*Nasionalisme berbatas menang kalah* Eddri Sumitra
Beberapa waktu yang lalu para arkeolog di Inggris menemukan puluhan kerangka manusia di sebuah situs yang diduga sebagai reruntuhan benteng Romawi di York Inggris. Melihat kondisi kerangka tulang dan tengkorak, para arkeolog itu berkeyakinan bahwa yang mereka temukan adalah jasad dari para gladiator. Terhukum yang dipaksa untuk menjadi jagoan yang mesti bertahan hidup dengan membunuh terhukum lainnya di amphitheater kuno. Sebuah tradisi yang bengis tetapi menjadi tontonan menarik kala itu. Ternyata Don Fabio Capello bukan orang Italia pertama yang menjadi penguasa di Inggris, enam abad sebelum kelahiran Isa Al Masih kekaisaran Romawi juga pernah bertahta di negeri yang sendu itu. Bila dulu kekuasaan Romawi menjadikan arena gladiator sebagai pengisi waktu senggang, maka Don Fabio penguasa baru dari Italia menjadikan arena sepakbola sebagai sumber kuasa. Capello dipuja kala memuluskan langkah the three lions menuju piala dunia 2010, masalah dia berasal dari reruntuhan pusat kekuasaan Romawi tidak pernah dipertanyakan. Tetapi sekarang, setelah dua kali hasil imbang yang dituai tim Inggris, mungkinkah publik Inggris yang terkenal tajam lidahnya mulai bertanya-tanya, akankah Capello mengubur the three lions layaknya jasad gladiator yang ditemukan di reruntuhan benteng Romawi? Sepakbola dengan segala keindahan dan semangat yang menyertainya, tidak bisa tidak, pada akhirnya pasti berbicara tentang menang dan kalah. Kita mungkin bisa membicarakan keindahan, emosi, kelicikan atau ketabahan sebuah tim tetapi tanpa menang dan kalah pembicaraan kita seolah kapal yang tidak pernah mencapai tepian. Menang dan kalah mempertegas batas perbedaaan kualitas dan itulah sebenarnya yang menjadi sumber kebanggaan. Tim besar seperti Brazil, Italia, Spanyol, Argentina, Jerman atau tim yang punya kenangan akan kebesarannya seperti Inggris, Belanda atau Portugal senantiasa ingin memelihara tradisi kemenangannya, itulah yang membuat Don Fabio misalnya pusing dengan dua hasil seri yang diraih anak asuhnya. Bagaimana dengan tim-tim kecil yang kadangkala baru sekali berlaga dalam piala dunia, mereka selalu datang penuh rasa syukur karena lolos kualifikasi, tetapi diam-diam berharap memperoleh popularitas tinggi dengan menahan tim besar kalau tidak memberi kejutan. Menang kalah memberi batas tegas nasionalisme tanpa kawat duri atau moncong senjata. Pada saat begitu banyak tesis tentang lenyapnya batas-batas identitas nasional karena globalisasi yang didukung oleh perdagangan bebas serta inovasi teknologi transportasi dan komunikasi, sepakbola masih memberi ruang yang luas untuk nasionalisme. Perang pada era milineum ini bukan lagi pilihan yang bajik bagi seorang laki-laki untuk menunjukkan kecintaan pada tanah airnya (atau sekedar menunjukkan bahwa dirinya adalah seorang laki-laki). Kita bisa merunut semua perang yang terjadi saat ini, nyaris nihil kita temukan perang yang didukung oleh segenap elemen bangsa dari suatu negara. Sebuah perang yang mampu menyihir setiap warga negara untuk bergerak dan angkat senjata hampir tidak ada. *Semangat fairplay* Mari kita alihkan pandangan ke arena sepakbola, di tribun penonton kita saksikan, bendera negara tidak hanya berkibar tetapi terlukis dari wajah-wajah penuh gairah. Lagu kebangsaan membuat para pemain seakan-akan tengah menghadapi jihad penghabisan. Gerak laju seorang pemain memberi arti pada emosi sebuah bangsa, pada titik itu muncul kesadaran bahwa semuanya mungkin sepanjang permainan berlangsung dengan adil. Semangat fairplay sepakbola yang memberi ruang kepada tim kecil menahan atau mengalahkan tim besar menyindir ketidakadilan dunia yang terus memperkokoh tirani negara-negara besar di luar penjara kemiskinan negara dunia ketiga. Beberapa malam lalu, saya yakin pasti ada pesta di Beograd sana kala Serbia memberi tangisan 1-0 untuk Jerman. Negara yang sudah lama tercabik-cabik oleh disintegrasi itu selama ini begitu banyak menerima bantuan ekonomi dari Jerman, tetapi di lapangan bola, kedaulatan nasional adalah segalanya. Kita juga menyaksikan semangat Amerika yang tertinggal 2-0 dari Slonevia, The Yanks mampu mengejar ketinggalan hanya karena mereka tidak ingin pujian dari The New York Times kala menahan Inggris akan berubah menjadi kritikan karena tidak bisa mengalahkan negara kecil yang ibukota negaranya sulit dieja. Stadion sepakbola bukan amphitheater, para pemainnya juga bukan gladiator tetapi soal menang dan kalah terkadang keduanya memiliki kesamaan, itu adalah persoalan hidup mati dalam batas-batas tertentu. Kemenangan selalu memberi arti yang besar di lapangan bola. Pada saat sebuah tim memenangkan sebuah pertandingan maka esok harinya media akan mengulas semua hal tentang kemenangan itu, mulai dari strategi pelatih hingga mungkin sejarah terbentuknya bangsa itu. Tetapi pada saat sebuah tim kalah, ulasannya sama persis seperti ekspresi letih seorang pelatih, singkat dan pendek seperti lilin yang nyaris mencair. Kita bisa mengutip ribuan kalimat bijak yang memberi hiburan untuk kekalahan tetapi kalah tetap sebuah kehilangan. Pada titik ini saya setuju dengan John F Kennedi yang pernah mengatakan, “kemenangan memiliki ribuan ayah sementara kekalahan senantiasa menjadi yatim” [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ HAPUS BAGIAN EMAIL YG TIDAK PERLU SEBELUM ME-REPLY. ========================================================== Milis Tabloid BOLA Untuk KELUAR DARI MILIS INI. Kirim Mail kosong (tanpa subject) ke alamat [email protected] ==========================================================Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/bolaml/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/bolaml/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
