--- On Wed, 15/10/08, Ari Prasetyo <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: Ari Prasetyo <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Sebuah Koin Penyok
To: "dodik orasakti" <[EMAIL PROTECTED]>, "tomi & jerry" <[EMAIL PROTECTED]>,
"yandi andiyana" <[EMAIL PROTECTED]>, "dean ardian" <[EMAIL PROTECTED]>,
"H3RM4NTO avesta" <[EMAIL PROTECTED]>, "putu avesta" <[EMAIL PROTECTED]>,
"nalarpradaya avesta" <[EMAIL PROTECTED]>, "samani cam" <[EMAIL PROTECTED]>,
"thomas cmu" <[EMAIL PROTECTED]>, "rahmat fathoni" <[EMAIL PROTECTED]>, "Bobi
gmail" <[EMAIL PROTECTED]>, "edi gudang" <[EMAIL PROTECTED]>, [EMAIL
PROTECTED], "bobby Hindarko" <[EMAIL PROTECTED]>, "romana hprs" <[EMAIL
PROTECTED]>, "rahmat indra" <[EMAIL PROTECTED]>, "ari isdiana" <[EMAIL
PROTECTED]>, "Ari Isdiana" <[EMAIL PROTECTED]>, "gunarto kalbe" <[EMAIL
PROTECTED]>, "nanang khoerudin" <[EMAIL PROTECTED]>, "Yanuar kliwir" <[EMAIL
PROTECTED]>, "mahzuroh" <[EMAIL PROTECTED]>, "eko marliyanto" <[EMAIL
PROTECTED]>, [EMAIL PROTECTED], "bambang nuryani"
<[EMAIL PROTECTED]>, "eram pawenang" <[EMAIL PROTECTED]>, "yosephin ppic"
<[EMAIL PROTECTED]>, "icha ppic" <[EMAIL PROTECTED]>, "arie prast" <[EMAIL
PROTECTED]>, "ari prast" <[EMAIL PROTECTED]>, "joseph QA" <[EMAIL PROTECTED]>,
"surajiyono rajiyono" <[EMAIL PROTECTED]>, "Adhrial Refaddin" <[EMAIL
PROTECTED]>, [EMAIL PROTECTED], "ade rismanto" <[EMAIL PROTECTED]>, "ainu
rohma" <[EMAIL PROTECTED]>, "tony salim" <[EMAIL PROTECTED]>, "dimas salim"
<[EMAIL PROTECTED]>, "dina sunarko" <[EMAIL PROTECTED]>, "sri yani Swastini"
<[EMAIL PROTECTED]>, "eram tunggul" <[EMAIL PROTECTED]>, "agung waluyo" <[EMAIL
PROTECTED]>, "ardhi wiansyah" <[EMAIL PROTECTED]>, "herdi yanto" <[EMAIL
PROTECTED]>
Date: Wednesday, 15 October, 2008, 8:26 PM
Sebuah koin penyok Alkisah, seorang lelaki keluar dari pekarangan
rumahnya, berjalan tak tentu arah dengan rasa putus asa. Sudah cukup lama ia
menganggur. Kondisi finansial keluarganya morat-marit. Sementara para
tetangganya sibuk memenuhi rumah dengan barang-barang mewah, ia masih bergelut
memikirkan cara memenuhi kebutuhan pokok keluarganya sandang dan pangan.
Anak-anaknya sudah lama tak dibelikan pakaian, istrinya sering marah-marah
karena tak dapat membeli barang-barang rumah tangga yang layak. Laki-laki itu
sudah tak tahan dengan kondisi ini, dan ia tidak yakin bahwa perjalanannya kali
inipun akan membawa keberuntungan, yakni mendapatkan pekerjaan. Ketika
laki-laki itu tengah menyusuri jalanan sepi, tiba-tiba kakinya
terantuk sesuatu. Karena merasa penasaran ia membungkuk dan
mengambilnya.
“Uh, hanya sebuah koin kuno yang sudah penyok-penyok,” gerutunya kecewa.
Meskipun begitu ia membawa koin itu ke sebuah bank. “Sebaiknya koin in Bapak
bawa saja ke kolektor uang kuno,” kata teller itu memberi saran. Lelaki itupun
mengikuti anjuran si teller, membawa koinnya kekolektor. Beruntung sekali, si
kolektor menghargai koin itu senilai 30 dollar. Begitu senangnya, lelaki
tersebut mulai memikirkan apa yang akan dia lakukan dengan rejeki nomplok ini.
Ketika melewati sebuah toko perkakas, dilihatnya beberapa lembar kayu sedang
diobral. Dia bisa membuatkan beberapa rak untuk istrinya karena istrinya
pernah berkata mereka tak punya tempat untuk menyimpan jambangan dan stoples.
Sesudah membeli kayu seharga 30 dollar, dia memanggul kayu tersebut dan
beranjak pulang. Di tengah perjalanan dia melewati bengkel seorang pembuat
mebel. Mata
pemilik bengkel sudah terlatih melihat kayu yang dipanggul lelaki
itu.
Kayunya indah, warnanya bagus, dan mutunya terkenal. Kebetulan pada waktu itu
ada pesanan mebel. Dia menawarkan uang sejumlah 100 dollar kepada lelaki itu.
Terlihat ragu-ragu di mata laki-laki itu, namun pengrajin itu meyakinkannya
dan dapat menawarkannya mebel yang sudah jadi agar dipilih lelaki itu.
Kebetulan di sana ada lemari yang pasti disukai istrinya. Dia menukar kayu
tersebut dan meminjam sebuah gerobak untuk membawa lemari itu. Dia pun segera
membawanya pulang. Di tengah perjalanan dia melewati perumahan baru. Seorang
wanita yang sedang mendekorasi rumah barunya melongok keluar jendela dan
melihat lelaki itu mendorong gerobak berisi lemari yang indah. Si wanita
terpikat dan menawar dengan harga 200 dollar. Ketika lelaki itu nampak
ragu-ragu, si wanita menaikkan tawarannya menjadi 250 dollar. Lelaki itupun
setuju. Kemudian mengembalikan gerobak ke pengrajin dan beranjak pulang. Di
pintu desa dia berhenti sejenak dan ingin
memastikan uang yang ia terima. Ia merogoh sakunya dan menghitung lembaran
bernilai 250 dollar. Pada saat itu seorang perampok keluar dari semak-semak,
mengacungkan belati, merampas uang itu, lalu kabur. Istri si lelaki kebetulan
melihat dan berlari mendekati suaminya seraya berkata, “Apa yang terjadi?
Engkau baik saja kan? Apa yang diambil oleh perampok tadi?” Lelaki itu
mengangkat bahunya dan berkata, “Oh, bukan apa-apa. Hanya sebuah koin penyok
yang kutemukan tadi pagi”. Bila Kita sadar kita tak pernah memiliki apapun,
kenapa harus tenggelam dalam kepedihan yang berlebihan? Sumber : Anonymous
Dapatkan nama yang Anda sukai!
Sekarang Anda dapat memiliki email di @ymail.com dan @rocketmail.com.
Send free SMS to your Friends on Mobile from your Yahoo! Messenger. Download
Now! http://messenger.yahoo.com/download.php