Siapa Self-Actualizers Itu? Aug 28, '06 11:18 AM
for everyone
Kata aktualisasi diri amat sering kita dengar. Kerap kata ini
diasosiasikan dengan cita-cita dan prestasi. Aktualisasi diri adalah cita-cita
dan peraihannya secara optimal. Cukupkah? Tidak. Aktualiasi diri juga sekaligus
pembaharuan cita-cita baru yang lebih tinggi dan perjuangan untuk mencapainya.
Demikianlah seterusnya, hingga seseorang bisa mencapai yang terbaik dari yang
mungkin dia dapatkan.
Diantara ilmuwan yang intensif memperkenalkan konsep aktualisasi diri adalah
Abraham Maslow (1908-1970). Idenya diperkenalkan dalam bingkai teori
kepribadian. Maslow menempatkan aktualisasi diri sebagai kebutuhan puncak
manusia diatas kebutuhannya pada sisi fisiologi (seperti kebutuhan seks, makan,
minum, dan bernapas), kebutuhan akan rasa aman dan tentram, kebutuhan untuk
dicintai dan dibutuhkan orang lain serta kebutuhan akan penghargaan dari orang
lain dan dari diri sendiri (self-respect).
Seseorang mulai memasuki tahap aktualisasi diri jika dia dapat memenuhi empat
jenis kebutuhan dibawahnya secara seimbang. Empat kebutuhan awal dirasakan
dalam keadaan kekurangan (haus = kurang air, kesepian = kurang teman yang
memperhatikan, rendah diri = kurang terampil dan kurang mendapat apresiasi,
dst). Karenanya kebutuhan-kebutuhan ini disebut D-needs, dari kata deficit
needs. Adapun aktualisasi diri tumbuh terus. Sekali dia dipenuhi akan lahir
kebutuhan yang lebih tinggi lagi. Itu sebabnya ia disebut B-needs, dari being
needs, atau disebut juga pertumbuhan motivasi. Ia sangat terkait dengan
keinginan sinambung untuk mewujudkan segala potensi menjadi segala yang Anda
bisa, menjadi sekomplit mungkin diri Anda. Dari sinilah istilah aktualisasi
diri (self-actualization) muncul.
Akan tetapi siapakah para self-actualizers atau orang yang melakukan
aktualisasi diri itu? Maslow membantu kita menjawab sebagian pertanyaan dengan
sebuah metoda kualitatif yang disebut analisa biografi (biographical analysis).
Caranya dia meneliti secara seksama biografi, tulisan-tulisan, sikap-sikap dan
ucapan-ucapan beberapa orang yang dengan standar tertentu dia pandang bagian
dari orang-orang yang telah melakukan aktualisasi diri. Diantara orang-orang
itu antara lain Abraham Lincoln, Albert Einstein, Benedict Spinoza dan juga
orang-orang anonim yang dia teliti. Meskipun metodanya dikritik orang, karena
dianggap kurang ilmiah dan pengambilan sampel pun relatif subjektif, Maslow
yang disebut bapak humanisme Amerika, setidaknya memberikan pandangan tentang
kualitas para self-actualizers tersebut.
Orang-orang ini terpusat pada realitas (reality-centered), mereka bisa
membedakan mana yang palsu dan tidak jujur dengan yang asli dan sejati. Mereka
terpusat pada permasalahan (problem-centered), yang menjadikan kesulitan hidup
sebagai permasalahan yang butuh jawaban, dan tidak membuatnya terpenjara di
dalam kesulitan itu. Mereka mempersepsi cara dan tujuan sebagai dua hal yang
berbeda. Tujuan tidak serta merta membenarkan cara, cara bisa saja merupakan
tujuan akhir dan cara perjalanan menuju tujuan- seringkali lebih penting
daripada tujuan-tujuan akhir.
Mereka punya cara khas dalam berhubungan dengan orang lain. Pertama, mereka
menikmati kesunyian dan merasa nyaman dalam kesendirian yang bermutu. Kedua,
mereka lebih menikmati hubungan yang mendalam dengan beberapa teman dekat dan
keluarga daripada hubungan biasa-biasa saja dengan banyak orang.
Mereka menikmati otonomi, satu kondisi yang relatif terbebas dari kebutuhan
fisik dan sosial. Mereka juga menolak pelarutan budaya, tidak mudah terpengaruh
tekanan sosial, sehingga membuat mereka mesti menyesuaikan diri. Dalam hal ini
mereka adalah anti-kompromi dalam arti positif.
Mereka punya rasa humor yang tidak melecehkan orang lain. Mereka adalah orang
yang menerima diri dan orang lain apa adanya, mereka lebih senang menerima Anda
apa adanya daripada mengubah Anda menjadi apa yang mereka inginkan. Hal yang
sama mereka terapkan untuk dirinya. Jika satu kualitas dirinya tidak
membahayakan, maka mereka akan biarkan apa adanya dan bahkan menikmatinya
sebagai kekhasan diri mereka. Di sisi lain, mereka akan berusaha keras mengubah
kualitas-kualitas negatif yang ada pada diri mereka. Sejalan dengan sifat ini
mereka bersifat spontan dan sederhana (simply). Mereka lebih suka menjadi diri
sendiri daripada berpura-pura dan artifisial. Diantara sikap non-komprominya,
mereka nampak konvensional di permukaan, pada hal-hal yang justru orang-orang
yang kurang mengaktualisasikan diri bersikap dramatis.
Lebih jauh, mereka rendah hati dan hormat kepada orang lain, sifat yang
disebut Maslow sebagai nilai-nilai demokratis, yaitu keterbukaan mereka pada
perbedaan etnis, perbedaan individu, dan bahkan menjadikan perbedaan tersebut
sebagai kekayaan khazanah. Mereka memiliki kualitas rasa bermasyarakat
(Gemeinschaftsgefühl), yaitu memiliki perhatian sosial, rasa belas kasihan dan
kemanusiaan. Kualitas ini seiring dengan kekuatan etik yang bersifat
spiritual-keagamaan dengan penghayatan yang utuh dan benar.
Mereka memiliki jiwa apresiatif yang segar, sebuah kemampuan untuk melihat
sesuatu, bahkan sesuatu yang dipandang orang lain umum, dengan penuh kekaguman.
Seiring dengan ini hadir kualitas kreatif, inovatif dan orisinil.
Dan, akhirnya, orang-orang ini cenderung memperoleh lebih banyak
puncak-puncak pengalaman daripada yang dialami rata-rata manusia. Puncak
pengalaman adalah sesuatu yang Anda ambil dari luar diri Anda, yang membuat
Anda merasa kecil atau pada waktu lain mereka amat bermakna, hingga Anda merasa
bersatu dengan kehidupan dan alam; Dan ada merasa begitu dekat dengan Tuhan.
Perasaan yang membuat Anda merasa menjadi bagian dari sesuatu yang tak terbatas
dan abadi. Pengalaman-pengalaman ini cenderung membekas pada pribadi seseorang,
mengubahnya menjadi orang yang lebih baik dan banyak orang yang mencari
pengalaman seperti ini. Pengalaman seperti ini disebut juga pengalaman batin
dan menjadi bagian penting dari ajaran agama dan tradisi filsafat.
***
Catatan Penutup:
Meminjam analisa di atas, terutama pada bagian akhir deskripsi kualitas para
self-actualizers, orang-orang muslim semestinya dapat semakin mengapresiasi
semboyan Allah besertaku (Allahu maiy) atau semboyan Allah adalah tujuan
puncak kami (Allahu ghaayatunaa) atau yang kerap diikrarkan dalam memandu
proses aktualisasi dirinya. Dipandu cita-cita terbesar hidupnya inilah seorang
muslim senantiasa menghiasi kehidupannya dengan akhlak terpuji (akhlaq
al-kariimah) yang memiliki cakupan yang amat luas dan menyeluruh; Apa yang
diungkapkan Maslow tentang kualitas self-actualizers sebetulnya hanya sebagian
saja.
***
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com