"Rizki, Nugroho" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: "Rizki, Nugroho" <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Wed, 8 Feb 2006 19:19:39 +0800
Subject: [Himti-97] OOT:Kesehatan Gigi

 

 
Berkaca Pada Kasus  Leysus

oleh Ahmad Syaify *

PELAWAK kondang Leysus  yang memiliki nama asli Winarso, meninggal dunia awal Januari lalu di usia  relatif muda, 43 tahun.  Kematiannya bukan saja meninggalkan duka mendalam bagi  keluarga dan dunia lawak Indonesia, tetapi juga menyisakan tanda tanya  mengenai penyebab kematiannya.

Mula-mula ia  dikabarkan sakit gigi biasa. Ditambalkan malah bengkak. Dibawa lagi ke dokter  gigi, disarankan minum obat. Rasa sakit agak reda sebentar, tetapi bengkaknya  semakin besar. Karena sudah kumat-kumatan, keluarga tidak terlalu cemas dengan  sakit gigi Leysus. Sampai kemudian  muncul gejala aneh: tiba-tiba Leysus merasakan lunglai pada sebelah kaki dan tangannya. Bicaranya cedal. Ia terkena gejala stroke.

Kepada beberapa  media infotainment dan media cetak,keluarga Leysus menuturkan bahwa semua itu  berawal dari sakit gigi. Hal tersebut diperkuat oleh pernyataan seorang dokter  yang merawat Leysus, bahwa pelawak asal Malang ini mengidap kanker otak yang  sudah menyebar (metastase), dipicu oleh giginya yang  terinfeksi.

Tentu saja  kasus kematian Leysus yang berawal dari tambalan gigi, menimbulkan kekhawatiran  pada sebagian masyarakat. Benarkah infeksi gigi bisa menyebar ke organ-organ  vital tubuh? Benarkah stroke dapat bersumber dari gigi yang bermasalah?  Bagaimana duduk perkaranya?

Teori focal infeksi

Jawaban atas pertanyaan di  atas, bisa dirunut dari teori focal infeksi yang banyak mendapat perhatian  selama
abad 19 dan  awal abad 20. Teori ini menyebutkan bahwa infeksi di rongga mulut  bertanggungjawab atas inisiasi dan progresi berbagai penyakit inflamasi  seperti radang sendi, tukak lambung, dan radang usus  buntu.

Kemajuan  dalam klasifikasi dan identifikasi kuman bakteri rongga mulut dan bidang  imunologi, semakin meyakinkan adanya peran penting infeksi gigi terhadap  berbagai penyakit sistemik seperti penyakit jantung dan pembuluh darah, penyakit  paru, penyakit gula, stroke, kanker, dsb
Juga menjadi semakin jelas bahwa  gigi dan rongga mulut dapat menjadi tempat asal bagi desiminasi mikroorganisme penyebab penyakit ke bagian tubuh lain.

Sejumlah  studi epidemiologis mengusulkan bahwa infeksi rongga mulut, khususnya radang  gusi (gingivitis) dan jaringan pendukung gigi(periodontitis) merupakan suatu  faktor risiko bagi penyakit sistemik.

Jumlah bakteri di rongga mulut mencapai ratusan juta. Xiajing  Li dkk(2000) mencatat lebih dari 1011 bakteri dalam setiap miligram plak  gigi. Plak adalah semacam lendir yang senantiasa menempel pada permukaan gigi.
Memang tidak semua bakteri rongga mulut membahayakan. Sebagian besar justru dibutuhkan sebagai flora normal mulut. Bakteri yang potensial  menimbulkan penyakit gigi, dan banyak pula dijumpai
pada penyakit sistemik yaitu  golongan bakteri anaerob gram negatif. Antara lain, P. Gingivalis, B.  Intermedius, dan A. Actinomycetemcommitans.
Bakteri-bakteri ini dominan  pada radang gusi dan radang sekitar ujung akar gigi sampai terjadi bengkak  bernanah abses) seperti dialami almarhum Leysus.

Penyebaran lewat  darah

Bakteri rongga mulut dapat menyebar melalui aliran  darah, disebut bakteriemia. Yang menyebar bisa bakteri itu sendiri maupun racun  yang dihasilkannya (endotoxin/exotoxin).

Beberapa penelitian mengenai  bakteriemia ini layak disimak. Bakteriemia diamati pada 100% pasien setelah  cabut gigi, 70% setelah pembersihan karang gigi, pada 55% setelah pembedahan  gigi geraham bungsu, 20% setelah perawatan akar gigi, dan 55% setelah operasi  amandel.

Penelitian melibatkan 735 anak-anak yang menjalani perawatan  gigi busuk, menemukan 9% anak-anak mengalami bakteriemia. Penelitian lain  menunjukkan
penyebaran bakteri setelah perawatan akar gigi. Dan, kurang dari 1  menit setelah prosedur rongga mulut, kuman dari gigi yang terinfeksi telah mencapai jantung, paru, dan sistem kapiler darah tepi.

Pada kondisi  kesehatan mulut normal, hanya sejumlah kecil bakteri fakultatif dan tidak  membahayakan masuk ke dalam aliran darah. Namun, pada kondisi kebersihan mulut  jelek, jumlah bakteri pada permukaan gigi meningkat 2 - 10 kali lipat.  Sehingga peluang terjadinya bakteriemia juga lebih besar. Kecuali lewat  bakteriemia, adanya rangkaian reaksi imunologis yang dipicu oleh infeksi di  rongga mulut, merupakan penjelasan lain mengapa problem gigi dapat merambat  ke penyakit-penyakit serius sampai berujung kematian seperti almarhum  Leysus.

Gigi dan gusi sebetulnya tidak melekat erat, melainkan ada celah  sekitar -2 mm disebut kantung gusi (sulcus gingiva). Daerah inilah yang paling rentan terjadi infeksi bakteri dan peradangan, sehingga timbul penyakit periodontal. Tanda-tandanya; gusi memerah, bengkak, mudah  berdarah, mungkin disertai kegoyahan gigi.

Grossi dan Genco (1998)  mengemukakan 17 macam penyakit sistemik yang berhubungan langsung dengan  penyakit periodontal, termasuk penyakit gula, jantung, kanker dan stroke.  Beberapa penelitian retrospektif
membuktikan, pasien penyakit jantung,  stroke, DM, umumnya kebersihan mulutnya lebih jelek dibanding pasien normal. Dari uraian di atas dapat disimpulkan, bahwa gigi dan  mulut bisa menjadi pemicu dan memperparah berbagai penyakit sistemik.

Menjaga kesehatan gigi dan mulut sangat penting bukan saja  untuk mencegah penyakit oral, melainkan juga untuk memelihara kesehatan umum  yang baik.

Kematian pelawak kondang Leysus, hendaknya menjadi cermin  bagi kita semua supaya lebih care dalam 'menjaga mulut' dan seisinya. q -  s

*) Drg. Ahmad Syaify, Sp Perio , Dosen FKG UGM dan mahasiswa S3
Pascasarjana UGM.


Relax. Yahoo! Mail virus scanning helps detect nasty viruses!

SPONSORED LINKS
School education Jakarta Pre school education
Bonsi Bonsi tree


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke