On 2/25/07, Golden Horde <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Solidaritas dan sambutan positif yang disampaikan dan > diperlihatkan mulai dari pemimpin nasional (Presiden SBY) dan > daerah (Gubernur DIY Hamengku Buwono X, dll) serta tokoh nasional > lainnya, sampai dengan beberapa media massa dalam menyambut > perayaan Imlek tahun ini di seluruh Indonesia (dan juga tahun-tahun > sebelumnya) merupakan peristiwa yang menggembirakan bagi masyarakat > etnis Tionghoa Indonesia. > > Selain kegembiraan dan optimisme dalam menyambut perayaan Imlek > tahun ini yang merupakan salah satu icon keberadaan etnis Tionghoa di > Indonesia, adalah aspek psikologis dan politis yang dirasakannya, > yaitu mereka merasa diakui (atau diakui kembali) sebagai bagian > integral dari bangsa besar ini, serta mengukuhkan kembali "sense of > nation" and "sense of belonging" dalam "mind and hearts" etnis > Tionghoa terhadap negara tempat mereka hidup, tinggal dan > dibesarkan, dan ini merupakan salah satu faktor penting yang > diperlukan dalam proses "Nation Building". >
Sudah tentu masih banyak peraturan-peraturan dan praktek-praktek sisa > sisa warisan masa lalu yang bersifat diskriminatif yang masih harus > dialami sehari-hari oleh warga etnis Tionghoa, tetapi > perkembangannya menuju ke arah yang lebih positif , sesuai dengan > perkembangan arus jaman masa kini. > > Untuk ini orang tidak melupakan jasa Gus Dur dan Megawati > yang melakukan terobosan bersejarah, merintis dan merajut kembali > benang yang terputus selama 32 tahun.. > > > Kalau solidaritas sudah dicanangkan dan hak hidup Budaya Tionghua sudah diberikan atau paling tidak dijanjikan, bukankah kini terpulang kepada kita untuk bahu membahu melestarikan dan mengembangkan Budaya Tionghua ??. Kita galang persatuan,kita retas kecurigaan dan kita bangun kebersamaan bagi mereka yang perduli, tidak perduli apakah MATAKIN, WALUBI, Kristen, Katolik, Islam dls untuk bersama-sama melestarikan Budaya Tionghua. Positive thinking, nilai luhur Budaya Tionghua akan tergantung kepada kita, asal kita mau berbagi, berbagi rasa, berbagi kerja Best regards, Tantono Subagyo [Non-text portions of this message have been removed]
