------ Forwarded Message
From: arlina <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Fw: Mall

 
----- Original Message -----
From: Rizki <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
To: ana <mailto:[EMAIL PROTECTED]>  ; arlina <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Friday, September 28, 2007 7:55 AM
Subject: Mall

MALL
 - CATATAN PINGGIR -
Goenawan Mohammad
Majalah Tempo Edisi. 10/XXXIIIIIII/ 07 - 13 Mei 2007.
Jika anda berdiri di salah satu sudut Senayan City, anda akan tahu bagaimana
malam berubah sebagaimana juga dunia berubah. Di ruangan yang luas dan
disejukkan pengatur udara, cahaya listrik tak pernah putus. Iklan dalam
gambar senantiasa bergerak, bunyi musik menyusup lewat ratusan iPod ke
bagian diri yang paling privat, dan lorong-lorong longgar itu memajang
bermeter-meter etalase dengan busana dan boga. Sepuluh, bukan, lima tahun
yang lalu, malam tidak seperti ini. Juga dunia, juga kenikmatan dan
kegawatannya.

Hari itu saya duduk minum kopi di salah satu kafe di salah satu mall di
Jakarta, dan tiba-tiba saya merasa bodoh: saya tak tahu berapa mega-kilowatt
listrik dikerahk an untuk membangun kenikmatan yang tersaji buat saya hari
itu. Saya merasa bodoh, ketika saya ingat, pada suatu hari di Tokyo, di tepi
jalan yang meriah di Ginza, teman saya, seorang arsitek Jepang, menunjukkan
kepada saya mesin jajanan yang menawarkan Coca-Cola dan kripik kentang.
 
"Tahukah Tuan," tanyanya,
 
 "jumlah tenaga listrik yang dipakai oleh mesin jenis ini di seluruh Jepang?
Saya menggeleng, dan ia menjawab, Jumlahnya lebih besar ketimbang jumlah
tenaga listrik yang tersedia buat seluruh Bangladesh.
 
Ia berbicara tentang ketimpangan, tentu. Ia ingin saya membayangkan
rumah-rumah sakit yang harus menyelamatkan nyawa manusia di sebuah negeri
miskin yang ternyata tak punya daya sebanyak 10 buah mesin
jajanan di negeri kaya mesin yang menawarkan sesuatu yang sebetulnya tak
perlu bagi hidup manusia.
Saya merasa bodoh, mungkin juga merasa salah. Seandainya bisa saya  hitung
berapa kilowatt energi yang ditelan oleh sebuah mall di Jakarta, di mana
saya duduk minum kopi dengan tenang, mungkin saya akan tahu seberapa timpang
jumlah itu dibandingkan dengan seluruh tenaga listrik buat sebuah kabupaten
nun di pedalaman Flores .

Tapi tak hanya itu sebenarnya. Kini banyak orang tahu, ketimpangan seperti
itu hanya satu fakta yang gawat dan menyakitkan. Ada fakta lain: kelak ada
sesuatu yang justru tak timpang, sesuatu yang sama: sakit dan kematian.
Konsumsi energi berbeda jauh antara di kalangan yang kaya dan kalangan
miskin, tapi bumi yang dikuras adalah bumi yang satu, dan ozon yang rusak
karena polusi ada di atas bumi yang satu, dengan akibat yang juga  mengenai
tubuh siapa saja termasuk mereka yang tak pernah minum kopi dalam mall,  di
sudut miskin di Flores atau Bangladesh, orang-orang yang justru tak ikut
mengotori cuaca dan mengubah iklim dunia.

Dengan kata lain, tak ada pemerataan kenikmatan dan keserakahan, tapi ada
pemerataan dalam hal penyakit kanker kulit yang akan menyerang dan air laut
yang menelan pulau ketika bumi memanas dan kutub mencair. Orang India , yang
rata-rata hanya mengkonsumsi energi 0,5 kW, akan mengalami bencana yang sama
dengan orang Amerika, yang rata-rata menghabisi 11,4 kW.

"Saya tak lagi berpikir tentang keadilan dunia," kata teman Jepang itu pula,
 
"terlalu sulit, terlalu sulit."
Beberapa tahun kemudian ia meninggalkan negerinya. Saya dengar ia hidup  di
sebuah dusun di negeri di Amerika Latin, membuat sebuah usaha kecil  dengan
mengajak penduduk menghasilkan sabun yang bukan jenis detergen,
mencobamenanam sayuran organik sehingga tak banyak bahan kimia yang ditelan
dan dimuntahkan. Tapi kata-katanya masih terngiang-ngiang,
 
"terlalu sulit, terlalu sulit."
Mungkin memang terlalu sulit untuk menyelamatkan dunia. Saya baca  hitungan
itu: dalam catatan tahun 2002, emisi karbon dioksida dari seluruh Amerika
Serikat mencapai 24% lebih dari seluruh emisi di dunia, sedangkan dari
Vanuatu hanya 0,1%, tapi naiknya permukaan laut di masa depan akibat cairnya
es di kutub utara mungkin akan menenggelamkan negeri di Lautan Teduh itu dan
tak menenggelamkan Amerika.

Ingin benar saya tak memikirkan ketidakadilan dunia, tapi manusia juga
menghadapi ketidakadilan antargenerasi. Mereka yang kini berumur di atas 50
tahun pasti telah lama menikmati segala hal yang dibuat lancar oleh bensin,
batu bara, dan tenaga nuklir. Tapi mungkin sekali mereka tak akan mengalami
kesengsaraan masa depan yang akan dialami mereka yang kini berumur 5 tahun.

Dalam 25 tahun mendatang, kata seorang pakar, emisi C02 yang akan datang
dari Cina bakal dua kali lipat emisi dari seluruh wilayah Amerika,  Kanada,
Eropa, Jepang, Australia, Selandia Baru. Apa yang akan terjadi dengan  bumi
bagi anak cucu kita?

"Terlalu sulit, terlalu sulit," kata teman Jepang itu.

Ekonomi tumbuh karena dunia didorong keinginan hidup yang lebih layak.
"Lebih layak" adalah sesuatu yang kini dikenyam dan sekaligus diperlihatkan
mereka yang kaya . Kini satu miliar orang Cina dan satu miliar orang  India
memandang mobil, televisi, lemari es, mungkin juga baju Polo Ralph Lauren
dan parfum Givenchy sebagai indikator kelayakan, tapi kelak, benda-benda
seperti itu mungkin berubah artinya. Jika 30% dari orang Cina dan India
berangsur-angsur mencapai tingkat itu seperempat abad lagi, ada ratusan juta
manusia yang selama perjalanan seperempat abad nanti akan  memuntahkan
segala hal yang membuat langit kotor dan bumi retak. Seperempat abad  lagi,
suhu bumi akan begitu panas, jalan akan begitu sesak, dan mungkin mobil,
lemari es, baju bermerek, dan perjalanan tamasya hanya akan jadi benda yang
sia-sia.

Mungkin orang harus hidup seperti di surga. Konon, di surga segala sesuatu
yang kita hasratkan akan langsung terpenuhi. Itu berarti, tak akan ada lagi
hasrat. Atau hasrat jadi sesuatu yang tak relevan; ia tak membuat hidup
mengejar sesuatu yang akhirnya sia-sia.

Tapi akankah saya mau, seperti teman Jepang itu, pergi ke sebuah dusun di
mana tak ada mall, tak ada bujukan untuk membeli, dan hidup hampir seperti
seorang rahib? Di mall itu, saya melihat ke sekitar. Terlalu sulit, terlalu
sulit, pikir saya.


------ End of Forwarded Message

Kirim email ke