*Jakarta* - Tuan rumah kembali harus gigit jari dalam turnamen Djarum
Indonesia Open Super Series. Tidak ada satu pun pemain yang mengusung panji
'Merah Putih' yang berhasil jadi jawara.

Harapan terakhir Indonesia adalah Taufik Hidayat. Namun singelar berusia 29
tahun itu harus takluk dari juara bertahan Lee Chong Wei, 19-21, 8-21.

Sebelum Taufik, ada satu pemain Indonesia, Hendra Setiawan, yang bermain di
ganda campuran bersama Anastasia Russkikh. Namun keduanya pun gagal di
tangan duet Polandia, Robert Mateusiak/Nadiezda Zieba.

"Sebagai harapan, saya mohon maaf. Kepada rakyat Indonesia, kepada pencinta
bulutangkis. Saya sudah maksimal. Lain kali mungkin jangan berharap kepada
saya," komentar Taufik usai kekalahannnya.

Taufik benar. Di usianya yang sudah 28 tahun, seharusnya ia tidak sendirian
mengemban nama Indonesia. Para pemain pelapis seperti Sony Dwi Kuncoro dan
Simon Santoso sudah harus tampil ke depan.

Tapi prestasi Sony dan Simon pun masih angin-anginan. Sony pekan lalu juara
di Singapore Open, salah satunya dengan mengalahkan Chong Wei di semifinal,
tapi di Jakarta justru ia yang takluk dari Chong Wei.

Simon pun setali tiga uang. Masih belum kuatnya mental Simon ditengarai
menjadi penyebab kenapa di Indonesia Open kali ini ia sudah takluk dari
Taufik di perempatfinal.

Tidak di tunggal putra, tidak pula di nomor-nomor lain. Ganda putra papan
atas Markis Kido/Hendra Setiawan sudah tersisih di babak kedua dari pasangan
Taiwan Fang Chieh Min/Lee Sheng Mu yang akhirnya keluar sebagai juara.

Demikian pula dengan ganda campuran nomor satu dunia Nova Widianto/Lilyana
Natsir. Beruntung Nova/Butet lebih baik daripada Markis/Hendra karena
kalahnya di semifinal.

Di nomor ganda putri, prestasi terbaik justru diraih Vita Marissa saat
berpasangan dengan Saralee Thoungthongkam dari Thailand dengan menjejak
semifinal. Ganda putri lainnya? Maksimal perempatfinal.

Dari tunggal putri, Ana Rovita mencuri perhatian dengan lolos ke semifinal.
Tapi Ana adalah pemain dari klub, sementara para pemain pelatnas sudah
bertumbangan sebelumnya.

Melihat situasi itu, Taufik dan pelatihnya Mulyo Handoyo kembali menyerukan
adanya evaluasi menyeluruh atas pencapaian para pebulutangkis Indonesia di
turnamen-turnamen dunia.

"Saatnya PBSI melakukan evaluasi menyeluruh atas semuanya. Harus dicari
mengapa bisa terjadi kegagalan ini. Saya yang dari luar cuma bisa memberi
masukan," tandas Taufik.

* ( arp / arp ) *

=============================
Sometimes, everything I Want comes after I stop looking for it


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke