Title: FW: [info]Dealing with Difficult People

------ Forwarded Message
Subject: [TI97_ITI] [info]Dealing with Difficult People


Orang Brengsek Guru Sejati            

Entah apa dan di mana menariknya, Bank Indonesia amat senang mengundang
saya untuk menyampaikan presentasi dengan judul Dealing With Difficult
People. Yang jelas, ada ratusan staf bank sentral ini yang demikian tertarik
dan tekunnya mendengar ocehan saya. Motifnya, apa lagi kalau bukan dengan
niat untuk sesegera mungkin jauh dan bebas dari manusia-manusia sulit
seperti keras kepala, suka menghina, menang sendiri, tidak mau kerja sama dll.

Di awal presentasi, hampir semua orang bernafsu sekali untuk membuat
manusia sulit jadi baik. Dalam satu hal jelas, mereka yang datang
menemui saya menganggap dirinya bukan manusia sulit, dan orang lain di luar sana
sebagian adalah manusia sulit.

Namun, begitu mereka saya minta berdiskusi di antara mereka sendiri
untuk memecahkan persoalan kontroversial, tidak sedikit yang memamerkan
perilaku-perilaku manusia sulit. Bila saya tunjukkan perilaku mereka;
seperti keras kepala, menang sendiri, dll dan kemudian saya tanya
apakah itu termasuk perilaku manusia sulit, sebagian dari mereka hanya
tersenyum kecut.

Bertolak dari sinilah, maka sering saya menganjurkan untuk membersihkan
kaca mata terlebih dahulu, sebelum melihat orang lain. Dalam banyak
kasus, karena kita tidak sadar dengan kotornya kaca mata maka orangpun
kelihatan kotor. Dengan kata lain, sebelum menyebut orang lain sulit, yakinlah kalau
bukan Anda sendiri yang sulit. Karena Anda amat keras kepala, maka orang
berbeda pendapat sedikitpun jadi sulit. Karena Anda amat mudah tersinggung,
maka orang yang tersenyum sedikit saja sudah membuat Anda jadi kesal.

Nah, pembicaraan mengenai manusia sulit hanya boleh dibicarakan dalam
keadaan kaca mata bersih dan bening. Setelah itu, saya ingin mengajak
Anda masuk ke dalam sebuah pemahaman tentang manusia sulit. Dengan meyakini
bahwa setiap orang yang kita temui dalam hidup adalah guru kehidupan,
maka guru terbaik kita sebenarnya adalah manusia-manusia super sulit.
Terutama karena beberapa alasan.

Pertama, manusia super sulit sedang mengajari kita dengan menunjukkan
betapa menjengkelkannya mereka. Bayangkan, ketika orang-orang ramai
menyatukan pendapat, ia mau menang sendiri. Tatkala orang belajar
melihat dari segi positif, ia malah mencaci dan menghina orang lain. Semakin
sering kita bertemu orang-orang seperti ini, sebenarnya kita sedang semakin
diingatkan untuk tidak berperilaku sejelek dan sebrengsek itu. Saya
berterimakasih sekali ke puteri Ibu kost saya yang amat kasar dan suka
menghina dulu. Sebab, dari sana saya pernah berjanji untuk tidak
mengizinkan putera-puteri saya sekasar dia kelak. Sekarang, bayangan tentang anak
kecil yang kasar dan suka menghina, menjadi inspirasi yang amat membantu pendidikan
anak-anakdi rumah. Sebab, saya pernah merasakan sendiri betapa sakit hati dan
tidak enaknya dihina anak kecil.

Kedua, manusia super sulit adalah sparring partner dalam membuat kita
jadi orang sabar. Sebagaimana sering saya ceritakan, badan dan jiwa ini
seperti karet. Pertama ditarik melawan, namun begitu sering ditarik maka ia
akan longgar juga. Dengan demikian, semakin sering kita dibuat panas kepala,
mengurut-urut dada, atau menarik nafas panjang oleh manusia super
sulit, itu berarti kita sedang menarik karet ini (baca : tubuh dan jiwa ini)
menjadi lebih longgar (sabar). Saya pernah mengajar sekumpulan
anak-anak muda yang tidak saja amat pintar, namun juga amat rajin mengkritik.
Setiap di depan kelas saya diuji, dimaki bahkan kadang dihujat. Awalnya memang
membuat tubuh ini susah tidur. Tetapi lama kelamaan, tubuh ini jadi
kebal. Seorang anggota keluarga yang mengenal latar belakang masa kecil saya,
pernah heran dengan cara saya menangani hujatan-hujatan orang lain. Dan
gurunya ya itu tadi, manusia-manusia pintar tukang hujat di atas.

Ketiga, manusia super sulit sering mendidik kita jadi pemimpin
jempolan. Semakin sering dan semakin banyak kita memimpin dan dipimpin manusia
sulit, ia akan menjadi Universitas Kesulitan yang mengagumkan daya
kontribusinya. Saya tidak mengecilkan peran sekolah bisnis, tetapi pengalaman memimpin
dan dipimpin oleh manusia sulit, sudah terbukti membuat banyak sekali
orang menjadi pemimpin jempolan. Rekan saya menjadi jauh lebih asertif
setelah dipimpin lama oleh purnawirawan jendral yang amat keras dan diktator.

Keempat, disadari maupun tidak manusia sulit sedang memproduksi kita
menjadi orang dewasa. Lihat saja, berhadapan dengan tukang hina tentu
saja kita memaksa diri untuk tidak menghina balik. Bertemu dengan orang yang
berhobi menjelekkan orang lain tentu membuat kita berefleksi, betapa
tidak enaknya dihina orang lain.

Kelima, dengan sedikit rasa dendam yang positif manusia super sulit
sebenarnya sedang membuat kita jadi hebat. Di masa kecil, saya termasuk
orang yang dibesarkan oleh penghina-penghina saya. Sebab, hinaan mereka
membuat saya lari kencang dalam belajar dan berusaha. Dan kemudian,
kalau ada kesempatan saya bantu orang-orang yang menghina tadi. Dan betapa
besar dan hebatnya diri ini rasanya, kalau berhasil membantu orang yang
tadinya menghina kita.

Terakhir dan yang paling penting, manusia super sulit sebenarnya
menunjukkan jalan ke surga, serta mendoakan kita masuk surga. Pasalnya,
kalau kita berhasil membalas hinaan dengan senyuman, batu dengan
bunga, bau busuk dengan bau harum, bukankah kemungkinan masuk surga menjadi
lebih tinggi ?

***
Sumber: Orang Brengsek Guru Sejati oleh Gede Prama


__._,_.___


SPONSORED LINKS
School education Jakarta Pre school education
Bonsi Bonsi tree


YAHOO! GROUPS LINKS




__,_._,___

Kirim email ke