sebagai "mantan calon dokter" gw turut prihatin
bisa buat pelajaran sangat berharga bagi semua orang.

  ----- Original Message ----- 
  From: Satria Yuliafianto 
  To: Satria Yuliafianto 
  Sent: Tuesday, August 26, 2008 11:38 AM
  Subject: [bonsi97] Fw: [sman4jkt-82] FW: Penipuan OMNI Iternational Hospital 
Alam Suter


  Fw: [sman4jkt-82] FW: Penipuan OMNI Iternational Hospital Alam Suter
  Posted by: "didid nd" [EMAIL PROTECTED]   dididnd
  Sat Aug 23, 2008 5:42 am (PDT)

  --- On Fri, 8/22/08, denny lukman <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

  From: denny lukman <[EMAIL PROTECTED]>
  Subject: [sman4jkt-82] FW: Penipuan OMNI Iternational Hospital Alam Sutera
  Tangerang
  To: "SMA 4 JAKARTA SMA" <[EMAIL PROTECTED]>, "TIGABESATU 3 B 1
  SMA4" <[EMAIL PROTECTED]>, "TIGABESATU TIGABESATU SMA"
  <[EMAIL PROTECTED]>
  Date: Friday, August 22, 2008, 6:50 PM

  Teman sejawat dokter, atau yang peduli

  saya forward e-mail dari teman terkiat pelayanan kesehatan di RS

  terima kasih

  salam
  denny lukman (3B1 1982)
  fakultas kedokteran hewan ipb

  Jangan sampai kejadian saya ini akan menimpa ke nyawa manusia lainnya,
  terutama anak-anak, lansia dan bayi.
  Bila anda berobat, berhati-hatilah dengan kemewahan RS dan title
  International karena semakin mewah RS dan semakin pintar dokter maka semakin
  sering uji coba pasien, penjualan obat dan suntikan.
  Saya tidak mengatakan semua RS International seperti ini tapi saya mengalami
  kejadian ini di RS Omni International.
  Tepatnya tanggal 7 Agustus 2008 jam 20.30 WIB, saya dengan kondisi panas
  tinggi dan pusing kepala, datang ke RS. OMNI Intl dengan percaya bahwa RS
  tersebut berstandard International, yang tentunya pasti mempunyai ahli
  kedokteran dan manajemen yang bagus.
  Saya diminta ke UGD dan mulai diperiksa suhu badan saya dan hasilnya 39
  derajat.  Setelah itu dilakukan pemeriksaan darah dan hasilnya adalah
  thrombosit saya 27.000 dengan kondisi normalnya adalah 200.000, saya
  diinformasikan dan ditangani oleh dr. Indah (umum) dan dinyatakan saya wajib
  rawat inap.  Dr. Indah melakukan pemeriksaan lab ulang dengan sample darah
  saya yang sama dan hasilnya dinyatakan masih sama yaitu thrombosit 27.000.
   Dr. Indah menanyakan dokter specialist mana yang akan saya gunakan tapi
  saya meminta referensi darinya karena saya sama sekali buta dengan RS ini.
   Lalu referensi dr. Indah adalah dr. Henky.  Dr. Henky memeriksa kondisi
  saya dan saya menanyakan saya sakit apa dan dijelaskan bahwa ini sudah
  positif demam berdarah.
  Mulai malam itu saya diinfus dan diberi suntikan tanpa penjelasan atau ijin
  pasien atau keluarga pasien suntikan tersebut untuk apa.  Keesokan pagi,
  dr.Henky visit saya dan menginformasikan bahwa ada revisi hasil lab semalam
  bukan 27.000 tapi 181.000 (hasil lab bisa dilakukan revisi?), saya kaget
  tapi dr. Henky terus memberikan instruksi ke suster perawat supaya diberikan
  berbagai macam suntikan yang saya tidak tahu dan tanpa ijin pasien atau
  keluarga pasien.  Saya tanya kembali jadi saya sakit apa sebenarnya dan
  tetap masih sama dengan jawaban semalam bahwa saya kena demam berdarah.
   Saya sangat kuatir karena dirumah saya memiliki 2 anak yang masih batita
  jadi saya lebih memilih berpikir positif tentang RS dan dokter ini supaya
  saya cepat sembuh dan saya percaya saya ditangani oleh dokter profesional
  standard Internatonal.
  Mulai Jumat terebut saya diberikan berbagai macam suntikan yang setiap
  suntik tidak ada keterangan apapun dari suster perawat, dan setiap saya
  meminta keterangan tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan, lebih terkesan
  suster hanya menjalankan perintah dokter dan pasien harus menerimanya.  Satu
  box lemari pasien penuh dengan infus dan suntikan disertai banyak ampul.
  Tangan kiri saya mulai membengkak, saya minta dihentikan infus dan suntikan
  dan minta ketemu dengan dr. Henky namun dokter tidak datang sampai saya
  dipindahkan ke ruangan.  Lama kelamaan suhu badan saya makin naik kembali ke
  39 derajat dan datang dokter pengganti yang saya juga tidak tahu dokter apa,
  setelah dicek dokter tersebut hanya mengatakan akan menunggu dr. Henky saja.
  Esoknya dr. Henky datang sore hari dengan hanya menjelaskan ke suster untuk
  memberikan obat berupa suntikan lagi, saya tanyakan ke dokter tersebut saya
  sakit apa sebenarnya dan dijelaskan saya kena virus udara.  Saya tanyakan
  berarti bukan kena demam berdarah tapi dr. Henky tetap menjelaskan bahwa
  demam berdarah tetap virus udara.  Saya dipasangkan kembali infus sebelah
  kanan dan kembali diberikan suntikan yang sakit sekali.
  Malamnya saya diberikan suntikan 2 ampul sekaligus dan saya terserang sesak
  napas selama 15 menit dan diberikan oxygen. Dokter jaga datang namun hanya
  berkata menunggu dr. Henky saja.  Jadi malam itu saya masih dalam kondisi
  infus padahal tangan kanan saya pun mengalami pembengkakan seperti tangan
  kiri saya. 
  Saya minta dengan paksa untuk diberhentikan infusnya dan menolak dilakukan
  suntikan dan obat-obatan.
  Esoknya saya dan keluarga menuntut dr. Henky untuk ketemu dengan kami namun
  janji selalu diulur-ulur dan baru datang malam hari.  Suami dan kakak-kakak
  saya menuntut penjelasan dr. Henky mengenai sakit saya, suntikan, hasil lab
  awal yang 27.000 menjadi revisi 181.000 dan serangan sesak napas yang dalam
  riwayat hidup saya belum pernah terjadi.
  Kondisi saya makin parah dengan membengkaknya leher kiri dan mata kiri saya.
  Dr, Henky tidak memberikan penjelasan dengan memuaskan, dokter tersebut
  malah mulai memberikan instruksi ke suster untuk diberikan obat-obatan
  kembali dan menyuruh tidak digunakan infus kembali.  Kami berdebat mengenai
  kondisi saya dan meminta dr. Henky bertanggung jawab mengenai ini dari hasil
  lab yang pertama yang seharusnya saya bisa rawat jalan saja.  Dr. Henky
  menyalahkan bagian lab dan tidak bisa memberikan keterangan yang memuaskan.
  Keesokannya kondisi saya makin parah dengan leher kanan saya juga mulai
  membengkak dan panas kembali menjadi 39 derajat namun saya tetap tidak mau
  dirawat di RS ini lagi dan mau pindah ke RS lain.  Tapi saya membutuhkan
  data medis yang lengkap dan lagi-lagi saya dipermainkan dengan diberikan
  data medis yang fiktif.
  Dalam catatan medis, diberikan keterangan bahwa BAB saya lancar padahal itu
  kesulitan saya semenjak dirawat di RS ini tapi tidak ada follow upnya
  samasekali. Lalu hasil lab yang diberikan adalah hasil thrombosit saya yang
  181.000 bukan 27.000.
  Saya ngotot untuk diberikan data medis hasil lab 27.000 namun sangat
  dikagetkan bahwa hasil lab 27.000 tersebut tidak dicetak dan yang tercetak
  adalah 181.000, kepala lab saat itu adalah dr. Mimi dan setelah saya
  complaint dan marah-marah, dokter tersebut mengatakan bahwa catatan hasil
  lab 27.000 tersebut ada di Manajemen Omni maka saya desak untuk bertemu
  langsung dengan Manajemen yang memegang hasil lab tersebut.
  Saya mengajukan complaint tertulis ke Manajemen Omni dan diterima oleh Ogi
  (customer service coordinator) dan saya minta tanda terima.  Dalam tanda
  terima tersebut hanya ditulis saran bukan complaint, saya benar-benar
  dipermainkan oleh Manajemen Omni dengan staff Ogi yang tidak ada service nya
  sama sekali ke customer melainkan seperti mencemooh tindakan saya meminta
  tanda terima pengajuan complaint tertulis.
  Dalam kondisi sakit, saya dan suami saya ketemu dengan Manajemen, atas nama
  Ogi (customer service coordinator) dan dr. Grace (customer service manager)
  dan diminta memberikan keterangan kembali mengenai kejadian yang terjadi
  dengan saya. 
  Saya benar-benar habis kesabaran dan saya hanya meminta surat pernyataan
  dari lab RS ini mengenai hasil lab awal saya adalah 27.000 bukan 181.000
  makanya saya diwajibkan masuk ke RS ini padahal dengan kondisi thrombosit
  181.000 saya masih bisa rawat jalan.
  Tanggapan dr. Grace yang katanya adalah penanggung jawab masalah complaint
  saya ini tidak profesional samasekali.  Tidak menanggapi complaint dengan
  baik, dia mengelak bahwa lab telah memberikan hasil lab 27.000 sesuai dr.
  Mimi informasikan ke saya.  Saya minta duduk bareng antara lab, Manajemen
  dan dr. Henky namun tidak bisa dilakukan dengan alasan akan dirundingkan ke
  atas (Manajemen) dan berjanji akan memberikan surat tersebut jam 4 sore.
  Setelah itu saya ke RS lain dan masuk ke perawatan dalam kondisi saya
  dimasukkan dalam ruangan isolasi karena virus saya ini menular, menurut
  analisa ini adalah sakitnya anak-anak yaitu sakit gondongan namun sudah
  parah karena sudah membengkak, kalau kena orang dewasa yang ke laki-laki
  bisa terjadi impoten dan perempuan ke pankreas dan kista.  Saya lemas
  mendengarnya dan benar-benar marah dengan RS Omni yang telah membohongi saya
  dengan analisa sakit demam berdarah dan sudah diberikan suntikan macam-macam
  dengan dosis tinggi sehingga mengalami sesak napas.
  Saya tanyakan mengenai suntikan tersebut ke RS yang baru ini dan memang saya
  tidak kuat dengan suntikan dosis tinggi sehingga terjadi sesak napas.
  Suami saya datang kembali ke RS Omni menagiih surat hasil lab 27.000
  tersebut namun malah dihadapkan ke perundingan yang tidak jelas dan meminta
  diberikan waktu besok pagi datang langsung ke rumah saya.  Keesokan paginya
  saya tunggu kabar orang rumah sampai jam 12 siang belum ada orang yang
  datang dari Omni memberikan surat tersebut.  Saya telepon dr. Grace sebagai
  penanggung jawab compaint dan diberikan keterangan bahwa kurirnya baru mau
  jalan ke rumah saya namun sampai jam 4 sore saya tunggu dan ternyata belum
  ada juga yang datang kerumah saya.  Kembali saya telepon dr. Grace dan dia
  mengatakan bahwa sudah dikirim dan ada tanda terima atas nama Rukiah, ini
  benar-benar kebohongan RS yang keterlaluan sekali, dirumah saya tidak ada
  nama Rukiah, saya minta disebutkan alamat jelas saya dan mencari datanya
  sulit sekali dan membutuhkan waktu yang lama.  Logikanya dalam tanda terima
  tentunya ada alamat jelas surat tertujunya kemana kan ? makanya saya sebut
  Manajemen Omni PEMBOHONG BESAR semua.  Hati-hati dengan permainan mereka
  yang mempermainkan nyawa orang.
  Terutama dr. Grace dan Ogi, tidak ada sopan santun dan etika mengenai
  pelayanan customer, tidak sesuai dengan standard International yang RS ini
  cantum. 
  Saya bilang ke dr. Grace, akan datang ke Omni untuk mengambil surat tersebut
  dan ketika suami saya datang ke Omni hanya dititipkan ke resepsionis saja
  dan pas dibaca isi suratnya sungguh membuat sakit hati kami, pihak manajemen
  hanya menyebutkan mohon maaf atas ketidaknyamanan kami dan tidak disebutkan
  mengenai kesalahan lab awal yang menyebutkan 27.000 dan dilakukan revisi
  181.000 dan diberikan suntikan yang mengakibatkan kondisi kesehatan makin
  memburuk dari sebelum masuk ke RS Omni.
  Kenapa saya dan suami saya ngotot dengan surat tersebut? karena saya ingin
  tahu bahwa sebenarnya hasil lab 27.000 itu benar ada atau fiktif saja supaya
  RS Omni mendapatkan pasien rawat inap.  Dan setelah beberapa kali kami
  ditipu dengan janji maka sebenarnya adalah hasil lab saya 27.000 adalah
  FIKTIF dan yang sebenarnya saya tidak perlu rawat inap dan tidak perlu ada
  suntikan dan sesak napas dan kesehatan saya tidak makin parah karena bisa
  langsung tertangani dengan baik.
  Saya dirugikan secara kesehatan, mungkin dikarenakan biaya RS ini dengan
  asuransi makanya RS ini seenaknya mengambil limit asuransi saya semaksimal
  mungkin tapi RS ini tidak memperdulikan efek dari keserakahan ini.
  Ogi menyarankan saya bertemiu dengan direktur operasional RS Omni (dr. Bina)
  namun saya dan suami saya terlalu lelah mengikuti permainan kebohongan
  mereka dengan kondisi saya masih sakit dan dirawat di RS lain.
  Syukur Alhamdulilah saya mulai membaik namun ada kondisi mata saya yang
  selaput atasnya robek dan terkena virus sehingga penglihatan saya tidak
  jelas dan apabila terkena sinar saya tidak tahan dan ini membutuhkan waktu
  yang cukup untuk menyembuhkan.
  Setiap kehidupan manusia pasti ada jalan hidup dan nasibnya masing-masing,
  benar.... tapi apabila nyawa manusia dipermainkan oleh sebuah RS yang
  dpercaya untuk menyembuhkan malah mempermainkan sungguh mengecewakan, semoga
  Allah memberikan hati nurani ke Manajemen dan dokter RS Omni supaya
  diingatkan kembali bahwa mereka juga punya keluarga, anak, orang tua yang
  tentunya suatu saat juga sakit dan membutuhkan medis, mudah-mudahan tidak
  terjadi seperti yang saya alami di RS Omni ini.
  Saya sangat mengharapkan mudah-mudahan salah satu pembaca adalah karyawan
  atau dokter atau Manajemen RS Omni, tolong sampaikan ke dr. Grace, dr.
  Henky, dr. Mimi dan Ogi bahwa jangan sampai pekerjaan mulia kalian sia-sia
  hanya demi perusahaan Anda.
  Saya informasikan juga dr. Henky praktek di RSCM juga, saya tidak mengatakan
  RSCM buruk tapi lebih hati-hati dengan perawatan medis dari dokter ini.
  salam, 
  Prita Mulyasari 
    



   

Kirim email ke