------ Forwarded Message
From: Delta Telly 
 

Rgds,
Delta
-----Original Message-----
From: herlita 
Subject: FW: Mendidik Manusia atau Anjing???
 

 

Nice Reading,

Bagus sebagai masukan buat guru di sekolah atau para

Bapak/Ibu yang sudah memiliki putra-putri

 

Riza

 

 

Mendidik Manusia atau Anjing???


Oleh : Ratna Megawangi

SEPERTI umumnya para gadis remaja, anak kedua kami yang barusia 15 tahun
ingin sekali rambutnya di - rebonding, padahal rambutnya sudah lurus.
Berhubung tarifnya mahal, saya suruh ia pergi ke sebuah salon di daerah
Cibubur yang relatif murah.
> 
> 
>  
> 
> Rupanya ia sudah mengetahui nformasi melalui internet mengenai salon - salon
> yang terkenal bagus, atau jelek dalam urusan rebonding, bahkan sampai dampak
> obat yang dipakai terhadap kualitas rambut. Ia menolak pergi ke salon
> tersebut, karena informasi yang ia baca dalam sebuah blog internet, kualitas
> rebonding di salon tersebut tidak bagus.
> 
> Berhubung saya hanya mau membayar 50 persen saja, ia melakukan browsing secara
> intensif, dan akhirnya ia memutuskan untuk memakai jasa sebuah salon yang
> tarifnya cukup murah, tetapi kualitasnya bagus.
> 
> Rupanya anak terkecil kami pun (usia 7 tahun), sudah mulai menjadi seorang
> yang tidak mudah dipengaruhi juga. Ia bersama kakaknya "berkonspirasi" untuk
> mempengaruhi kami agar mau memelihara anjing di rumah. Mereka sebut beberapa
> jenis anjing yang bagus, lagi - lagi belajar dari internet, dan akhirnya
> memutuskan untuk membeli anjing yang pintar untuk dilatih serta bersahabat
> dengan anak - anak, yaitu jenis Golden Retriever.
> 
> Saya sendiri baru mendengar nama jenis tersebut, tetapi menurut informasi
> harganya cukup mahal. Kemudian saya ajak mereka ke sebuah tempat di daerah
> Menteng untuk membeli anjing di pinggir jalan yang pasti harganya lebih murah.
> Mereka mengetahui betul bentuk anjing jenis tersebut, sehingga ada 4 penjual
> yang gagal membohongi mereka. Sampai yang mirip sekali pun, tetapi karena
> bentuk kupingnya berbeda, mereka mengetahuinya. Setelah bernegosiasi, dan
> kedua anak kami mau patungan menyumbang dari uang tabungannya Rp 500.000,
> akhirnya saya menyerah untuk membelinya di  pet shop yang harganya Rp 2 juta,
> karena kemurnian ras anjing tersebut  dijamin oleh sertifikat.
> 
> Dalam beberapa hal, saya akui anak - anak kami lebih pintar dan well -
> informed daripada orangtuanya, sehingga kami sering "kalah" ketika  harus
> mengambil keputusan karena informasi yang diperolehnya lebih  lengkap.
> 
> Anak pertama kami yang sekarang sudah semester 7 di Fakultas Hukum UI,  sejak
> kelas 1 SMA juga sudah memutuskan sendiri untuk masuk ke IPS, sehingga ia
> tidak mau "membuang" waktunya untuk belajar sesuatu yang ia tidak akan
> dipakainya, seperti Fisika, Kimia dan Biologi. Akibatnya, nilai yang
> diperolehnya hanya pas - pasan saja.
> 
> Namun, waktunya lebih banyak ia gunakan untuk belajar sesuatu yang lebih
> menarik minatnya, seperti belajar komputer, organisasi, dan membaca segala
> macam buku yang tidak ada hubungannya dengan tugas sekolah.
> 
> Kelas 1 SMA (tahun 1999) ia mengajak beberapa kawannya untuk merintis bidang
> ekstra kurikuler baru di sekolahnya, yaitu FORTEK (forum  teknologi), yang
> semuanya diusahakan melalui survey kelayakan (ada 100 kuesioner tersebar),
> seminar, dan presentasi di depan sponsor, sehingga  memperoleh 6 perangkat
> komputer. Bidang tersebut sampai sekarang masih  ada, bahkan paling banyak
> diminati siswa.
> 
> Rasanya tidak ada satu pun guru yang memujinya, karena memang angka rapornya
> biasa - biasa saja, bahkan ada juga nilai merahnya (boro - boro dapat
> ranking). Namun baginya tidak ada masalah, dan ia memang berpikir strategis.
> Menurutnya, apabila sistem ujian nasional dan masuk perguruan tinggi adalah
> seperti sekarang, maka dengan sistem kebut drilling beberapa bulan terakhir
> sebelum ujian, katanya masih bisa ia kejar.
> 
> Jadi, ketika hampir seluruh kawan - kawannya sudah sibuk ikut les sekolah dan
> bimbingan tes sejak kelas 1 SMA, bahkan sampai banyak yang  stress, ia menolak
> untuk mengikutinya karena mau memakai waktunya untuk  mempelajari hal - hal
> yang diminatinya sendiri. Baru ketika 6 bulan  menjelang ujian akhir SMA, ia
> mau ikut les.
> 
> Sejak SMP ia memang sudah senang membaca buku - buku serius seperti karangan
> Maurice Bucaille, buku - buku filsafat Jabariah dan  Badariah, bahkan sekarang
> ia sedang senang - senangnya mengikuti  perkembangan harga pasar saham dan
> pasar uang, karena ia menginvestasikan  semua tabungannya yang Rp 3 juta di
> reksadana. Semuanya ini ia peroleh  dari belajar sendiri, bukan dari
> sekolahnya.
> 
> Perjalanan anak - anak kami masih panjang, sehingga kami belum tahu apakah
> mereka berhasil nantinya. Namun paling tidak, kami telah berusaha untuk
> mempersiapkan mereka untuk menjadi manusia yang berpikir kritis dan mandiri,
> tidak mudah percaya dan diprovokasi, bisa mencari informasi dan  mengolahnya
> sendiri, sehingga nantinya bisa mencari solusi terhadap berbagai masalah dalam
> hidupnya, serta mudah beradaptasi dengan  lingkungan yang cepat berubah.
> 
> Tentunya juga dengan membekali mereka tentang prinsip - prinsip nilai dan
> etika. Terus terang, kami memang "melarang" anak - anak kami untuk mendapatkan
> ranking, karena sistem ini akan membuat seseorang terperangkap untuk
> mempertahankannya, sehingga mereka hanya mampu berpikir dangkal, pragmatis,
> dan tidak kritis, akibat terbiasa menghafal dan mengerjakan soal yang
> jawabannya sudah baku sesuai dengan rumus.
> 
> Menurut Albert Einstein, dengan hanya mengajarkan anak menghafal mata
> pelajaran, tidak ada bedanya dengan melatih seekor anjing. Menurut Einstein,
> "With his specialized knowledge - more closely resembles a  well - trained dog
> than a harmoniously developed person."  (Ternyata benar, dengan cara mengulang
> berkali - kali, anak kami sudah dapat melatih  anjingnya yang berusia 4 bulan
> untuk duduk, loncat, dan salaman).
> 
> Bukan berarti metode menghafal dan drilling tidak perlu (kognitif), tetapi
> dimensi lainnya juga harus dikembangkan (sosial, emosi, motorik, spiritual,
> dan kreativitas), sehingga seluruh dimensi manusia dapat berkembang secara
> seimbang (harmonis).
> 
> Namun, semua metode pelajaran di sekolah hanya diarahkan agar anak - anak
> dapat menjawab ujian, yang bentuknya memang hafalan, sehingga  potensi -
> potensi lainnya tidak berkembang secara harmonis.
> 
> Albert Einstein sudah memberikan peringatan akan bahayanya sistem pendidikan
> yang terlalu menjejalkan anak dengan banyak mata pelajaran, yang menurutnya
> dapat membuat anak berpikir dangkal, bukan seorang yang independent critical
> thinker (New York Times, October 5, 1952).
> 
> Menurutnya, "It is also vital to a valuable education that independent
> critical thinking be developed in the young human being, a development that is
> greatly jeopardized by overburdening him with too much and with too varied
> subject (point system). Overburdening necessarily leads to superficiality.
> Teaching should be such that what is offered is perceived as a valuable gift
> and not as a hard duty."
> 
> Kalau kita melatih seseorang untuk mempunyai fisik kuat, baik dengan olahraga
> atau berjalan kaki, maka dengan kekuatan fisiknya ia akan fit bekerja di mana
> saja yang memerlukan kekuatan fisik. Begitu pula, apabila kita mempersiapkan
> seorang anak untuk dapat berpikir kritis, selalu ingin tahu, dan mampu
> mengolah informasi, maka ia akan berhasil dalam pekerjaan apa saja yang
> memerlukan orang berpikir.
> 
> Apalagi di masa depan apabila semakin banyak orang yang mempunyai akses
> terhadap internet ( lima tahun yang lalu mungkin kita tidak membayangkan
> kalau handphone bisa dipakai secara massal sampai ke desa - desa. Hal yang
> sama sangat mungkin terjadi dengan internet, seperti yang sudah terjadi di
> Korea). Artinya, tanpa menghafal pun, segala informasi dengan mudah dapat
> diakses.
> 
> Mungkin ilmu yang didapat di sekolah banyak yang tidak terpakai dalamkehidupan
> anak kita nanti. Apalagi jaman akan terus berubah dengan cepat, sehingga apa
> yang dipelajari sekarang ini, mungkin saja tidak terpakai dalam kehidupannya
> di masa depan nanti. Padahal sudah dipelajari  dan dihafalkan mati - matian,
> sampai banyak yang stress dan mengalami  masalah kejiwaan.
> 
> Menurut Peter Senge, sekolah - sekolah yang mendidik siswanya untuk patuh
> begitu saja kepada pihak otoritas dan mengikuti peraturan tanpa
> mempertanyakannya - tidak bersikap kritis - akan gagal menyiapkan para
> siswanya untuk menghadapi dunia tempat tinggal mereka yang kerap berubah.
> 
> Jadi, kalau kita mau menyiapkan anak - anak kita untuk cakap hidup di zamannya
> kelak, jangan biarkan mereka terperangkap dengan cara yang hanya bisa berpikir
> sesuai dengan yang telah diprogram (hafalan dan drilling  ), yaitu tidak
> kreatif, tidak kritis, tidak berani mengambil risiko, tidak proaktif, dan
> apatis.
> 
> Kasihan mereka, karena mereka harus hidup di masa depan yang begitu cepat
> berubah, sangat kompleks, serta penuh tantangan dan beban.
> 
> Seperti kata Einstein, "Mereka adalah Manusia, Bukan Well - Trained Dog".
> 
> 
> ***
> 
> Penulis adalah pemerhati masalah sosial pendidikan
> 
>  


No virus found in this incoming message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.441 / Virus Database: 268.17.39/685 - Release Date: 2/13/2007
10:01 PM

 

 


------ End of Forwarded Message

Kirim email ke