Tdk punya SKBRI masih bisa punya pasport ,asal saja parent ada SKBRI,jd dulu 
kalau sy mau perpanjang pasport hrs bawa dokumen org tua sy,ribet lah,kalau 
masih manual,sy hanya pikir gimana kalo ilang dokumen2 jaman dulu milik org 
tua/milik anak2 sekarang,serba manual,hari gineeeeeeeeee.

BUD'S <[EMAIL PROTECTED]> wrote:          Tanpa kewarganegaraan bearti ngak 
punya Pasport dong, tapi kenapa ya bisa mondar mandir keluar negeri he he he 
aneh tapi nyata. boleh tuh masuk MURI 
    ----- Original Message ----- 
  From: Ambon 
  To: [email protected] 
  Sent: Sunday, January 29, 2006 5:32 AM
  Subject: [budaya_tionghua] Saat Bela Merah Putih Masih Berstatus Stateless
  

    http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail_c&id=209258
   
  Minggu, 29 Jan 2006,
   
   
  
 
  Saat Bela Merah Putih Masih Berstatus Stateless 
  
 
  

  JAKARTA - Masyarakat Tionghoa belum sepenuhnya diperlakukan adil. Aparat 
sering memperlakukan mereka secara diskriminatif. Tak jarang masyarakat 
Tionghoa di Indonesia menjadi komoditas para aparat untuk menjadi sapi perahan. 
Khususnya, dalam pengurusan identitas kewarganegaraan atau surat bukti 
kewarganegaraan Republik Indonesia (SBKRI). 

Diskriminasi terhadap masyarakat Tionghoa tersebut dibeberkan dalam diskusi 
yang bertema Imlek, Eksistensi Tionghoa di Indonesia yang digelar di Marioss 
Place, Jakarta, kemarin. 

Ivana Lie, mantan atlet bulu tangkis nasional, yang hadir dalam diskusi 
tersebut menceritakan, dirinya merupakan salah seorang korban rumitnya 
birokrasi dalam mengurus SBKRI. "Bertahun-tahun saya menjadi pemain nasional, 
tapi tanpa kewarganegaraan," ungkapnya. 

Sebagai pemain yang membawa bendera Merah Putih, Ivana berkali-kali 
mengharumkan nama bangsa di level internasional. Prestasinya itu membuat lagu 
kebangsaan Indonesia Raya berkumandang di berbagai penjuru dunia. 

"Saat keluar negeri, saya hanya dibekali secarik kertas yang menyatakan bahwa 
saya orang Indonesia. Tapi, ketika pulang, kewarganegaraan saya dicabut dan 
menjadi stateless (tidak punya kewarganegaraan, Red)," ujarnya. Dia juga telah 
berusaha mengurus KTP, tapi tidak bisa karena tidak memiliki surat 
kewarganegaraan. 

Ivana tidak memiliki surat kewarganegaraan karena orang tuanya adalah 
pendatang. "Pada 1940, orang tua saya datang dari China ke Indonesia dan belum 
berstatus warga negara Indonesia. Otomatis, saya menjadi warga negara asing. 
Padahal, saya lahir di sini sampai menjadi atlet," jelasnya. 

Akhirnya, SBKRI tersebut didapatkan setelah diperjuangkan KONI dan PBSI. "Bukan 
hanya saya yang mengalami hal ini. Tapi, beberapa atlet bulu tangkis lain 
seperti Alan Budi Kusuma, Susi Susanti, dan Hendrawan juga mengalami," katanya. 

Mengomentari Ivana, pengamat etnis Tionghoa Ridawan Saidi mengatakan, "Tidak 
ada tanda-tanda akan menjadi baik. Itu (SKBRI) satu kerumitan administrasi. Itu 
satu peluang untuk mencari uang bagi para birokrat. Kita punya kebijakan 
nasional kewarganegaraan, tapi tidak berjalan karena tidak ada juklak dan 
juknis."

Menurut dia, peraturan yang mewajibkan warga keturunan Tionghoa mempunyai SBKRI 
harus dihentikan. Sebab, hal itu sudah tidak relevan dengan kondisi bangsa yang 
mengedepankan kesetaraan. "Peraturan seperti itu seharusnya disudahi. Itu kan 
kelanjutan dwi kewarganegaraan rangkap 1950," tegas mantan anggota DPR 
tersebut. 

Hal yang sama diungkapkan dosen Studi Masyarakat Tionghoa Indonesia dari 
Beijing Foreign Studies University, Eddy Prabowo. Dia menyatakan, permasalahan 
SBKRI masih belum jelas karena konsep pemerintah masih berbelit-belit. "Ini 
sebuah realitas bahwa orang bisa ditendang ke mana saja. Karena apa? Sebab, ini 
adalah massa mengambang. Kedua, punya duit. Ini sangat berbahaya karena 
merembet dalam banyak hal, terutama status hukum," jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, dia juga menyinggung soal diskriminasi terhadap 
etnis Tionghoa. Menurut dia, diskriminasi tersebut terjadi karena faktor 
eksternal. Artinya, bukan disebabkan keberadaan masyarakat Tionghoa dan 
lainnya. "Di lapisan bawah, simbiosis dengan masyarakat bawah sudah cukup baik. 
Yang mengondisikan adalah faktor eksternal," ujarnya. Salah satu faktor 
eksternal adalah faktor politis.

Lalu, bagaimana menyikapi faktor-faktor eksternal tersebut? Dia menyatakan 
sangat sulit. Sebab, tidak ada kemauan untuk berubah ke arah lebih baik. 
"Sulit. Sebab, orang Tionghoa terkesan ngapain kita bicara kalau salah dan 
nggak bicara juga salah, mau mengadu ke siapa? Minta perlindungan ini, itu," 
tegasnya.

Di sisi lain, Eddy yakin diskriminasi itu lambat laun berkurang. Sebab, mulai 
terjadi gerakan-gerakan generasi muda keturunan Tionghoa untuk melakukan dialog 
multikultural. "Generasi sudah mulai mendobrak kebekuan yang ada," katanya. 

Mereka mulai mendatangi Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) serta 
Departemen Hukum dan HAM. Bukan hanya itu. Menurut Eddy, perlu dikembangkan 
rekonsiliasi sosial yang mengedepankan keterbukaan serta kesepahaman. "Tidak 
ada gunanya saling mencela dan kemudian kecenderungan eksklusivitas. Yang 
penting kesepahaman antara elemen," tegasnya. (yog)



.: Forum Diskusi Budaya Tionghua dan Sejarah Tiongkok :.

.: Kunjungi website global : http://www.budaya-tionghoa.org :.

.: Untuk bergabung : http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :.

.: Jaringan pertemanan Friendster : [EMAIL PROTECTED] :. 


    
---------------------------------
  YAHOO! GROUPS LINKS 

    
    Visit your group "budaya_tionghua" on the web.
    
    To unsubscribe from this group, send an email to:
 [EMAIL PROTECTED]
    
    Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service. 

    
---------------------------------
  



                
---------------------------------
Yahoo! Photos – NEW, now offering a quality print service from just 8p a photo.

[Non-text portions of this message have been removed]






.: Forum Diskusi Budaya Tionghua dan Sejarah Tiongkok :.

.: Kunjungi website global : http://www.budaya-tionghoa.org :.

.: Untuk bergabung : http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :.

.: Jaringan pertemanan Friendster : [EMAIL PROTECTED] :. 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke