Ini buat penggemar Sindhunata :)
Tulisan dia memang bagus, cuman selayaknya tulisan subyektif lainnya tidak 
semua yg dia tulis harus ditelan bulat2..

menurut gw dia lupa bahwa pembauran juga terjadi di dunia sepakbola.
Pemain2 brazil saat ini bukanlah pemain2 jaman Pele/Gerd Muller/Bobby Charlton 
dkk yg kebanyakan pemainnya didominasi pemain liga lokal, sehingga dari junior 
sampe pensiun main di negara-nya sendiri. Dulu cuman penyerang saja yg laku 
melanglang buana ke liga/negara lain. Kini midfield, keeper, bek bahkan 
pelatih, physician, asisten pelatih pun saling membaur dan bertukar 
ilmu/strategy ke liga/negara lain.

Siapapun bisa memainkan Catenaccio skr, sepakbola terstruktur ala Jerman juga 
bisa dilakukan oleh tim manapun. Atraksi sepakbola menyerang ala brazil juga 
sering kita lihat di timnas Argentina, Portugal & Spanyol. Liat aja tim2 afrika 
yg mengandalkan fisik justru memainkan kick & rush. Inggris malah bermain dgn 
strategy ngga jelas ala tim2 asia jaman dulu.

Tidak ada lagi ciri khas sebuah tim yg menjadi paten trademark selamanya. Dan 
kalo dia bilang PD skr membosankan karena hampir semua tim memainkan pola yg 
hampir sama, dia mungkin lupa kalo tim2 itu tidak ada yg berevolusi, bukan 
tidak mungkin peta kekuatan yg tidak berubah membuat piala dunia akan lebih 
membosankan lagi dgn hasil yg mudah ditebak & juara yg itu2 saja.

==================================================
Sepak Bola Global

Oleh Sindhunata

Dalam sejarah, Brasil pernah dijuluki "mistikus bola". Dulu pemain-pemain 
Brasil tak bermain berdasarkan dogma, tata tertib, dan aturan bola yang kaku 
dan klise. Mereka bermain bola dengan cinta yang berasal dari hatinya dan 
membelai bola dengan cinta yang mengalir di kaki, kepala, dan dada mereka. 

Mereka dan bola menyatu dalam cinta. Tak ada yang dapat memisahkan cinta itu, 
juga kegagalan atau kekalahan. Oleh karena itu, mereka bermain bola dengan 
gembira dan tak hanya menargetkan kemenangan semata-mata. Ternyata cinta dan 
kegembiraan bermain bola sering memperolehkan kemenangan bagi mereka. 

Begitulah sepak bola Brasil pada tahun tujuh puluhan. Di kaki pemain-pemain 
mereka, seperti Pele, Jairzinho, Tostao, dan Rivelino, bola melekat serta 
kemudian menggelinding seperti air yang maunya hanya mengalir dan mengalir. 
Pele dan kawan-kawannya seakan telah membebaskan bola dari segala dogma yang 
membelenggunya. 

Apa yang dibuat Pele dan teman-temannya terus dilanjutkan oleh pemain Brasil 
pada tahun delapan puluhan. Muncullah nama-nama, seperti Zico, Cerezo, Falcao, 
dan Socrates. Dengan bola, mereka bermain ibarat menari samba di lapangan 
tengah. Itulah saat romantisme sepak bola Brasil. Kata Socrates, "Saat itu, 
dengan bola, kami menyatakan perasaan kami." 

Socrates memang bermain bola dengan tidak netral. Ia bermain bola dengan 
membawakan perasaan rakyat Brasil. Socrates sendiri dikenal bukan sekadar 
pemain bola, tetapi juga aktivis politik. Ia berusaha untuk tak memisahkan 
antara bola dan perjuangan demokrasi. Sebagai pemain klub Corinthians Sao 
Paulo, ia berjuang agar demokrasi juga ditegakkan dalam dunia bola. 

Maka ia menentang politik "Keamanan dan Ketertiban", yang diagul-agulkan rezim 
pengurus Corinthians yang pada waktu itu sangat otoriter, oportunis, dan 
paternalistis. Bersama rekan-rekannya, ia ingin agar terjadi demokratisasi 
dalam hal relasi di antara klub, fans, pemain, dan pelatih. 

"Entah menang entah kalah, pokoknya harus selalu dengan demokrasi," begitulah 
bunyi slogan Corinthians pada waktu itu. Dan Socrates sendiri bilang, "Saya 
berjuang untuk kebebasan, respek terhadap manusia, kesetaraan, hak bicara yang 
tak dibatasi, dan demokrasi yang profesional." Sebagai pemain bola, ia bertekad 
untuk membela dan memperjuangkan nilai-nilai itu dalam permainan yang 
menghibur, menggembirakan, dan menyenangkan. 

Ternyata pada zaman Socrates, sepak bola tidaklah netral. Sepak bola memihak 
nilai-nilai yang menjadi ciri khas dan pilihan masyarakatnya pada waktu itu. 
Kini tampaknya sepak bola yang memihak nilai itu perlahan-lahan punah dan 
menjadi netral semata-mata. 

Dalam Piala Dunia 2010 ini, Brasil sendiri dituduh telah mengkhianati ciri 
khasnya. Tak ada cinta akan bola pada diri mereka. Yang ada hanyalah target 
kemenangan semata-mata. Mantan Pelatih Brasil Carlos Alberto Torres mengamati, 
"Selecao" di bawah Dunga tak lagi bermain dengan etos permainan Brasil, tetapi 
dengan etos pertahanan yang rapat terkunci dan serangan balik. 

Brasil memang telah mengalahkan Korea Utara, 2-1. Namun, mereka bermain dengan 
apa adanya, tanpa kesegaran dan gairah. Brasil seperti sayur yang sedang layu. 
Mereka mengalahkan lagi Pantai Gading, 3-1. Namun, kemenangan tidak mereka 
peroleh dengan sihir bola yang magis, tetapi bertempur dengan rasa takut 
terhadap lawan, sampai akhirnya mereka larut dalam permainan yang keras. 

Dalam Piala Dunia kali ini, tak hanya Brasil yang kehilangan identitasnya. 
Belanda pun menderita yang sama. Belanda tak memainkan lagi total football-nya. 
Mereka hanya bermain efisien saja. "Kesebelasan 'Oranje' memang tak bermain 
dengan baik, tetapi memperoleh hasil yang baik, " kata Lothar Matthaeus. 
"Belanda bermain dengan cara Jerman," tambahnya. 

Menurut komentator bola, Roland Zorn, Piala Dunia 2010 ini telah 
menjungkirbalikkan asumsi yang hidup selama ini. Belanda bermain seperti 
Jerman. Adapun Jerman sendiri menderita kekalahan pada saat awal, persis 
seperti sering dialami Belanda pada masa lalu. Di luar dugaan, Argentina malah 
menyulap bola, seperti yang biasa dikerjakan Brasil. Sementara Brasil malah 
membela gawangnya dengan sistem pertahanan yang khas Italia saat Italia berjaya 
dengan catenaccio-nya. 

Inggris dan Perancis seperti tak lagi mengenal siapa diri mereka. Mereka 
seperti pemain drama yang ketika tampil di panggung akbar lupa akan teks yang 
telah dihafalkannya. Dan pemain-pemain Afrika tak lagi menghayati permainan 
bola seperti anak-anak manusia yang bermain dengan bebas dan gembira. 

Dengan sedikit nuansa perbedaan yang nyaris tak kelihatan, tim-tim dunia itu 
menampilkan permainan yang netral dan nyaris sama: tak memihak suatu nilai, tak 
mempunyai identitas, tak indah, membosankan, dan asal menang. 

Sesungguhnya dengan memilih Afrika Selatan, FIFA mengharapkan sepak bola akan 
menampilkan warnanya yang lokal, khususnya bagi kesebelasan Afrika sendiri. 
Namun, ternyata yang tampak adalah sepak bola yang nyaris sama: sepak bola 
global. Jangan-jangan dalam bola pun kini ikut terkutuk oleh ramalan John 
Naisbitt: Makin lokal, dan makin global.


Kirim email ke