DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA ke 61
MAJU TERUS BANGSAKU
MERDEKA!!
Revolusi dari kamar tidur.
Bung Karno baru bangun pukul 09.00 setelah sebelumnya
terkena serangan
malaria di kamarnya, di Jalan Pegangsaan Timur 56,
Cikini. Suhu
badannya tinggi dan sangat lelah setelah begadang
bersama para sahabatnya
menyusun konsep naskah proklamasi di rumah Laksamana
Maeda.
Tanpa protokol.
Tak ada korps musik, tak ada konduktor dan tak ada
pancaragam. Tiang
bendera pun dibuat dari batang bambu secara kasar,
serta ditanam hanya
beberapa menit menjelang upacara. Tetapi itulah,
kenyataan yang yang
terjadi pada sebuah upacara sakral yang
dinanti-nantikan selama lebih
dari tiga ratus tahun!
Seprei dan Tukang Soto.
Bendera Merah Putih terbuat dari kain sprei dan kain
tukang soto!
Perintah Presiden pertama panggil tukang sate!
Perintah pertama Presiden Soekarno saat dipilih
sebagai presiden
pertama RI, bukanlah membentuk sebuah kabinet atau
menandatangani sebuah
dekret, melainkan memanggil tukang sate! Itu
dilakukannya dalam perjalanan
pulang, setelah terpilih secara aklamasi sebagai
presiden. Kebetulan di jalan
bertemu seorang tukang sate bertelanjang dada dan
nyeker (tidak
memakai alas kaki). "Sate ayam lima puluh tusuk!",
perintah Presiden Soekarno.
Disantapnya sate dengan lahap dekat sebuah selokan
yang kotor. Dan
itulah, perintah pertama pada rakyatnya sekaligus
pesta pertama atas
pengangkatannya sebagai pemimpin dari 70 juta jiwa
lebih rakyat dari
sebuah negara besar yang baru berusia satu hari.
Teks Proklamasi di Keranjang Sampah.
Naskah asli teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
yang ditulis tangan
oleh Bung Karno dan didikte oleh Bung Hatta, ternyata
tidak pernah dimiliki
dan disimpan oleh Pemerintah! Anehnya, naskah historis
tersebut justru
disimpan dengan baik oleh wartawan B. M. Diah. Diah
menemukan draft
proklamasi itu di keranjang sampah di rumah Laksamana
Maeda, 17
Agustus 1945 dini hari, setelah disalin dan diketik
oleh Sajuti Melik. Pada 29
Mei 1992, Diah menyerahkan draft tersebut kepada
Presiden Soeharto,
setelah menyimpannya selama 46 tahun 9 bulan 19 hari.
Proklamator di balik layar.
Kalau saja usul Bung Hatta diterima, tentu Indonesia
punya "lebih dari
dua" proklamator. Saat setelah konsep naskah
Proklamasi Kemerdekaan
Indonesia rampung disusun di rumah Laksamana Maeda,
Jl. Imam Bonjol no
1, Jakarta, Bung Hatta mengusulkan semua yang hadir
saat rapat din hari
itu ikut menandatangani teks proklamasi yang akan
dibacakan pagi harinya.
Tetapi usul ditolak oleh Soekarni, seorang pemuda
yang hadir. Rapat
itu dihadiri Soekarno, Hatta dan calon proklamator
yang gagal: Achmad
Soebardjo, Soekarni dan Sajuti Melik. "Huh, diberi
kesempatan membuat
sejarah tidak mau", gerutu Bung Hatta karena usulnya
ditolak.
Dokumentasi Proklamasi selamat berkat bohong.
Peristiwa sakral Proklamasi 17 Agustus 1945 dapat
didokumentasikan dan
disaksikan oleh kita karena satu kebohongan. Saat
tentara Jepang ingin
merampas negatif foto yang mengabadikan peristiwa
penting tersebut,
Frans Mendoer, fotografer yang merekam detik-detik
proklamasi, berbohong
kepada mereka. Dia bilang tak punya negatif itu dan
sudah diserahkan kepada
Barisan Pelopor, sebuah gerakan perjuangan. Mendengar
jawaban itu,
Jepang pun marah besar. Padahal negatif film itu
ditanam di bawah sebuah
pohon di halaman Kantor harian Asia Raja. Setelah
Jepang pergi, negatif itu
diafdruk dan dipublikasi secara luas hingga bisa
dinikmati sampai
sekarang. Bagaimana kalau Mendoer bersikap jujur pada
Jepang?
Hari kelahiran dan kematian.
Bila 17 Agustus menjadi tanggal kelahiran Indonesia,
justru tanggal
tersebut menjadi tanggal kematian bagi pencetus pilar
Indonesia. Pada
tanggal itu, pencipta lagu kebangsaan "Indonesia
Raya", WR Soepratman
(wafat 1937) dan pencetus ilmu bahasa Indonesia,
Herman Neubronner van
der Tuuk (wafat 1894) meninggal dunia.
Tidak ada jalan Sekarno Hatta di Jakarta.
Jakarta, tempat diproklamasikannya kemerdekaan
Indonesia dan kota
tempat Bung Karno dan Bung Hatta berjuang, tidak
memberi imbalan yang cukup
untuk mengenang co-proklamator Indonesia. Sampai detik
ini, tidak ada "Jalan
Soekarno-Hatta" di ibu kota Jakarta. Bahkan, nama
mereka tidak pernah
diabadikan untuk sebuah objek bangunan fasilitas umum
apa pun sampai
1985, ketika sebuah bandara diresmikan dengan memakai
nama mereka.
Gelar Resmi Proklamator baru 1986.
Gelar Proklamator untuk Bung Karno dan Bung Hatta,
hanyalah gelar
lisan yang diberikan rakyat Indonesia kepadanya
selama 41 tahun! Sebab, baru
1986 Permerintah memberikan gelar proklamator secara
resmi kepada
mereka.
Mentri asli Indonesia.
Baru setelah merdeka 43 tahun Indonesia punya mentri
yang 100%
Indonesia asli. Karena semua menteri sebelumnya lahir
sebelum 17 Agustus 1945.
Itu berarti, mereka pernah menjadi warga Hindia
Belanda dan atau
pendudukan Jepang, sebab negara hukum Republik
Indonesia memang belum ada saat
itu. "Orang Indonesia asli" pertama yang menjadi
menteri adalah Ir Akbar
Tanjung (lahir di Sibolga, Sumatera Utara, 30 Agustus
1945), sebagai
Menteri Negara Pemuda dan Olah Raga pada Kabinet
Pembangunan V
(1988-1993).
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/bonsi97/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/