Note: forwarded message attached.
Want to be your own boss? Learn how on Yahoo! Small Business. __._,_.___
| School education | Pre school education | Jakarta |
| Bonsi | Bonsi tree |
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
__,_._,___
--- Begin Message ---
----- Forwarded Message ----
From: Ruby Cahyadi <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]
Sent: Tuesday, October 3, 2006 10:36:59 AM
Subject: [KPSBI-HISTORIA] Solidaritas untuk Widodo-Widari
Solidaritas untuk Widodo-Widari
Dear all,
Maap untuk posting ini, anggap aja kita berbuat amal untuk seseorang yang masih mencari cinta sejatinya.Sorry kalo cross-posting, siapa tahu ada yang punya info...
= = = = = = = = = =
Solidaritas untuk Widodo-Widari
Arifin Asydhad - detikcom
Jakarta - Solidaritas untuk Widodo Soewardjo yang hingga kini masih tak putus asa mencari kekasihnya, Widari Soewahjo, digalang. Widodo, saat ini berusia 66 tahun, hingga kini masih melajang, karena telah berjanji untuk menikahi Widari.
Adalah Budhi Masthuri, salah seorang pembaca detikcom, yang menggalang solidaritas untuk Widodo - Widari ini. Budhi menamakan solidaritas yang digalangnya ini dengan istilah 'Solid W & W'.
Dalam e-mailnya kepada detikcom, Kamis (28/9/2006), Budhi Masthuri sangat terharu oleh berita yang dipublikasikan di situs ini yang berjudul: Kisah Mahasiswa Orla di Kuba (3) Tak Putus Asa Mencari Widari.
Dalam berita sebelumnya, Widodo merupakan mantan mahasiswa orde lama (Orla) yang belajar di Rusia sejak tahun 1960-an. Saat meninggalkan Indonesia untuk menempuh studinya, Widodo telah berjanji untuk menikahi gadis pujaannya, Widari Soewahjo. Namun, akibat peristiwa G 30 S pada tahun 1965, Widodo tidak bisa kembali ke Indonesia, karena kebijakan pemerintah saat itu.
Widodo pun akhirnya kehilangan kewarganegaraannya, dia tidak diakui sebagai WNI. Dengan status stateless yang disandangnya, Widodo yang berhasil menggondol sarjana metalurgi dari salah satu universitas di Rusia itu, akhirnya dipanggil pemerintah Kuba untuk mengimplementasikan ilmunya itu di Havana. Hingga saat ini, Widodo masih tinggal di sebuah apartemen yang sederhana di Havana.
Yang menarik, Widodo ternyata konsisten dengan janji kepada kekasihnya, Widari. Dia hingga kini masih tetap melajang, karena memegang janjinya itu. Sekarang, Widodo masih rindu pada Widari, meski komunikasi antara keduanya sudah terputus sejak tahun 1966-an. Bahkan, pada tahun 2001 lalu, saat berkesempatan ke Jakarta, Widodo telah mengubek-ubek sejumlah tempat, namun gagal menemukan Widari.
Widodo sudah tidak mengetahui alamat Widari saat ini. Namun, kecintaannya terhadap Widari tetap menggebu. Rasa ingin bertemunya luar biasa besar. Kalaupun saat ini Widari sudah menikah, bahkan sudah punya anak dan cucu, Widodo masih ingin tetap ingin bertemu.
"Kalau sudah menikah, saya mendoakan agar bahagia. Saya hanya ingin menunjukkan bahwa saya tetap memegang janji saya dulu," demikian kata Widodo saat ditemui detikcom pertengahan September 2006 di Havana.
Kisah ini telah membuat haru Budhi Masthuri. "Untuk mengaktualisasikan rasa haru ini, saya mengajak rekan-rekan di mana pun bergabung dalam Solidaritas Untuk Bapak Widodo dan Ibu Widari. Solidaritas ini saya beri nama Solid W&W. Mari kerahkan sebagian tenaga dan perhatian kita untuk membantu Bapak Widodo bertemu dengan Ibu Widari," kata Budhi Masthuri yang juga mengirim emailnya di sejumlah mailing list.
Email Budhi Masthuri selanjutnya, berisikan berikut:
Diskripsi singkat Ibu Widari adalah: Terakhir kali alamatnya di Jalan Salemba No. 4, dulu ada namanya Soda Garam Negeri. Dari Salemba pindah ke Cikini dekat Bioskop Garden Hall yang sekarang menjadi TIM. Widari adalah sulung dari 4 bersaudara. Orang tuanya bernama Soewahjo berasal dari Solo, Boyolali. Adik-adiknya bernama Widati, Winarni, dan Yayuk.
Sebar luaskan email ini ke rekan, keluarga dan maling list. Bagi rekan-rekan yang mengetahui keberadaan Ibu Widari silakan kirimkan email ke:
1. [EMAIL PROTECTED] cu
2. [EMAIL PROTECTED] detik.com
3. [EMAIL PROTECTED] go.id
Mudah-mudahan Ramadan kali ini menjadi ladang amal bagi kita semua dengan mempertemukan dua insan yang terpisah jarak dan waktu berbalut kerinduan. Kebahagiaan Bapak Widodo dan Ibu Widari menjadi kebahagiaan kita bersama yang mencintai kasih sayang dan perdamaian, meskipun mungkin mereka sudah tidak lagi dapat saling memiliki."
= = = = = = = = = =
Informasi untuk Widodo yang Tak Putus Asa Mencari Widari
Arifin Asydhad - detikcom
Jakarta - Kisah Widodo Soewardjo - eks mahasiswa Orde Lama (Orla) yang kini masih 'tertahan' di Kuba, karena tidak diakui sebagai warga negara Indonesia (WNI) - yang tak putus asa mencari kekasihnya, Widari Soewahjo, mendapat banyak simpati. Salah satunya datang dari Arianto Toegiyo Karyowinangoen.
Arianto merupakan anak salah seorang mantan anak buah Soewahjo, ayah kandung Widari, di Perusahaan Soda dan Garam Negeri (SGN). Dalam e-mailnya kepada detikcom, Kamis (28/9/2005), Arianto sangat mengenal keluarga Soewahjo.
Dulu, dia sering memanggil Soewahjo dengan sebutan 'Om Wahjo'. Arianto juga memiliki foto ayah dan ibu Widari.
Berikut e-mail yang dikirimkan Arianto:
Redaksi detik yth,
Membaca kisah (bekas) mahasiswa Indonesia yang akhirnya tinggal di Kuba (detik.com, 27 Sept '06), tadinya saya hanya selintas ingin tahu kisah featuresnya. Namun, setelah dikisahkan bahwa Pak Widodo ini mencari seseorang yang bernama Widari, putri Bapak Soewahjo dan menurutnya Pak Soewahjo ini bekerja di Soda dan Garam Negeri, maka saya jadi ingat bahwa yang dimaksudkan tak salah lagi adalah Pak Soewahjo yang dulu saya panggil Oom Wahjo.
Beliau adalah pimpinan ayah saya di PGSN (Perusahaan Garam dan Soda Negara), di mana untuk selanjutnya PGSN berubah jadi PN Garam (dan Presiden Direkturnya adalah ayah saya).
Benar bahwa Keluarga Soewahjo pernah tinggal di Jl. Salemba Raya 4 (sekarang Salemba UI). Waktu itu keluarga kami juga tinggal di situ. Lalu sama-sama pindah ke Kebayoran Baru. Namun usia saya masih terlalu kecil untuk mengingatnya.
Yang saya masih ingat putri-putri Oom Wahjo itu memang cantik-cantik, seperti Ibunya. (lihat foto terlampir, Oom & Tante Soewahjo yang memakai pakaian Jawa). Foto ini saya dapatkan dari koleksi Album Foto Alm/Almh Bapak Ibu saya. Di album, juga ada foto keluarga kami dan keluarga Soewahjo.
Karena kedua orangtua kami sudah meninggal dunia, saya tidak bisa menanyakan lagi di mana alamat terakhir keluarga Soewahjo. Namun, masih ada istri bekas anak buah Oom Wahjo dan juga ayah saya yang mungkin bisa saya tanya.
Sekian dulu, sekadar informasi yang saya bisa berikan.
Salam,
Arianto Toegiyo Karyowinangoen
= = = = = = = = = =
Mahasiswa Orla Diberi Waktu 3 Tahun Pilih Kewarganegaraan
Nurfajri Budi Nugroho - detikcom
Jakarta - Warga negara Indonesia yang berpuluh-puluh tahun berada di luar negeri diberi kebebasan untuk memilih kewarganegaraan. Mereka diberi waktu 3 tahun untuk menentukan pilihan.
Demikian disampaikan Menkum HAM Hamid Awaludin usai rapat kerja dengan Pansus Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (27/9/2006).
Dikatakan dia, UU 12/2006 pasal 41 tentang Kewarganegaraan, tidak bicara secara spesifik tentang mahasiswa ikatan dinas (eks mahid), tetapi WNI yang berada di luar negeri karena yang satu dan lain hal tidak bisa melaporkan diri selama 5 tahun berturut-turut.
"Mereka kita beri waktu 3 tahun untuk kembali menentukan mau atau tidak menjadi WNI lagi. Ini kategori yang kita pakai," kata Hamid.
Menurut dia, Presiden SBY memberi waktu 4 minggu untuk menyelesaikan kewarganageraan orang Indonesia yang berpuluh tahun di luar negeri.
"Secara spesifik ada sekelompok warga Indonesia yang tergolong eks mahid yang dikirim pemerintah belajar tahun 1960-an. Ketika terjadi perubahan pemerintahan, mereka tidak bisa kembali karena kebijakan pemerintah waktu itu," terang mantan anggota KPU ini.
"Pandangan presiden, kita bangsa yang sangat terbuka, mengedepankan kemanusiaan, kedamaian dan rekonsiliasi. Kini saatnya saudara kita kembali ke wilayah Indonesia dan memperoleh kembali kewarganegaraannya, " lanjutnya.
Dituturkan Hamid, tercatat 579 orang Indonesia tersebar di seluruh Eropa. Di Kuba ada 2 orang, sementara di Cina tidak ada.
__._,_
.![]()
--- End Message ---
