encoding Unicode UTF8
RJ:
Untuk istri apek dipanggil a-em, ini karakter kuno yang sekarang tidak digunakan lagi dalam dialek Mandarin, dialek mandarin menggunakan bomu untuk panggilan istri apek. Dialek mandarin dari a-em ini adalah a-mu.
 
KH:
Dalam dialek2 bhs daerah, memang banyak dipakai karakter yang sudah dipakai dalam bhs. Mandarin.
Misalnya karakter untuk A-M: 阿姆, A-CIM: 阿嬸, karakter M dan CIM ini tidak dipakai dalam bhs. Mandarin.
----------------------
RJ:
Saya kurang tahu alasan tepatnya, namun saya lebih menerima alasan tata krama untuk saling menjunjung dan menghormati kepada keluarga dari suami atau istri. Ini masih ada di antara keluarga papa dan mama saya dulu. Sewaktu kakek saya belum meninggal, keluarga mama saya akan memanggil kakek saya dengan panggilan chinke (qinjia), nenek dengan panggilan chin-em (qinmu). Demikian pula keluarga papa saya akan memanggil kakek luar dan nenek luar dengan panggilan yang sama.
KH:
Dalam bhs. Hokkian, ada pelafalan yang berbeda yaitu Wenyanyin dan Baihuayin. Dalam panggilan kekerabatan bisa dipakai keduanya. Salah satu contoh adalah panggilan untuk besan.
Besan laki2: Chin Ke 親家
Besan perempuan: Chne M  親姆 (-> Chne: dibaca Che dengan sengau)
Huruf Chin dan Chne sama, tetapi dibaca berbeda.


Rinto Jiang <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Rinto Jiang :

Saya coba menjawab pertanyaan Steve ini.

1.
Bagian dari ayah. Abang dari ayah benar dipanggil dengan pek (hokkian), bo (mandarin). Adik dari ayah dipanggil sebagai cek (hokkian), shu (mandarin). Kakak dan adik perempuan dipanggil ko (hokkian), gu (mandarin).

Untuk istri apek dipanggil a-em, ini karakter kuno yang sekarang tidak digunakan lagi dalam dialek Mandarin, dialek mandarin menggunakan bomu untuk panggilan istri apek. Dialek mandarin dari a-em ini adalah a-mu.

Untuk istri acek, dipanggil asim (achim). Mandarinnya adalah shen.

Untuk suami ako, biasanya dipanggil kotio (hokkian), guzhang (mandarin).

Mengenai urutan, saya beri contoh saja, misalnya kakek kita punya 9 anak, 5 cowok dan 4 cewek dengan urutan sbb, dalam kurung adalah cara kita memanggil :

- cowok (toapek - toa-em)
- cowok (jipek - ji-em)
- cewek (toako - kotio)
- ayah
- cowok (sacek - sasim)
- cewek (jiko - kotio)
- cewek (sako - kotio)
- cowok (secek - sesim)
- cewek (seko - kotio)

toa = besar (sulung), yang pertama
ji = 2
sa = 3
si = 4 dst
se/sio = kecil (bungsu), yang terakhir

perhatikan, tidak ada sepek (apek bungsu) atau toacek (acek sulung). toacek (dashu) biasanya cuma digunakan untuk memanggil teman seumur atau yang lebih kecil dari ayah. Bila membingungkan, biasanya banyak keluarga yang tidak memakai urutan di depan, jadi semua digeneralisasi apek-a-em, acek-asim, ako-atio. Kotio dipanggil lengkap untuk membedakannya dari suami bibi (i-tio).

2.
Bagian dari ibu, abang dan adik laki2 semuanya dipanggil ku (hokkian), jiu (mandarin). Kakak dan adik perempuan semuanya dipanggil i (hokkian), yi (mandarin).

Istri a-ku dipanggil a-kim. Yang ini juga karakter kuno yang tidak digunakan lagi di dialek mandarin. Mandarin menggunakan jiumu atau jiuma untuk memanggil istri a-ku.

Suami a-i dipanggil i-tio (hokkian), yizhang (mandarin).

3.
Bagian saudara laki-laki dan perempuan.
Istri abang dipanggil a-so (hokkian), sao (mandarin).
Istri adik dipanggil tihu (hokkian), difu (mandarin). hu/fu di sini adalah istri atau nyonya.
Suami kakak perempuan dipanggil cihu (hokkian), jiefu (mandarin), hu/fu di sini adalah suami, karakternya lain dengan yang di bagian istri adik.
Suami adik perempuan dipanggil moihu (hokkian), meifu (mandarin).

4. Bagian dari istri atau suami.
Ini bagian yang dibingungkan oleh Steve dan banyak orang.
Bila harus memanggil secara resmi, maka kakak dan adik laki2 dari istri harus dipanggil sebagai a-ku.
Kakak dan adik perempuan dari istri harus dipanggil sebagai a-i.

Demikian pula bila seorang istri memanggil kakak dan adik laki2 maupun perempuan suaminya, adalah apek, acek dan ako sesuai apa yang dipanggil anak2 mereka.

Saya kurang tahu alasan tepatnya, namun saya lebih menerima alasan tata krama untuk saling menjunjung dan menghormati kepada keluarga dari suami atau istri. Ini masih ada di antara keluarga papa dan mama saya dulu. Sewaktu kakek saya belum meninggal, keluarga mama saya akan memanggil kakek saya dengan panggilan chinke (qinjia), nenek dengan panggilan chin-em (qinmu). Demikian pula keluarga papa saya akan memanggil kakek luar dan nenek luar dengan panggilan yang sama.

Rumit, itulah chinese society yang sangat mementingkan hubungan keluarga sebagai unit terkecil sosial kemasyarakatan.


Rinto Jiang

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com

.: Forum Diskusi Budaya Tionghua dan Sejarah Tiongkok :.

.: Kunjungi website global : http://www.budaya-tionghoa.org :.

.: Untuk bergabung : http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :.

.: Jaringan pertemanan Friendster : [EMAIL PROTECTED] :.




YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke