*BERITA WORLD CUP 2010*
   KOMPAS/ALIF 
ICHWAN<http://worldcup.kompas.com/read/2010/06/14/10432870/Indonesia.Maaf..Anda.Bukan.Prioritas-4#>
Trofi Piala Dunia sempat mampir di Istana Kepresidenan dan diperlihatkan
kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Beruntung Indonesia bisa menikmati
trofi itu walau sejenak karena untuk meraihnya dibutuhkan perjuangan keras
dan memakan waktu lama.
 Senin,14 Juni 2010 | 10:43 WIB
*Indonesia? Maaf, Anda Bukan Prioritas*

*Oleh MH SAMSUL HADI*

”Kapan kira-kira PSSI masuk (Piala Dunia), ya? ” begitu sentilan Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono saat nonton bareng laga pembuka Piala Dunia 2010,
Afrika Selatan lawan Meksiko, di Denpasar, Bali, Jumat lalu. Harapan
melambung, tetapi itulah obsesi publik bola negeri ini. Tanpa lolos ke Piala
Dunia, Indonesia tidak akan pernah dianggap di kancah sepak bola
internasional.

Beberapa saat menjelang laga Inggris melawan Amerika Serikat, Sabtu (12/6)
lalu, terjadi kegaduhan kecil di Media Center Stadion Royal Bafokeng,
Rustenburg. Seperti biasa, panitia membagi-bagikan tiket bagi wartawan yang
masuk daftar tunggu (*waiting list*). Ada tiga jenis tiket, yakni tiket
menyaksikan laga, tiket jumpa pers, dan tiket wawancara di *mixed zone*.

Begitu tiket daftar tunggu diumumkan panitia lewat mikrofon, wartawan
berhamburan meninggalkan pekerjaan mereka dan memadati meja petugas bagian
tiket. ”England-USA, first! England-USA, first!” teriak perempuan sang
petugas itu. ”Ini laga Inggris-AS, jadi kami prioritaskan media Inggris dan
AS,” jelasnya.

Namanya juga wartawan, di mana-mana gesit cari peluang. Meski sudah
berkali-kali ditegaskan bahwa prioritas utama diberikan kepada media Inggris
dan AS, wartawan dari luar negara itu tetap berjubel di depan meja petugas.
Ada yang berpura- pura tidak tahu, ada yang mencoba ”merayu” dengan
bermanis- manis muka.

Situasinya agak kisruh. Maklum, banyak pemain bintang bakal bertanding dan
kesempatan mewawancarai mereka tentu bakal memiliki nilai berita lebih
tersendiri. ”Sudah saya bilang, tolong antre yang tertib. Otak saya pening,
dikelilingi lima laki-laki seperti ini,” ujar perempuan berambut pirang itu,
meminta beberapa wartawan di dekatnya menyingkir.

”Saya dari Brasil. (Tiket) *mixed zone, please*?” kata wartawan Brasil. ”Ya,
saya tahu, Brasil tampil di kompetisi ini, tetapi prioritas kami adalah
Inggris dan AS. Ada urutan prioritas dalam pembagian tiket, mulai media dari
tim yang bertanding, tim peserta, dan seterusnya… dan seterusnya,” jawab
petugas media FIFA itu.

Dalam situasi itu, bisa ditebak sikap petugas FIFA terhadap media dari
negara yang bukan peserta Piala Dunia. ”Ya, saya tahu Mozambik. Tetapi,
seperti saya bilang tadi, kami punya prioritas,” katanya kepada seorang
wartawan Mozambik yang berargumentasi bahwa ia layak mendapat tiket karena
ia dari negara Afrika, benua yang kini menjadi tuan rumah Piala Dunia.

*Kompas* mencoba peruntungan dengan menyebut ”Indonesia”, negara yang pernah
mengajukan diri menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022, di tengah berjubelnya
antrean wartawan itu. Indonesia mencalonkan diri sebagai tuan rumah Piala
Dunia 2022, tetapi dicoret FIFA setelah pengurus PSSI gagal meyakinkan
pemerintah agar memberikan dukungan.

Dengan menjadi tuan rumah, andai saja diterima dan disetujui FIFA lewat
sidang Komite Eksekutif, Indonesia otomatis tampil sebagai peserta Piala
Dunia 2022. Sebuah jalan pintas untuk tampil di Piala Dunia tanpa
berkeringat. Ketika mengajukan pencalonan diri itu, PSSI dikritik habis
tetapi baru menyerah setelah pemerintah enggan memberikan dukungan pada ide
mimpi di siang bolong itu.

”No,” jawab petugas FIFA itu, tegas.

*Jeweran buat PSSI*

Di ajang-ajang bergengsi, seperti Piala Dunia, nama besar negara (entah dari
jumlah penduduknya atau kekuatan pengaruh politiknya) tidak menjadi
prioritas FIFA. Badan sepak bola dunia itu berpatokan pada kinerja lewat
prestasi timnas negara anggota mereka di bidang persepakbolaan
internasional.

Tidak perlu didiskusikan lagi, kita tahu, betapa terpuruk prestasi sepak
bola tim nasional di bawah kepemimpinan Nurdin Halid di PSSI. Selain gagal
lolos ke putaran final Piala Asia untuk pertama kali setelah selalu tampil
di putaran final sejak 1996, tim ”Merah Putih” juga tersingkir dari
penyisihan SEA Games terakhir setelah kalah, antara lain, dari Laos.

Presiden Yudhoyono merasa miris dengan situasi itu dan beberapa waktu lalu
menggagas Kongres Nasional Sepak Bola, yang sudah digelar tanpa memberikan
hasil apa-apa. Diharapkan, dengan kongres itu PSSI mau berbenah dan menata
persepakbolaan yang lagi morat-marit.

Namun, apa yang terjadi? PSSI tidak berubah dan masih tetap seperti dulu.
Lihatlah, bagaimana mereka—lewat Komisi Banding—menganulir hukuman-hukuman
disiplin, di antaranya kasus Persebaya-Persik yang menurut aturan sudah
mengikat. Persik dihukum Komisi Disiplin kalah 0-3 dari Persebaya karena
gagal menggelar laga di antara dua klub itu.

Begitulah, semua insan sepak bola negeri ini sudah hafal betul dengan sepak
terjang dan patgulipat pengurus PSSI untuk lebih mengutamakan kepentingan
mereka, bukan kepentingan sepak bola nasional. Semua orang juga tahu,
membangun timnas yang tangguh tidak sekadar mendatangkan pelatih hebat
dengan gaji ratusan juta rupiah sebulan.

Lebih dari itu, membangun timnas adalah menata sepak bola nasional secara
keseluruhan, mulai dari kompetisi, pembinaan usia dini, dan penegakan
aturan. Tanpa itu, tidak mungkin mimpi tampil di Piala Dunia terwujud.

Di saat pikiran menerawang ke sepak bola di Tanah Air, pada menit-menit
akhir petugas FIFA itu mengulurkan tiket *mixed zone* kepada* Kompas*. Tanpa
menoleh dan dingin. Sedingin sambutan FIFA pada akal-akalan *bidding* ala
PSSI.


-- 
Aldo Desatura ® & ©
================
Kesadaran adalah matahari, Kesabaran adalah bumi
Keberanian menjadi cakrawala dan Perjuangan Adalah pelaksanaan kata kata


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke