1. Kolam Renang Hiltrup
Menjelang laga puncak Piala Dunia 1974, surat kabar Jerman, Bild Zeitung,
melansir berita tentang perayaan beberapa pemain Belanda, yang tak
disebutkan namanya, usai menang besar 4-0 atas Argentina di babak penyisihan
grup kedua. Pesta tersebut digelar di kolam renang Hotel Hiltrup dan
diramaikan beberapa gadis telanjang. Rinus Michels menyangkal berita
tersebut. Tapi Danni Cruyff tidak sepenuhnya yakin dan menghabiskan
semalaman untuk ditenangkan suaminya, Johan. Saat final, Johan tidak bermain
bagus dan seiring kekalahan terkenal Belanda atas tuan rumah Jerman [Barat],
selama satu dasawarsa berikutnya masyarakat Belanda terus menuding bahwa
insiden kolam renang itu melenyapkan mahkota juara dunia yang seharusnya
diraih Cruyff dan kawan-kawan.

2. Calciopoli Oh Calciopoli...
Hingga sekarang, Calciopoli masih menjadi pembahasan menarik bagi fans Serie
A Italia. Musim panas 2006 menjadi masa-masa sulit persepakbolaan Italia.
Skandal pengaturan pertandingan merebak dan melibatkan klub-klub seperti
Juventus, AC Milan, Fiorentina, Lazio, dan Reggina. Sebuah rekaman telepon
dilansir media-media Italia yang berisi percakapan direktur umum Juventus,
Luciano Moggi, dengan beberapa pengurus yang bertanggungjawab dalam
penunjukan wasit. Penyelidikan digelar dan akhirnya menghukum tim serta
pihak yang terlibat dengan sanksi keras. Belakangan, muncul teori yang
menyebutkan penyadapan itu dengan sengaja dilakukan Massimo Moratti dengan
melibatkan presiden Telecom Italia dan TIM, Marco Tronchetti Provera.
Kebetulan, Tronchetti Provera fans setia Inter Milan dan perusahaan ban
miliknya, Pirelli, menjadi sponsor utama klub.

3. Rezim Confetti
Piala Dunia Argentina 1978, yang diwarnai kesemarakan confetti (taburan
kertas putih), dimanfaatkan dengan segala cara untuk menciptakan citra
positif bagi pemerintahan junta militer Jorge Rafael Videla, termasuk dengan
cara apapun. Johan Cruyff diancam untuk tidak berangkat ke Argentina;
"kemenangan mustahil" Argentina 6-0 atas Peru yang meloloskan tuan rumah ke
laga puncak dan menyisihkan Brasil; penggantian wasit final; dan protes
terhadap perban Rene van de Kerkhof di final. Lengkap untuk sebuah Piala
Dunia yang penuh dengan konspirasi, sama seperti rezim Videla yang membuat
ribuan penduduk Argentina menghilang atau terbunuh selama tujuh tahun
berkuasa.

4. Si Pencuri Gelang
Untuk mempersiapkan diri ke Piala Dunia Meksiko 1970, timnas Inggris
melakukan pemanasan di Kolombia beberapa pekan sebelum penyelenggaraan.
Namun, masalah terjadi di sana. Kapten Bobby Moore diciduk polisi Bogota
karena dituduh mencuri perhiasan dari sebuah toko di hotel. Moore kemudian
bebas dari tuduhan dan tetap berangkat ke Piala Dunia. Semua tuduhan
dihapuskan dan dua tahun kemudian muncul informasi yang menyebutkan pihak
intelijen Kolombia bertanggungjawab terhadap penangkapan Moore itu.

5. Kekesalan Shankly
Semi-final Piala Champions 1965 mempertemukan Liverpool dengan Inter Milan.
Pada laga kedua di Giuseppe Meazza, Liverpool datang dengan keunggulan 3-1.
Tapi, 90 ribu penonton Giuseppe Meazza menjadi saksi kemenangan tuan rumah
3-0 yang meloloskan pasukan Helenio Herrera ke laga puncak. Usai
pertandingan, manajer Bill Shankly menyesalkan keputusan wasit Jose Maria
Ortiz de Mendibil yang membatalkan gol Ian St. John dan mengesahkan dua gol
kontorversial Inter. "Mereka tak akan membiarkan tim Inggris memenangi Piala
Champions," sergah Shankly.

6. Moreno Si Kambing Hitam
Italia kalah mengejutkan pada babak 16 besar Piala Dunia 2002 dari tuan
rumah bersama, Korea Selatan, 2-1 melalui perpanjangan waktu. Tak hanya
kekalahan memalukan, Francesco Totti juga diganjar kartu merah akibat
melakukan diving di kotak penalti lawan. Usai pertandingan, pahlawan
kemenangan Korea Selatan, Ahn Jung-hwan, ditolak kembali ke klubnya,
Perugia, meski kemudian diralat. Selain Ahn, masyarakat Italia juga
menimpakan kekesalan kepada wasit Byron Moreno asal Ekuador yang dianggap
tidak kompeten dalam memimpin pertandingan. Moreno dianggap bersepakat untuk
meloloskan tuan rumah ke babak selanjutnya. Cacian dan ancaman mati pun
ramai ditujukan kepada sang wasit.

7. Lasagna-Gate
Akhir musim Liga Primer Inggris 2005/06 mempertontonkan pertarungan dua
rival, Arsenal dan Tottenham Hotspur, untuk memperebutkan satu tiket Liga
Champions. Namun, Tottenham dikalahkan West Ham United 2-1 dan Arsenal pun
sukses melenggang ke Liga Champions. Kekalahan itu ditengarai akibat insiden
keracunan makanan yang menimpa enam pemain Spurs saat makan siang hari
pertandingan di hotel tempat tim menginap. Contoh makanan sempat diambil
dari dapur hotel, tapi tak ada indikasi tindakan yang disengaja. Fans
Gunners pun menuangkan insiden ini ke dalam sebuah lagu untuk mencemooh
rivalnya.

8. Solidaritas Tetangga
Salah satu kejutan besar dalam Piala Dunia Spanyol 1982 adalah keberhasilan
Aljazair menaklukkan Jerman [Barat] 2-1 pada laga pembuka penyisihan Grup 2.
Aljazair berhasil menaklukkan Cili 3-2 pada laga terakhir grup dan
berpeluang besar lolos jika Jerman gagal menang atas Austria sehari
setelahnya. Austria, yang sudah memastikan diri lolos ke babak selanjutnya
dengan kemenangan dalam dua partai awal, terkesan memberikan kemenangan
kepada saudara tuanya itu. Horst Hrubesch mencetak gol pada menit kesepuluh
dan sepanjang sisa pertandingan kedua tim "menolak" bermain sepakbola hasil
itu sudah cukup meloloskan kedua tim. Cemoohan muncul dari penonton yang
memadati stadion El Molinon, Gijon, dan Aljazair meraung menyesalkan aksi
main mata kedua tim. FIFA menolak protes Aljazair, tapi memperbaiki
pengelolaan turnamen di masa depan dengan memainkan laga terakhir grup
secara bersamaan.

9. Musuh Pemerintah
Sebelum terdampar di Divisi Segunda B seperti saat ini, Rayo Vallecano
beredar lama di Primera Liga Spanyol. Sayangnya, sejak terdegradasi musim
2001/02, klub asal Madrid itu tak lagi terdengar gaungnya. Saat
terdegradasi, wakil presiden Alvaro Mateos sempat mengeluh adanya upaya
untuk menyingkirkan Vallecano dari divisi teratas Spanyol. Upaya tersebut
diduga Mateos didalangi oleh Pemerintah Spanyol karena sengketa bisnis wine
dengan ayahnya. "Aku rasa pertikaian antara ayahku dengan Pemerintah telah
membuat wasit serta Pemerintah membedakan perlakuan dengan klub," ujarnya
kepada BBC Sport. "Pemerintah dapat menentukan klub mana yang menang dan
yang terdegradasi."

10. Anti-Sepakbola MLS
Legenda Belanda, Ruud Gullit, yang pernah melatih klub liga utama Amerika
Serikat (MLS), Los Angeles Galaxy, menuding adanya konspirasi dalam
persepakbolaan negeri adidaya itu. "David Beckham lebih dari sekadar pemain
sepakbola dan aku rasa dia bisa mengangkat citra sepakbola di sini, tapi
bukan itu yang diinginkan mereka [pengelola MLS]. Aku rasa mereka takut
kepada sepakbola karena popularitasnya di dunia. Aku rasa mereka ingin
mengendalikannya agar tidak lebih populer daripada olahraga Amerika
lainnya," tukas Gullit kepada Reuters. "Mereka takkan membiarkannya.
Beberapa olahraga sudah mendarahdaging, jadi mereka takkan membiarkan
American Football jadi kalah populer, begitu juga basket atau baseball."

-- 
Forza MILAN


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke