Budiarto shambasy kalo nulis musik progresive rock juga mantap.
Sindhunata kumpulan tulisannya sudah ada bukunya di gramedia 3 jilid. Wajib 
punya tuh.

-----Original Message-----
From: "Delfiar S" <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Mon, 21 Jun 2010 16:27:07 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: Re: [BolaML] Tragika Sepak Bola Afrika

heh, tadi budiarto shambazy, sekarang sindhunata
next yesayas lalu suryopratomo ...
inilah orang-orang yg dari dulu di 80-an (terutama shambazy n sindhu) yg 
tulisannya dah gw ikuti di harian kompas
tasty n spicy + yummy

yg kemudian lebih senang tampil di tipi adalah yes n tom

  ----- Original Message ----- 
  From: petirburung 
  To: [email protected] 
  Sent: Monday, June 21, 2010 11:40 AM
  Subject: [BolaML] Tragika Sepak Bola Afrika


    
  Tragika Sepak Bola Afrika
  Oleh Sindhunata

  Dua puluh tahun lalu, publik bola bergetar karena aksi pemain gaek Kamerun, 
Roger Milla. Tak akan orang lupa betapa indah gerakan Milla ketika Kamerun 
menaklukkan Kolumbia dalam putaran kedua Piala Dunia 1990 di Italia. Milla 
membelai bola dari lapangan tengah, menggiringnya, lalu mengelabui kiper 
tangguh Rene Higuita.

  Milla lantas lari ke pojok lapangan, kemudian menggoyang-goyangkan pantatnya. 
Goyangan itu adalah bagian dari folklore Afrika. Namun, sekaligus goyangan itu 
adalah keyakinan Milla bahwa inilah saatnya tim Afrika bicara. Milla benar. 
Untuk pertama kalinya Kamerun, wakil Afrika itu, masuk ke perempatan final 
walau akhirnya di Napoli mereka dikalahkan Inggris, 3-2.

  "Jika kami dapat mengalahkan Inggris, seluruh Afrika akan meledak. Sungguh 
meledak dan kiranya akan berjatuhan korban di sana. Dengan segala kebaikan-Nya, 
Tuhan tahu, apa yang harus diperbuat-Nya. Secara pribadi saya berterima kasih 
kepada Tuhan bahwa Dia menyetop kami di perempat final," kata Milla.

  Kiranya dengan kata-kata itu, Milla ingin menyampaikan, jangan Afrika terburu 
menjadi besar sebelum waktunya. Memang, dunia bola Afrika masih harus melewati 
proses yang panjang untuk benar-benar menjadi matang. Dan, 20 tahun lamanya 
sejak Piala Dunia 1990, Afrika mencoba dewasa melalui proses itu. Lalu, tibalah 
Piala Dunia 2010, saat di mana Afrika ingin menunjukkan dirinya sebagai benua 
bola yang benar-benar matang.

  Maka, dalam Piala Dunia 2010 ini pemain-pemain Afrika sesumbar, sekaranglah 
saatnya dunia bola mencelikkan matanya akan kehebatan Afrika. Dan, salah satu 
pemain Afrika yang yakin akan hal tersebut adalah kapten Kamerun, Samuel Eto'o. 
Dalam wawancara dengan Christian Ewers, yang menulis buku tentang seluk-beluk 
dan tragika sepak bola Afrika (2010), Eto'o mengatakan bahwa Ghana, Pantai 
Gading, dan Kamerun sudah matang untuk meraih titel.

  "Kami telah belajar bahwa bola lebih daripada sekadar bermain di lapangan 90 
menit lamanya. Memang lebih dari itu kami masih harus mengerjakan macam-macam. 
Kami membutuhkan persiapan, dokter, psikoterapis, hotel yang nyaman, dan jalur 
pesawat udara yang lancar. Jika kami ingin berhasil, semua itu harus dibuat 
klop sampai sedetail-detailnya, Dengan perih kami telah mempelajari semua itu. 
Dulu tim-tim Afrika memang dilanda kaos. Sekarang semuanya telah berlalu," kata 
Eto'o.

  Eto'o melanjutkan, selama bermain di Eropa, ia sendiri mati-matian belajar 
menjadi profesional. "Saya berusaha untuk selalu rajin, tepat waktu, matang 
mempersiapkan pertandingan, dan tegas dalam meninggalkan alasan-alasan klise 
yang menghambat kemajuan," katanya.

  Eto'o yakin, pemain-pemain Afrika lain, seperti Didier Drogba, Michael 
Essien, dan Emmanuel Adebayor, juga melakukan hal yang sama. "Kami akan bisa 
menjadi cahaya bagi Afrika. Ya, betapa bola menyimpan daya luar biasa di benua 
ini. Bola bukan sekadar permainan, melainkan juga simbol, sekaligus kartu masuk 
untuk mempropagandakan Afrika. Bola mengatakan banyak tentang benua kami: siapa 
berhasil dalam bermain bola, ia tidak dapat lagi hidup di balik bulan, ia 
menjadi modern, dan akan menjadi manusia yang diperhitungkan," kata Eto'o.

  Eto'o melambungkan impiannya setinggi bulan. Ternyata kini impiannya tentang 
Afrika itu runtuh. Tampak wakil-wakil Afrika di Piala Dunia ini tak 
memperlihatkan bahwa mereka telah matang untuk berbangga tentang benua mereka. 
Nigeria terpental dan Afrika Selatan nyaris tersisih. Dan, Kamerun sendiri di 
bawah Eto'o tak menunjukkan diri sebagai singa yang lapar. Malah setelah 
digasak Jepang 0-1 dan didinamit Denmark 1-2, Eto'o dan kawan-kawannya terdepak 
dari perhelatan bola di benua mereka sendiri. Hancurlah sudah harapan Afrika. 
Kalau toh masih ada, harapan itu secara nyata tinggal diletakkan di bahu 
kesebelasan Pantai Gading.

  Itulah tragika sepak bola Afrika. Dengan amat tajam, tragika itu diuraikan 
oleh Christian Ewers di dalam bukunya. Menurut Ewers, sepak bola Afrika 
menyimpan banyak luka. Luka itu terjadi karena sejarah dan karena tarik-menarik 
kekuatan yang terjadi dalam diri pemain-pemain Afrika sendiri. Di satu sisi 
mereka sangat mencintai Afrika dan ingin memberi diri bagi Afrika, tetapi di 
lain pihak, mereka bermimpi dan ingin hidup seperti pemain-pemain Eropa 
sehingga mereka tercerabut dari akar Afrika.

  Kebanyakan pemain Afrika membayangkan, mereka dapat meninggalkan 
kemiskinannya jika mereka boleh bermain di Eropa. Hati mereka tak pernah 
terikat di Afrika karena yang mereka impikan adalah kelimpahan dan glamour 
kehidupan di Eropa. Menurut Ewers, kemenduaan tersebut kiranya bisa diterangkan 
dari teori penulis dan psikiater Franz Fanon tentang kejahatan kolonisasi: di 
satu pihak, mereka yang terjajah benci terhadap tuan-tuan yang menjajah, tetapi 
di lain pihak, dunia tuan-tuan penjajah menjadi impian mereka dan mereka pun 
ingin hidup seperti tuan-tuan penjajah. Kiranya, tragika itu jugalah yang 
menjungkalkan impian sepak bola Afrika.




[Non-text portions of this message have been removed]




[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke