan membuat klubnya menang 
9-0. Sejak itulah ia dilamar bergabung dengan PSM. Ramang memang sudah 
mulai menendang-nendang buah jeruk, gulungan kain dan bola anyaman rotan 
dalam permainan sepak raga sejak berusia 10 tahun. Ayahnya, Nyo'lo, ajudan 
Raja Gowa Djondjong Karaenta Lemamparang, sudah lama dikenal sebagai 
jagoan sepakraga. Bakat Ramang memang menurun dari sang ayah. Mulanya ia 
memperkuat Bond Barru, kota kelahirannya, namun menjelang proklamasi 1945, 
ia membawa keluarganya pindah ke Ujungpandang dan meninggalkan usaha 
warung kopi yang ia bangun bersama istrinya.

Pekerjaan lain
Sambil melakoni profesinya sebagai pemain sepak bola, Ramang juga menjadi 
seorang kenek truk dan tukang becak. Namun dalam sebuah wawancara di 
Majalah Tempo (7/10/1978), Ramang mengatakan bahwa ia terpaksa 
meninggalkan profesinya sebagai penarik becak karena sibuk bermain bola. 
Hal itu membuat kondisi keluarganya yang tinggal menumpang di sebuah rumah 
temannya menjadi sangat memprihatinkan. "Namun apapun yang terjadi, coba 
kalau isteri saya tidak teguh iman, mungkin sinting," kata macan bola itu. 
Ramang memang tak bisa lepas dari lapangan sepak bola. Baginya, 
meninggalkan lapangan sepak bola sama saja menaruh ikan di daratan. "Hanya 
bisa menggelepar-gelepar lalu mati," katanya.
Setahun setelah kemenangan klubnya 9-0 dalam kompetisi PSM, Ramang sudah 
keliling Indonesia bermain bola. Tapi ketika ia kembali ke Makassar 
seorang datang melamarnya bekerja sebagai opas di Dinas Pekerjaan Umum 
(DPU). Gajinya? Tak pernah naik tetap saja Rp 3.500. Untungnya hanya satu: 
ia masih tetap bisa main bola.

Karir di tim nasional sepak bola Indonesia
Pada tahun 1952 ia menggantikan Sunardi, kakak Suardi Arlan mengikuti 
latihan di Jakarta. Ini menyeretnya menjadi pemain utama PSSI. Didampingi 
Suardi Arlan di kanan dan Nursalam di kiri, ia bagai kuda kepang di tengah 
gelanggang. Permainannya sebagai penyerang tengah sangat mengagumkan. Maka 
setahun kemudian ia keliling di beberapa negeri asing. Namanya meroket 
menjadi pemain favorit penonton dan disegani pemain lawan.
Pada lawatannya tahun 1954 ke berbagai negeri Asia (Filipina, Hongkong, 
Muangthai, Malaysia) PSSI hampir menyapu seluruh kesebelasan yang dijumpai 
dengan gol menyolok. Dari 25 gol (dan PSSI hanya kemasukan 6 gol) 19 di 
antaranya lahir dari kaki Ramang.
Berkat prestasi Ramang, Indonesia masuk dalam hitungan kekuatan bola di 
Asia. Satu demi satu kesebelasan Eropa mencoba kekuatan PSSI. Mulai dari 
Yugoslavia yang gawangnya dijaga Beara (salah satu kiper terbaik dunia 
waktu itu), klub Stade de Reims dengan si kaki emas Raymond Kopa, 
kesebelasan Rusia dengan kiper top dunia Lev Jashin, klub Locomotive 
dengan penembak maut Bubukin, sampai Grasshopers dengan Roger Vollentein. 
"Tapi itu bukan prestasi saya saja, melainkan kerjasama dengan 
kawan-kawan," ujar Ramang merendah, sembari menyebut nama temannya satu 
per satu: Maulwi Saelan, Rasjid, Chaeruddin, Ramlan, Sidhi, Tan Liong 
Houw, Aang Witarsa, Thio Him Tjiang, Danu, Phoa Sian Liong dan Djamiat.
Ramang dikenal sebagai penyerang haus gol. Ramang memang penembak lihai, 
dari sasaran mana pun, dalam keadaan sesulit bagaimana pun, menendang dari 
segala posisi sambil berlari kencang. Satu keunggulan yang masih diidamkan 
oleh setiap pemain bola kita hingga saat ini, terutama tembakan salto. 
Keahlian itu tampaknya karunia alam untuk pribadi Ramang seorang sebagai 
bekas pemain sepakraga yang ulung. Gol melalui tendangan salto yang indah 
dan mengejutkan seringkali dipertunjukkan oleh Ramang. Satu di antaranya 
saat PSSI mengalahkan RRC dengan 2-0 di Jakarta. Kedua gol itu lahir dari 
kaki Ramang, satu di antaranya tembakan salto. Itu pertandingan menjelang 
Kejuaraan Dunia di Swedia, 1958. Pertandingan kedua dilanjutkan di Peking, 
Indonesia kalah dengan 3-4, sedang yang ketiga di Rangoon (juga melawan 
RRC) dengan 0-0. Sayang sekali lawan selanjutnya ialah Israel (yang tak 
punya hubungan diplomatik dengan Indonesia) maka PSSI terpaksa tidak 
berangkat.
Mendengar kehebatan Ramang di lapangan sepak bola, tak heran jika di tahun 
50-an, banyak bayi lelaki yang lahir kemudian diberi nama Ramang oleh 
orangtuanya.
Jika Ramang ditanya mengenai pertandingan paling berkesan, di sejumlah 
media, ia menyebut ketika PSSI menahan Uni Soviet 0-0 di Olimpiade 
Melbourne 1956. "Ketika itu saya hampir mencetak gol. Tapi kaus saya 
ditarik dari belakang," kata Ramang.
[sunting]Akhir karir
Kejayaan Ramang ternyata singkat saja, tahun 1960, sesudah namanya sempat 
melangit ia dijatuhi skorsing. Ramang dituduh makan suap. Tahun 1962 ia 
dipanggil kembali, tapi pamornya sudah berkurang. Pada tahun 1968, dalam 
usia 40 tahun, Ramang bermain untuk terakhir kalinya membela kesebelasan 
PSM di Medan, yang berakhir dengan kekalahan. Meskipun setelah itu 
kariernya di sepak bola tidaklah betul-betul mati. Saat ia sedang 
menggelepar-gelepar seperti ikan di daratan, ia mendapatkan panggilan 
Bupati Blitar untuk menjadi pelatih di sana.

Karir kepelatihan

Karier kepelatihan Ramang juga tercatat di PSM dan Persipal Palu. Sewaktu 
menjadi pelatih di Persipal, ia bahkan pernah dihadiahi satu hektar kebun 
cengkeh oleh masyarakat Donggala, Palu, karena prestasinya membawa 
Persipal menjadi satu tim yang disegani di Indonesia. Penghargaan seperti 
ini tak pernah ia dapatkan di PSM Makassar. Tetapi menjadi pelatih sepak 
bola ternyata tidak mudah bagi seorang tamatan Sekolah Rakyat seperti 
Ramang. Ia kemudian harus disingkirkan pelan-pelan hanya karena ia tidak 
memiliki sertifikat kepelatihan. Dalam melatih, Ramang hanya mengajarkan 
pengalamannya ditambah dengan teori yang pernah ia dapatkan dari mantan 
pelatih PSSI, Tony Pogacknic, yang ia sangat hormati.
Ramang pernah menyebut bahwa pemain sepak bola sepertinya tidak lebih 
berharga dari kuda pacuan. "Kuda pacuan dipelihara sebelum dan sesudah 
bertanding, menang atau kalah. Tapi pemain bola hanya dipelihara kalau ada 
panggilan. Sesudah itu tak ada apa-apa lagi," katanya dengan kecewa. Namun 
Ramang sudah berketetapan hati menutup kisah masa lampaunya itu. "Buat apa 
mengenang masa-masa seperti itu sementara orang lebih menghargai kuda 
pacuan?" katanya. Kekecewaan itu tampaknya begitu berat merundungnya, 
hingga ia seringkali sengaja sembunyi hanya untuk mengelak wawancara 
dengan seorang wartawan. Meski banyak dorongan dan tawaran buat menulis 
biografinya, ia selalu menggelengkan kepala. Dulu katanya, memang pernah 
ada seseorang yang menerbitkan riwayat hidupnya. Tapi ia sendiri sudah 
lupa judul buku dan nama penulisnya.

Meninggal dunia

Suatu malam di tahun 1981, sehabis melatih anak-anak PSM, Ramang pulang 
dengan pakaian basah dan membuatnya sakit. Enam tahun ia menderita sakit 
di paru-parunya tanpa bisa berobat ke Rumah Sakit karena kekurangan biaya. 
Pada tanggal 26 September 1987, di usia 59 tahun, mantan pemain sepak bola 
legendaris itu meninggal dunia di rumahnya yang sangat sederhana yang ia 
huni bersama anak, menantu dan cucunya yang semuanya berjumlah 19 orang. 
Ramang dimakamkan di TPU Panaikang. Untuk mengenang jasanya, sebuah patung 
di lapangan Karebosi dibuat untuknya. Selain itu hingga sekarang salah 
satu julukan PSM Makassar adalah Pasukan Ramang.
Ironis memang mengetahui kisah hidup mantan bintang sepak bola itu. 
Apalagi Ramang kini hanya diapresiasi dengan sebuah patung yang dibuat 
seadanya, yang berdiri di pintu utara Lapangan Karebosi.


:._______________
CONFIDENTIALITY : This  e-mail  and  any attachments are confidential and 
may be privileged. If  you are not a named recipient, please notify the 
sender immediately and do not disclose the contents to another person, use 
it for any purpose or store or copy the information in any medium.


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke