Catatan dari Afrika Selatan (2)
Jadi Suporter Sambil Jualan Batik
Senin, 7/6/2010 | 13:42 WIB

KOMPAS.com - Pakailah baju batik di Afrika Selatan, maka Anda akan mendapat 
penghormatan yang luar biasa dari rakyat Afsel. Begitulah saran kepada saya 
dari seorang diplomat Indonesia yang saya jumpai di kantor Kedubes RI untuk 
Afrika Selatan, akhir September 2005 di Pretoria.

Di semua sudut kota besar di Afrika Selatan bisa kita jumpai papan-papan iklan 
ukuran raksasa dengan gambar Nelson Mandela. Pada papan-papan iklan itu, Bapak 
Bangsa Afrika Selatan ini berpose dengan senyum khasnya. Ada pesan dalam papan 
iklan itu yang rata-rata berisi ajakan untuk membangun bangsa dan negara.

Persis seperti di negeri kita pada zaman Presiden Soeharto dulu, di Afsel sana 
Mandela pun mengajak rakyatnya bekerja keras, mengajak ibu-ibu tidak lupa 
memberi imunisasi kepada bayi mereka, dan menyerukan pemuda berprestasi dalam 
olahraga. Yang menarik, gambar Mandela di papan-papan iklan raksasa itu sedang 
mengenakan kemeja batik. Luar biasa.

Bagi rakyat Afrika Selatan, batik memang sudah menjadi barang mewah. Bagaimana 
tidak, Mandela yang mereka puja, di mana pun dan dalam acara apa pun, resmi 
atau tidak resmi, nasional maupun internasional, selalu mengenakan batik. 
Seolah-olah, Mendela tidak memiliki kemeja lain kecuali batik. Seolah-olah 
kemeja batik Mandela ready stock. Dan yang terpenting, batik yang dikenakan 
Mandela seluruhnya benar-benar asli made in Indonesia, bukan batik produk 
negara lainnya.

Jadi, bagaimana rakyat Afrika Selatan tidak menghormati kita yang mengenakan 
batik saat jalan-jalan di sana? Lha wong, Mandela saja, Bapak Bangsa, orang 
yang paling mereka puja, selalu mengenakan kemeja batik.

Mandela sendiri sudah dua kali berkunjung ke Indonesia. Kunjungan pertamanya 
dilakukan tahun 1998 pada era Presiden BJ Habibie. Kunjungan keduanya dilakukan 
pada era Presiden Megawati, tahun 2002.  

Sumber saya di Afrika Selatan menceritakan tentang batik dan Mandela. Saat 
berkunjung ke Indonesia untuk pertama kalinya, Mandela langsung jatuh cinta 
kepada batik. Oleh karena itu, kemudian, Presiden Habibie meminta kepada Iwan 
Tirta, perancang papan atas busana Indonesia, pakar dalam bidang perbatikan, 
untuk menghadap Presiden Habibie ke Istana Negara.

Lalu, Iwan Tirta pun diminta untuk melayani permintaan Mandela terhadap batik. 
Dan, ternyata rancangan dan pilihan motif Iwan Tirta klop dengan selera Nelson 
Mandela. Sejak saat itu hingga kini, Iwan Tirtalah yang terus-menerus memasok 
kebutuhan kemeja batik untuk Mandela, setiap saat, dengan jumlah yang unlimited 
dan harus ready stock.

Maka dari itu, berbanggalah kita bangsa Indonesia kepada Mandela karena beliau 
adalah sales promotion paling top bagi batik Indonesia untuk citra dunia. Coba 
lihat, ketika Mandela hadir dalam acara resmi FIFA di markas besarnya di 
Zurich, Swiss, awal bulan Juni 2006 untuk menerima estafet tuan rumah 
penyelenggara World Cup, Mandela pun mengenakan batik, bukan jas, busana resmi 
bangsa-bangsa Barat.

Lalu bagaimana dengan para pejabat kita, pembesar Indonesia? Bisa dihitung 
dengan jari pejabat kita yang mau mengenakan batik untuk acara resmi 
internasional seperti itu. Beda dengan Nelson Mandela, buat para pejabat 
Indonesia, mereka, barangkali, lebih senang dan bergengsi bila mengenakan 
setelan jas ketimbang batik.

Souvenir jadi bisnis

Seorang tokoh pemuda Indonesia yang beberapa kali berkunjung ke Afrika Selatan 
punya pengalaman menarik tentang batik. Ketika jumpa saya di Cape Town, dia 
bercerita bahwa dalam suatu kunjungannya ke Afsel, ia membawa lima koli kemeja 
batik. Maksudnya sebagai souvenir. Ia membelinya di Pasar Tanah Abang Jakarta 
seharga Rp 30.000 per potong.

Setelah batik souvenir itu habis dibagi-bagikan kepada pemuda di Afsel, seorang 
sejawatnya, pemuda asli Afrika Selatan, membisikinya. "Bagaimana kalau kita 
berbisnis batik," ujarnya. Lalu, pembicaraan pun berlanjut dengan topik mari 
berbisnis batik.

Di Afrika Selatan, batik yang kita beli seharga Rp 30.000 di pasar Tanah Abang 
Jakarta atau Pasar Beringharjo Yogya atau Pasar Turi Surabaya atau Pasar Pusat 
Grosir Batik Setono Pekalongan, di negerinya Nelson Mandela bisa laku dengan 
harga 300 sampai 400 rend atau sekitar Rp 700.000 hingga Rp 800.000 per potong. 
Fantastis!!

Tentu, keuntungannya akan semakin besar bila kita punya modal untuk berbisnis 
ke Afrika Selatan, dengan jualan batik yang terbuat dari bahan sutera, seperti 
batiknya Iwan Tirta yang selalu dikenakan Nelson Mandela.

Jadi, jangan takut. Ayo ramai-ramai menyerbu Afrika Selatan pada Juni-Juli ini 
untuk menyaksikan pesta sepak bola dunia World Cup South Africa 2010. Kita 
boleh menjadi suporter untuk tim negara mana saja. Yang penting, bisa 
happy-happy. Cukup membawa kemeja batik 100 potong dari Ranah Air, masukkan ke 
dalam koper, jual di sana dengan keuntungan bisa mencapai Rp 70 juta.

Tentu, keuntungan sebesar itu sudah sangat cukup untuk kita hidup sebulan di 
Afsel, sambil bersenang-senang bersama jutaan suporter yang datang dari seluruh 
dunia, dan pasti asyik. Itu lebih terasa lagi jika kita sembari menyanyikan 
lagu ciptaan K'naan, "Waving Flag" yang telah diresmikan menjadi lagu tema FIFA 
World Cup South Africa 2010: "Give me freedom, Give me fire . When I get older 
I will be stronger. They'll call me freedom. Just like a wavin' flag. And then 
it goes back, oh, oh, oh, oh."

Daripada jadi bonek? (Wartawan Tribun/Uki M Kurdi/)



 AFSEL MEMILIKI TIGA IBU KOTA NEGARA

* Pretoria, ibu kota pemerintahan (eksekutif)

* Cape Town, ibu kota legislatif

* Bloeinfontein, ibu kota yudikatif

* Johannesburg adalah kota terbesar



RANKING DUNIA NEGARA-NEGARA AFRIKA PESERTA PIALA DUNIA 2010 BERDASARKAN DATA 
FIFA, APRIL 2010

1. Kamerun (20)

2. Nigeria (22)

3. Pantai Gading (25)

4. Aljazair (27)

5. Ghana (31)

6. Afrika Selatan (88)

Bandingkan dengan Indonesia yang berada pada posisi ke-138


Editor: msh


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke