Note: forwarded message attached.


                
__________________________________ 
Do you Yahoo!? 
Yahoo! Small Business - Try our new resources site!
http://smallbusiness.yahoo.com/resources/ 

------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help save the life of a child.  Support St. Jude Children's Research Hospital's
'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/i8TXDC/5WnJAA/HwKMAA/qxiolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/bonsi97/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 
--- Begin Message ---
----- Forwarded by santi Enviro/YAMAHA on 23/04/2005 09:22 -----
[EMAIL PROTECTED]

21/04/2005 16:33

To
[EMAIL PROTECTED]
cc
Subject
FW : 1 ons bukan 100 gram





1 ONS BUKAN 100 GRAM.

PENDIDIKAN YANG MENJADI BOOMERANG.

Seorang teman saya yang bekerja pada sebuah perusahaan asing, di PHK akhir
tahun lalu. Penyebabnya adalah kesalahan menerapkan dosis pengolahan
limbah, yang telah berlangsung bertahun-tahun. Kesalahan ini terkuak ketika
seorang pakar limbah dari suatu negara Eropa mengawasi secara langsung
proses pengolahan limbah yang selama itu dianggap selalu gagal. Pasalnya
adalah, takaran timbang yang dipakai dalam buku petunjuknya menggunakan
satuan pound dan ounce. Kesalahan fatal muncul karena yang bersangkutan
mengartikan 1 pound = 0,5 kg. dan 1 ounce (ons) = 100 gram, sesuai
pelajaran yang ia terima dari sekolah. Sebelum PHK dijatuhkan, teman saya
diberi tenggang waktu 7 hari untuk membela diri dgn. cara menunjukkan acuan
ilmiah yang menyatakan 1 ounce (ons) = 100 g. Usaha maksimum yang
dilakukan hanya bisa menunjukkan Kamus Besar Bahasa Indonesia yang
mengartikan ons (bukan ditulis ounce) adalah satuan berat senilai 1/10
kilogram. Acuan lain termasuk tabel-tabel konversi yang berlaku sah atau
dikenal secara internasional tidak bisa ditemukan.

SALAH KAPRAH YANG TURUN-TEMURUN.

Prihatin dan penasaran atas kasus diatas, saya mencoba menanyakan hal ini
kepada lembaga yang paling berwenang atas sistem takar-timbang dan ukur di
Indonesia, yaitu Direktorat Metrologi . Ternyata, pihak Dir. Metrologi-pun
telah lama melarang pemakaian satuan ons untuk ekivalen 100 gram. Mereka
justru mengharuskan pemakaian satuan yang termasuk dalam Sistem
Internasional (metrik) yang diberlakukan resmi di Indonesia. Untuk ukuran
berat, satuannya adalah gram dan kelipatannya. Satuan Ons bukanlah bagian
dari sistem metrik ini dan untuk menghilangkan kebiasaan memakai satuan ons
ini, Direktorat Metrologi sejak lama telah memusnahkan semua anak timbangan
(bandul atau timbal) yang bertulisan "ons" dan "pound".

Lepas dari adanya kebiasaan kita mengatakan 1 gram dan 1 pound =
500 gram, ternyata tidak pernah ada acuan sistem takar-timbang legal atau
pengakuan internasional atas satuan ons yang nilainya setara dengan 100
gram. Dan dalam sistem timbangan legal yang diakui dunia internasional,
tidak pernah dikenal adanya satuan ONS khusus Indonesia. Jadi, hal ini
adalah suatu kesalahan yang diwariskan turun-temurun. Sampai kapan mau
dipertahankan ?

BAGAIMANA KESALAHAN DIAJARKAN SECARA RESMI ?

Saya sendiri pernah menerima pengajaran salah ini ketika masih di bangku
sekolah dasar. Namun, ketika saya memasuki dunia kerja nyata, kebiasaan
salah yang nyata-nyata diajarkan itu harus dibuang jauh karena akan
menyesatkan.

Beberapa sekolah telah saya datangi untuk melihat sejauh mana penyadaran
akan penggunaan sistem takar-timbang yang benar dan sah dikemas dalam
materi pelajaran secara benar, dan bagaimana para murid (anak-anak kita)
menerapkan dalam hidup sehari-hari. Sungguh memprihatinkan. Semua sekolah
mengajarkan bahwa 1 gram dan 1 pound = 500 gram, dan anak-anak
kita pun menggunakannya dalam kegiatan sehari-hari. "Racun" ini sudah
tertanam didalam otak anak kita sejak usia dini.

Dari para guru, saya mendapatkan penjelasan bahwa semua buku pegangan yang
diwajibkan atau disarankan oleh Departemen Pendidikan Indonesia mengajarkan
seperti itu. Karena itu, tidaklah mungkin bagi para guru untuk melakukan
koreksi selama Dep. Pendidikan belum merubah atau memberi-kan petunjuk
resmi.

TANGGUNG JAWAB SIAPA ?

Maka, bila terjadi kasus-kasus serupa diatas, Departemen Pendidikan kita
jangan lepas tangan. Tunjukkanlah kepada masyarakat kita terutama kepada
para guru yang mengajarkan kesalahan ini, salah satu alasannya agar tidak
menjadi beban psikologis bagi mereka ;
"acuan sistem timbang legal yang mana yang pernah diakui / diberlakukan
secara internasional , yang menyatakan bahwa :

1 ons adalah 100 gram, 1 pound adalah 500 gram."?

Kalau Dep. Pendidikan tidak bisa menunjukkan acuannya, mengapa hal ini
diajarkan secara resmi di sekolah sampai sekarang ?

Pernahkan Dep. Pendidikan menelusuri, dinegara mana saja selain Indonesia
berlaku konversi 1 gram dan 1 pound = 500 gram ?

Patut dipertanyakan pula, bagaimana tanggung jawab para penerbit buku
pegangan sekolah yang melestarikan kesalahan ini ?

Kalau Dep. Pendidikan mau mempertahankan satuan ons yang keliru ini,
sementara pemerintah sendiri melalui Direktorat Metrologi melarang
pemakaian satuan "ons" dalam transaksi legal, maka konsekwensinya ialah
harus dibuat sistem baru timbangan Indonesia (versi Depdiknas). Sistem baru
inipun harus diakui lebih dulu oleh dunia internasional sebelum diajarkan
kepada anak-anak. Perlukah adanya sistem timbangan Indonesia yang
konversinya adalah 1 ons (Depdiknas) = 100 gram dan 1 pound (Depdiknas) =
500 gram. ? Bagaimana "Ons dan Pound (Depdiknas)" ini dimasukkan dalam
sistem metrik yang sudah baku diseluruh dunia ? Siapa yang mau pakai ?.

HENTIKAN SEGERA KESALAHAN INI.

Contoh kasus diatas hanyalah satu diantara sekian banyak problema yang
merupakan akibat atau korban kesalahan pendidikan. Saya yakin masih banyak
kasus-kasus senada yang terjadi, tetapi tidak kita dengar. Salah satu
contoh kecil ialah, banyak sekali ibu-ibu yang mempraktekkan resep kue dari
buku luar negeri tidak berhasil tanpa diketahui dimana kesalahannya.

Karena ini kesalahan pendidikan, masalah ini sebenarnya merupakan masalah
nasional pendidikan kita yang mau tidak mau harus segera dihentikan.

Departemen Pendidikan tidak perlu malu dan basa-basi diplomatis mengenai
hal ini. Mari kita pikirkan dampaknya bagi masa depan anak-anak Indonesia.
Berikan teladan kepada bangsa ini untuk tidak malu memperbaiki kesalahan.

Sekalipun hanya untuk pelajaran di sekolah, dalam hal Takar-Timbang-Ukur,
Dep. Pendidikan tidak memiliki supremasi sedikitpun terhadap Direktorat
Metrologi sebagai lembaga yang paling berwenang di Indonesia. Mari kita
ikuti satu acuan saja, yaitu Direktorat Metrologi.

Era Globalisasi tidak mungkin kita hindari, dan karena itu anak-anak kita
harus dipersiapkan dengan benar. Benar dalam arti landasannya, prosesnya,
materinya maupun arah pendidikannya. Mengejar ketertinggalan dalam hal
kualitas SDM negara tetangga saja sudah merupakan upaya yang sangat berat.
Janganlah malah diperberat dengan pelajaran sampah yang justru bakal
menyesatkan. Didiklah anak-anak kita untuk mengenal dan mengikuti aturan
dan standar yang berlaku SAH dan DIAKUI secara internasional, bukan hanya
yang rekayasa lokal saja. Jangan ada lagi korban akibat pendidikan yang
salah. Kita lihat yang nyata saja, berapa banyak TKI diluar negeri yang
berarti harus mengikuti acuan yang berlaku secara internasional.

Anak-anak kita memiliki HAK untuk mendapatkan pendidikan yang benar sebagai
upaya mempersiapkan diri menyongsong masa depannya yang akan penuh dengan
tantangan berat.

ACUAN MANA YANG BENAR ?

Banyak sekali literatur, khususnya yang dipakai dalam dunia tehnik, dan
juga ensiklopedi ternama seperti Britannica, Oxford, dll. (maaf, ini bukan
promosi) menyajikan tabel-tabel konversi yang tidak perlu diragukan lagi.

Selain pada buku literatur, tabel-tabel konversi semacam itu dapat dijumpai
dengan mudah di-dalam buku harian / diary/agenda yang biasanya diberikan
oleh toko atau produsen suatu produk sebagai sarana promosi.

Salah satu konversi untuk satuan berat yang umum dipakai SAH secara
internasional adalah sistem avoirdupois / avdp. (baca : averdupoiz).

1 ounce/ons/onza
=
28,35 gram (bukan 100 g.)

1 pound
=
453 gram (bukan 500 g.)

1 pound
=
16 ounce (bukan 5 ons)

Bayangkan saja, bagaimana jadinya kalau seorang apoteker meracik resep obat
yang seharusnya hanya diberi 28 gram, namun diberi 100 gram. Apakah
kesalahan semacam ini bisa di kategorikan sebagai malapraktek ?
Pelajarannya memang begitu, kalau murid tidak mengerti, dihukum !!! Jadi,
kalau malapraktik, logikanya adalah tanggung jawab yang mengajarkan. (ini
hanya gambaran / ilustrasi salah satu akibat yang bisa ditimbulkan, bukan
kejadian sebenarnya, tetapi dalam bidang lain banyak sekali terjadi)

KALAU BUKAN KITA YANG MENYELAMATKAN - LALU SIAPA ?.

Melalui tulisan ini saya ingin mengajak semua kalangan, baik kalangan
pemerintah, akademis, profesi, bisnis / pedagang, sekolah dan orang tua dan
juga yang lainnya untuk ikut serta mendukung penghapusan satuan "ons dan
pound yang keliru" dari kegiatan kita sehari-hari. Pengajaran sistem
timbang dgn. satuan Ounce dan Pound seharusnya diberikan sebagai
pengetahuan disertai kejelasan asal-usul serta rumus konversi yang benar.
Hal ini untuk membuang kebiasaan salah yang telah melekat dalam kebiasaan
kita, yang bisa mencelakakan / menyesatkan anak-anak kita, generasi penerus
bangsa ini.

# # # # #

Tulisan ini akan dikirimkan kepada media masa, baik cetak maupun elektronik
yang mau menyiarkannya demi kepentingan bangsa. Dipersilahkan mengubah
formatnya sesuai dengan ketentuan penyiaran masing-masing.

Juga kepada sekolah-sekolah, pabrik-pabrik serta LSM dan masyarakat umum,
untuk diketahui secara luas.

Bila anda merasa sependapat dengan saya, setuju untuk menghentikan
kesalahan ini demi masa depan anak bangsa Indonesia, silahkan diperbanyak /
difoto copy dan disebar-luaskan sendiri.

Bila anda ragu-ragu terhadap kebenaran tulisan ini, silahkan menanyakannya
langsung kepada Direktorat Metrologi atau Balai Metrologi setempat dikota
anda berada.

Terima kasih saya ucapkan kepada anda yang peduli dan mau berpar-tisipasi
menyelamatkan masa depan anak-anak Indonesia. Semoga Tuhan memberkati upaya
ini, yang kita lakukan dengan tulus ikhlas tanpa pamrih sedikitpun.

# # # # #

Ditengah orang-orang waras, dia yang lain sendiri dianggap gila.

Ditengah orang-orang gila, dia yang waras justru dianggap gila.

Memang banyak orang yang benar, tetapi jangan diartikan bahwa yang diikuti
banyak orang itulah yang pasti dan selalu benar.

LEMBAR PELENGKAP

TAKAR - UKUR - TIMBANG MENGIKUTI

SISTEM METRIK YANG BERLAKU SEJAK THN 1799.

Kuantitas
Satuan
Simbol
Keterangan

Panjang
meter
m
bukan mtr.

Luas
meter persegi
m2

Isi / volume
meter kubik
m3

Berat
gram
g
bukan gr.

Takaran
liter
l
1 l = 1000 cm3 (cc)

Suhu / temperatur
derajat Celcius
oC

BEBERAPA SEBUTAN / AWALAN UNTUK FAKTOR PENGALI

DALAM SISTEM METRIK

AWALAN
FAKTOR PENGALI
SIMBOL / SINGKATAN
CONTOH PEMAKAIAN

giga
1.000.000.000
G
GHz.

mega
1.000.000
M
MW

kilo
1.000
k
km

hecto
100
h
ha

deka
10
da
dam

deci
0,1
d
dm

centi
0,01
c
cm

milli
0,001
m
ml

micro
0,000.001
m
mF

dan seterusnya.

Dalam sistem metrik memang dikenal 1 are = 100 m2 khusus untuk ukuran tanah
yang diakui sah secara internasional.

Untuk satuan ONS yang mengartikan kelipatan 100 g., apalagi POUND yang
mengartikan kelipatan 500 g., tidak pernah ada didalam sistem metrik maupun
non-metrik / imperial yang pernah diberlakukan sah secara internasional.

# # # # #

RANGKUMAN SARAN-SARAN, KRITIK DAN KOMENTAR

1. Banyak orang berpendapat bahwa ONS kita ini tidak ada kaitannya sama
sekali dengan OUNCE.

a. Kalau kita baca kamus-kamus Inggris-Indonesia dan sebaliknya, jelas
bahwa terjemahan "ounce adalah ons" dan "pound adalah pon" begitu pula
sebaliknya dari Indonesia-Inggris. Bahkan ada beberapa kamus yang
menterjemahkan "ounce menjadi ons, berat 100 gram." Tetapi ada juga yang
menterjemahkan "ons, 28,3 gram".

Nara sumber : Jumlah : 2 orang

Profesi : Guru dan Dosen Bahasa Inggris.

b. Beberapa guru berpendapat bahwa kata "ons" jelas bukan asli bahasa
Indonesia, karena bahasa Indonesia hanya mengenal 2 konsonan rangkap, yaitu
"ng" dan "ny". Tidak ada konsonan rangkap "ns". Contoh : "Helm" kalau di
Indonesiakan menjadi "helem". Kalau "ons" tidak bisa dijadikan "ones" tentu
karena menyangkut suatu acuan yang harus dilafalkan secara benar, sama
seperti "gram" yang tidak boleh ditulis menjadi "geram".

Nara sumber : Jumlah : 2 orang

Profesi : Guru Bahasa Indonesia.


c. Beberapa orang lanjut usia yang cukup terpelajar membenarkan bahwa "ons
dan pound" itu bawaan Belanda, bukan asli Indonesia, karena sudah dipakai
sebelum Indonesia merdeka dan diajarkan juga disekolah HIS maupun HCS
(masih jaman penjajahan).

Beberapa diantara mereka ingat bahwa acuan konversi yang diterapkan di
Indonesia tidak sama dengan yang diterapkan di Belanda.

Nara sumber : Jumlah : 7 orang. Usia : 77 s/d. 87 tahun.

Pendidikan terendah : HCS / HIS.

Pendidikan tertinggi : Sarjana

Profesi terakhir : Guru, Kontraktor, Dokter, Pendeta, PN.


2. Acuan internasional yang menyatakan 1 gram , 1 pound = 500
gram jelas-jelas tidak pernah ada.

Bahkan Acuan nasional (kalaupun ada dulu-dulunya) tidak bisa / tidak
boleh dipergunakan lagi semenjak diundangkannya UU no.2 tahun 1981 tentang
Metrologi Legal, yang mencabut dan membatalkan Ijkordonnantie 1.049
Staatsblad nomor 175.

Nara sumber : Jumlah : 1 orang.

Profesi : tidak dikenal.

3. Penerbit tidak seharusnya dimintai pertanggung-jawaban karena semua
materi kurikulum yang harus dibukukan telah mendapat persetujuan terlebih
dulu dari Dep. Pendidikan.

Nara sumber : Jumlah : 1 orang.

Profesi : Pengusaha.

4. Tidak perlu memperlebar masalah / mendramatisir dengan timbangan versi
depdiknas dan sebagainya. Yang penting bagaimana kesalahan ini bisa segera
diakhiri.

Nara Sumber : Jumlah : 1 orang.

Profesi : tidak dikenal.

5. Terkejut dan syok berat tapi Setuju bahwa kita harus menghentikan
kebiasaan salah selama ini dan membiasakan diri menggunakan Sistem
Internasional yang berlaku. Perlu pengumuman resmi dari pemerintah dan
penyuluhan masyarakat melalui instansi yang berwenang.

Nara sumber : Jumlah : lebih dari 100 orang.

Profesi : Guru, Dosen, Karyawan,
Mahasiswa, Dokter.

6. Para guru tidak bisa dipersalahkan karena mereka hanya melaksanakan apa
yang telah menjadi kebijakan nasional pendidikan yang dikeluarkan oleh Dep.
Pendidikan.

Nara sumber : Jumlah 14 orang.

Profesi : Guru, Ibu Rmh.Tangga,
Karyawan.

7. Di dalam Dep. Pendidikan ada bagian yang khusus melakukan Penelitian,
Pengkajian dan Pengembangan. Kalau ini benar-benar suatu kesalahan, ..
.(hanya geleng-geleng kepala)

Nara sumber : Jumlah : 1 orang

Profesi : Dosen.

8. Bukankah semua pegawai Dir. Metrologi memiliki anak yang juga sekolah di
Indonesia ? Mengapa diam saja ?

Nara sumber : Jumlah : 1 orang.

Profesi : Kep. Sekolah

9. Sejauh pengetahuan saya, hanya Indonesia yang menerapkan konversi 1 ons
= 100 gram. Mungkin karena itulah banyak yang menganggap ons itu khusus
Indonesia. Kita memang dianjurkan untuk mencintai produk-produk Indonesia,
tetapi yang satu ini jangan.

Mari dihentikan bersama-sama.

Nara sumber : Jumlah : 1 orang.

Profesi : GM Hotel

10. Bisa-bisa ini produk akal-akalan penjajah (VOC) dulu untuk menipu
raja-raja kita. Beli rempah-rempah di Indonesia 1 ons dapat 100 gram,
tetapi dijual di Eropa 1 ons hanya 28 gram.

Mengapa bisa keterusan sampai sekarang ? Harus dihentikan.

Nara sumber : jumlah : 1 orang.

Profesi : Instalatir.

11. Pantas saja, anak saya selalu frustrasi kalau menghitung berat badan
petinju yang ditayangkan di TV. Selalu tidak cocok dengan hitungannya.
Harus segera dihentikan.

Nara sumber : Jumlah : 1 pasutri

Profesi : Anggota Polri & guru SD.

12. Dep. Pendidikan harus mengeluarkan pernyataan resmi, baik kepada
sekolah maupun masyarakat, agar diketahui secara luas.

"Bahwa pelajaran 1 g. adalah pengetahuan tentang
timbangan yang sifatnya NORMATIF, yang merupakan kebiasaan beberapa daerah
di Indonesia. Karena itu, tidak boleh dijadikan acuan ilmiah, tidak boleh
dipakai dalam transaksi legal, tidak boleh dipakai untuk acuan konversi
formal / legal, misalnya dalam pekerjaan, pembuatan surat-surat resmi dll."

Nara sumber : Jumlah : 2 orang.

Profesi : Manager Personalia, Manager
Engineering.

# # # # #



(kritik, saran dan komentar diatas selain saya terima dalam bentuk surat,
email, juga pernyataan lisan dari wawancara dengan kepala sekolah, guru,
karyawan pabrik, praktisi, dokter, teknisi, dan warga masyarakat. Terakhir
diterima tgl. 16-04-05)

<<< Marsh: Global Strength - Asia Know-how ...  http://www.marsh-asia.com >>>




Kunjungi arsip cerita motivasi di kafe-kantor.com

********************************************************************
untuk berlangganan : [EMAIL PROTECTED]
untuk berhenti     : [EMAIL PROTECTED]
untuk mengirim     : [EMAIL PROTECTED]
email moderator    : [EMAIL PROTECTED]
********************************************************************



--- End Message ---

Kirim email ke