> Bangsa Macam Apa Ini?
> Bangsa Macam Apa Ini?
>
> detikcom - Den Haag, Ribuan mayat rakyat Aceh
> bergelimpangan, kok bisa-bisanya sebagian pejabat
> tetap
> mengagendakan perayaan tahun baru? Bangsa macam apa
> ini?
> Peringatan apa lagi yang dapat menghaluskan hati
> mereka dan
> membuatnya peka? Gambar-gambar dari Aceh mestinya
> lebih jelas dari
> ribuan kata-kata. Jerit tangis anak-anak yang
> kehilangan orangtua,
> orangtua kehilangan anak-anaknya, atau orangtua dan
> anak-anaknya,
> sekeluarga tewas sekaligus, hingga tak mampu lagi
> untuk menangis.
> Mayat-mayat bergelimpangan. Ribuan. Dan entah berapa
> lagi yang
> belum ditemukan atau tak akan pernah ditemukan.
> Harta kekayaan
> mereka ludes. Semua lenyap dalam sekejap. Sebagian
> yang selamat
> mengalami kelaparan dan epidemi siap meledak di
> sana.
> Tidakkah semua itu menyentuh hati untuk berprihatin
> dan lebih
> memperhatikan para korban? Energi apa yang mendorong
> pemerintah DKI
> dan pemerintah kota Semarang untuk tetap merayakan
> malam tahun
> baru? Apakah hati para pejabat di sana telah mati
> dan membatu?
> Apakah mereka tidak malu dengan bangsa-bangsa asing?
> Peristiwa di
> Aceh itu menjadi perhatian besar bangsa-bangsa asing
> tetangga dan
> yang jauh-jauh. Mereka lintang-pukang memobilisir
> dana dan bantuan
> untuk disalurkan ke Aceh dan kawasan lainnya yang
> menjadi korban
> bencana.
> Di Belanda, pemerintah langsung membuka brankas dan
> menyediakan
> sumbangan awal 2 juta euro. Jumlah ini, menurut
> Menkeu/Wakil PM
> Gerrit Zalm masih bisa bertambah. Masyarakat
> Belanda, melalui
> rekening Giro 555 dalam tempo dua hari mampu
> mengumpulkan dana 2,7
> juta euro. Sekadar tahu, ada walikota di Belanda
> sampai menyerukan
> warganya untuk mengumpulkan 1 euro per kepala dan
> uangnya
> dimasukkan ke rekening itu. Lalu masyarakat
> Indonesia, termasuk
> para mahasiswa yang dananya cukup cekak, dari
> Groningen hingga
> Eindhoven, juga sigap berlomba-lomba menggalang dana
> untuk
> saudara-saudaranya di Aceh.
> Lha kok pejabat pemerintah DKI dan kota Semarang,
> yang jaraknya
> dekat dengan Aceh, tetap mau merayakan tahun baru.
> Padahal bau
> mayat-mayat saudaraya di Aceh yang membusuk mungkin
> saja menembus
> hingga ke kamar-kamar tidur mereka. Kalau alasannya
> perayaan tahun
> baru itu untuk penggalangan dana, sungguh itu alasan
> bebal dan
> tidak kreatif. Para walikota dan masyarakat di
> Belanda terbukti
> punya cara lain untuk mengumpulkan dana, tanpa harus
> hura-hura.
> Jika para pejabat itu masih tetap mengagendakan
> perayaan tahun
> baru, maka masyarakat yang masih berhati nurani
> perlu memboikotnya.
> Tunjukkan tenggang rasa sebagai satu bangsa. Sakit
> di satu tangan
> seluruh badan ikut merasakan. Boikot dan
> berprihatinlah. Bukankah
> warga Jakarta, di bawah gubernur yang sama, pernah
> merasakan
> pedihnya diterjang banjir dan mendapat bantuan dari
> saudara-saudara
> lainnya?
> Jika masyarakat masih saja mendatangi perayaan itu,
> maka kita tidak
> tahu lagi bangsa macam apa kita ini? (Eddi Santosa)
Do you Yahoo!?
Take Yahoo! Mail with you! Get it on your mobile phone.
| Yahoo! Groups Sponsor | |
|
|
Yahoo! Groups Links
- To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/bonsi97/
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
