Nah, yang kurang kenal sama Engkong Andreas atau tidak baik2 membaca tulisan engkong pasti bisa menyalahpahami maksud daripada tulisannya itu.

Maksud dari engkong persis dengan pandangan saya. Dikotomi pribumi dan non-pribumi itu sudah harus ditinggalkan karena itu warisan kolonial. Kumpeni Belanda yang mewariskan itu segregasi antar etnis sesuai politik devide-et-impera-nya. Dibagilah waktu itu strata sosial menjadi Eropa-Timur Jauh-Inlander. Aduh, kebetulan pula ketiga kelompok ini beda agama, Kristen-Kepercayaan-Islam. Ini satu bibit perpecahan yang ditanamkan oleh pihak kolonial. Buktinya, orang Eropa baru datang ke Indonesia sejak penghujung abad 16, orang Tionghoa sudah mulai datang ke Indonesia sejak zaman Tang (abad ke-8). Namun dari literatur sejarah, jelas kerusuhan dan permusuhan antara kaum bumiputra dan Tionghoa itu baru mulai tercatat sejak datangnya Kumpeni.

Inti dari tulisan engkong adalah, kita sendiri sudah harus menganggap diri sebagai orang Indonesia, orang pribumi. Ini sesuai pandangan saya dan teman2 lainnya untuk memposisikan diri kita sebagai orang Indonesia dari suku Tionghoa. Sederajat dengan suku2 lainnya yang membentuk nasion Indonesia ini, tidak lebih tinggi tidak lebih rendah. Memang masih banyak yang tidak dapat menerima ini, ada orang Tionghoa yang menganggap dirinya lebih superior, ada pula orang non-Tionghoa yang menganggap orang Tionghoa itu orang asing, non-Indonesia. Namun, kalau orang lain tidak merasa begitu, bukan berarti kita tidak boleh memulai.

Lebih jauh mengenai budaya Tionghoa, kebudayaan Tionghoa di Indonesia walaupun memang berakar dari negara leluhurnya, namun kebudayaan Tionghoa Indonesia itu unik, tidak seluruhnya sama dengan kebudayaan dari sononya. Jadi, kebudayaan Tionghoa di seluruh dunia itu memang punya hulu yang sama, namun kita sekarang telah berada di sungai2 yang berbeda mengantarkan kita ke hilir yang berbeda pula. Jadi, kita boleh menggali ke sumbernya, mencari tahu mengapa bisa begini dan begitu, namun tidak dengan menjadikan diri sendiri menjadi harus hidup dan berbudaya seperti orang2 di negara leluhur. Live your life in Indonesia as Indonesian, with or without Chinese Culture.


Rinto Jiang



ANDREAS MIHARDJA wrote:
Saya ingin menanya kenapakah setelah ratusan tahun - sejak Mojopahit atau mungkinpun sejak sebelumnya kalian menetap diIndonesia kalian masih atau ingin  memakai istilah tionghoa dan pribumi. Jikalau kalian bukan termasuk new immigrant atau keturunan yg pertama atau kedua - kalian semua adalah pribumi. Kemunkinan besar pun yg kalian sekarang sebut pribumi bukan penduduk yg asli dari daerah. Penduduk yg asli daerah atau pribumi adalah keturunan yg dari Indonesia timur - australia, polynesia etc. Yg lain kalau melihat sifat kalian semua adalah campuran pribumi asli dgn suku2 dari Asia timur. Kalian semua serupa dgn orang Thai atau orang Kampuchea atau Myanmar. Kalau kalian keluar Indonesia kalian juga diklassifikasi sebagai orang Indonesia [so-east asian]- dan bukan sebagai tionghoa atau chinese.  Yg bukan first atau second generation - kalian semua sudah menjadi pribumi dari Indonesia -by marriaga, tradition or other feautures. Mungkin yg menghubungkan kalian dgn china hanya agama - seperti tridarma dan ritual yg masih kalian pakai dan kebudayaan sehari2 yg sulit ditinggal..
 
Dgn membaurnya kalian secara agama, nama, pakaian dan tradisi2 setempat kalian 100% adalah pribumi Indonesia. Diluar Indonesia kalian tidak diterima sebagai chinese -hokkian, hakka, etc. Bah. daerah kalian adalah sunda, jawa dan bukan hokkian atau sechuan. Bah mandarin yg dipakai adalah seperti bah Ingeris untuk kalian - bah asing yg dipakai untuk international kommunikasi - bukan bah. rumah. Kalaian kalau cari makanan pasti cari sate, soto, semur, rendang etc dan bukan haysomcah, saomay atau capcay. Pakaian ibu kita adalah kebaya bukan cheongsam - kita makan pakai tangan/ sendok dan bukan sumpit.
 
Memang kita harus menghormati heritage kita yg beraneka macemnya tetapi selain itu kalian adalah 100% pribumi.  Mungkin karena kalian diindonesia dimasukkan kedalam suku cina dan karena kalian tetap berpikir dan bergerak sebagai cina tetapi kalau kalian keluar Indonesia kalian akan mengerti keadaan.
Diluar negeri oleh karena bah sehari2 bukan chinese tetapi indonesia - kalian sudah diklassifikasi sebagai so east asian dan bukan chinese. Dari sifat2 charakteristic genetic, kalian juga so-east asiannya keluar. Kalian diluar negeri dapat disebut indonesian "chinese" tetapi lebih banyak kalian diklassifikasi sebagai indonesia "jawa" Kalian dipandangan mata dunia sama dgn orang Thai atau Philipine yg nenek moyang mereka asal china - tetapi sudah membaur menjadi penduduk setempat.[ lihat Pres. Corry Aquino atau PM Chuan Leekpai] Mereka ket. Hokkian tetapi act 100% sebagai wakil negara mereka. I am sure Corry Aquina masih berbah. hokkian atau mandarin [system pendidikan philipine] tetapi dia adalah 100% philipine dan bukan chinese. Saya kira PM Chan juga bisa mandarin tetapi bah. Thai adalah bah utama dia.
 
Email group ini  "budaya_tionghua" tidak salah dipilih sebab memang kita bisa trace keturunan dan kebuyaan kita ke tiongkok [chungguo] tetapi china adalah dalam imagination kita dan bukan dalam daily life kita. Kita memang ingin preserve tradisi yg baik sebab a person w/o culture is no person. Kita disini tidak menulis dgn huruf chinese tetapi dgn bah indonesia.
Saya personally didalam rumah memakai bah. mandarin dan english dan tidak memakai bah. Indonesia sama sekali - tetapi saya tetap menganggap diri saya indonesia descent. Diluar indonesia kalian yg menyebut dirinya chinese oleh orang asing lain dan terutama oleh chinese asal china di klassifikasi sbagai Malay-kuei 
 
Ini email group sangat bemanfaat untuk menemukan identity kita - sebab banyak tradisi2 disini dapat kita pelajari tetapi banyak juga tradisi2 ini hanya kita pelajari sebagai curiosity. Saya beragama RK tetapi sedari dulu saya senang mempelajari agama tridarma. Gereja RK tidak melarang malah menganjurkan kita mempelajari agama2 lain - untuk memperbaiki masyarakat kita semua. Waktu dulu malah pater kita juga ikut bersama2 mempelajari mereka yg "kesurupan" atau segala macem mystic yg dipakai oleh penduduk setempat seperti kuda lumping atau jailangkung. Tetapi kita juga mempelajari holy spirit dari kaum advent atau mystic orang hindu [kurang lebih sama dgn mystic jawa]
Ini semua tidak salah dan hanya memberikan kita pengertian labih mendalam mengenai diri kita. Para moderator email group ini berhasil membersihkan pikiran2 member dari pikiran yg salah atau interpretasi sesuatu yg tidak baik. Karena itu saya menulis story ini agar mata kita dalam soal keturunan juga dibuka.
 
 
Mungkin tulisan saya ini dibaca agak kasar -  I am sorry about it - tetapi that's the reality Harap member disini jangan offended dan terima keadaan. Jangan lupa memberikan pengertian ini kepada anak2 kalian.
 
Andreas.



.: Forum Diskusi Budaya Tionghua dan Sejarah Tiongkok :.

.: Kunjungi website global : http://www.budaya-tionghoa.org :.

.: Untuk bergabung : http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :.

.: Jaringan pertemanan Friendster : [EMAIL PROTECTED] :.




YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke