Zhou heng, Perdebatan ini timbul dari posting anda : Ketika terjadi G30s, saat rezim orba berkuasa, kalngan gereja melihat kesempatan emas, dengan antusias mereka mendukung langkah Soeharto memberangus budaya tionghoa, kalangan aktivis Khatolik bahkan ikut mengkonsep politik ganti nama dll. Dan langkah mereka ini tidak sia2, kaum tionghoa yang telah dilucuti budayanya sangat mudah untuk dibujuk memeluk agama mereka, akibatnya, jumlah penganut Khatolik/protestan meningkat pesat di kalngan Tionghoa.
Kalau sekarang mereka mulai mengkoreksi kebijakan mereka, itu juga paksaan situasi, di mana di Indonesia dan seluruh dunia pasang budaya Tionghoa sedang naik, jika mereka tidak mengakomodasi, mereka malah yang akan ditinggalkan umatnya. yah, agama pun tidak terlepas dari politik bukan/ Ketika saya tanyakan apa bukti tuduhan Saudara : kalangan gereja yang mana dan apa buktinya anda hanya dapat menyebut Shindunata tanpa memberikan bukti bahwa K. Sindhunata adalah agen Gereja, bahkan andapun malas mencari data, tidak mau membandingkan antara politik integrasi Siauw Giok Tjhan dan politik asimilasi Sindhunata. setelah saya kerar lagi anda jawab bahwa anda tidak menyalahkan Gereja hanya mengatakan Gereja diam-diam senang karena mendapat untung. (jadi siapa membelokkan percakapan dan tidak etis ???) Anda menuduh, diminta membuktikan dengan angka tidak bisa, mengelak dan mengatakan Ilmu Sosial (yang sebenarnya perlu riset dan angka pula). Anda mengatakan bahwa bertambah banyaknya penganut agama Kristen dan Katholik adalah banyaknya Gereja yang bertambah dipemukiman yang kebanyakan Tionghua dan disitu klenteng tidak ada, lalu pengamatan ini cukup untuk menuduh Gereja merekayasa pemberangusan Budaya Tionghua dimasa ORBA. Zhou heng, jika ahli Ilmu Sosial seperti anda yang main tuduh berdasarkan asumsi dan perasaan, maka memang Ilmu Sosial akan hancur. Coba bandingkan posting pertama anda dengan posting anda sekarang : Ketika terjadi G30s, saat rezim orba berkuasa, kalngan gereja melihat kesempatan emas, dengan antusias mereka mendukung langkah Soeharto memberangus budaya tionghoa, kalangan aktivis Khatolik bahkan ikut mengkonsep politik ganti nama dll. Dan langkah mereka ini tidak sia2, kaum tionghoa yang telah dilucuti budayanya sangat mudah untuk dibujuk memeluk agama mereka, akibatnya, jumlah penganut Khatolik/protestan meningkat pesat di kalngan Tionghoa. On 2/25/07, [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Sebenarnya, Saya memaparkan masalah2 ini bukanlah mau me-nyalah2kan agama apapun, saya hanya menekankan: hubungan budaya Tionghoa dengan semua agama di indonesia sangat dipengaruhi oleh perkembangan politik. ketika Budaya tionghoa ditekan penguasa, semua agama juga ikut menjauhi ( kalau tidak memusuhi) semua yang berbau ketionghoaan. sebaliknya, saat situasi politik multy kultural sedang naik daun di era reformasi, diimbangi oleh naiknya kekuatan ekonomi Negeri Tiongkok, budaya Tionghoa mulai naik daun, semua agama beramai2 mengakrabi budaya tionghoa. tidak usah gereja, masjidpun ikut mendatangkan barongsai kok. semua ini sebenarnya tak ada sangkut pautnya dengan inti ajaran agama! Lho, sekarang anda bilang tidak menyalahkan padahal posting pertama anda jelas menyalahkan bahkan menganggap Gereja sebagai Dalang, mbok ya yang konsisten. Kalau mau ilmiah pake data, pake riset dan konsisten Bung !!!!. Anda muter-muter terus, buktikan pake data tidak bisa, buktikan pake analisa politik Sindhunata tidak bisa dan menganggap Sindhunata itu mewakili Gereja > > Semua agama dalam penyebaran pasti menempuh bebagai cara, jika > pertahananbudaya yang dihadapi sangat kuat, mereka pasti akan menyesuaikan > diri terhadap > budaya setempat, agar lebih mudah diterima. contohnya adalah menara kudus > di masjid Kudus dan gamelan di gereja Jawa seperti yang disebut Tantono. > Tapi jika yang dihadapi sedang lemah, seperti Budaya tionghoa di zaman > Orba, mana ada yang menggubris? untuk apa repot2 mengakomodasi, melakukan > modifikasi2 segala. dalam kondisi ini kebijakan pemurnian pasti yang > unggul. > Zhou heng, kalau Gereja menghalalkan segala cara seperti apa yang anda katakan diatas maka Gereja itu tidak akan diberkati dan akan terpuruk/hancur karena iman umatnya hanya karena paksaan. Kalau anda menyalahkan gereja tidak protes dengan pemberangusan Budaya Tionghua maka anda tidak tahu kenyataan bahwa Gereja sendiri mengalami masa yang sulit waktu ORBA dan mana sempat melakukan politik pemurnian, ngurusin diri sendiri juga susah. PGI dan KWI dahulu terpaksa mengakui azas tunggal Pancasila segala, dan anda tahu berapa Gereja yang dibakar tanpa perkara di masa lalu, berapa korban SKB yang digunakan untuk menekan pertumbuhan Gereja ???. Sampai sekarangpun banyak gereja yang sulit mendapatkan IMB walau tanah ada dan jemaat ada. Apakah salah GKI Ciledug ???, atau Sekolah Sang Timur di Ciledug ???? catatan: pendapat seperti diatas ini bisa kita simpulkan jika kita tidak menutup mata terhadap sejarah politik, sosial dan budaya di seluruh dunia. kita juga berhutang pada teori dan studi2 ilmu sosial yang dilakukan pendahulu2 kita, kalau setiap membuat analisa disuruh mengemukan data, saya kira sebagian besar ilmu sosial akan runtuh. yang jaya hanyalah ilmu statistik. Salam, ZFy Analisa ilmu harus mengemukakan data, karena ilmu bukan kira-kira dan analisa tanpa data adalah bias. Ilmu sosial juga pakai statistik lho !!!. Di milis ini banyak PhD Ilmu Sosial yang kiranya bisa memberikan pencerahan, sekali lagi Zhou heng tuduhan anda tidak berdasar dan berbukti, dan tolong kutip teori dan studi2 ilmu sosial yang dilakukan pendahulu2 kita yang mendukung tuduhan anda dalam posting pertama tersebut, jangan malas karena setiap orang menuduh harus membuktikan walaupun sedang tidak membuat desertasi. Siapapun merasa bahwa posting anda adalah tuduhan walaupun anda akhirnya muter-muter bilang bahwa Sebenarnya, Saya memaparkan masalah2 ini bukanlah mau me-nyalah2kan agama apapun, Kiranya cukup sekian saja tanggapan saya dan saya tantang anda untuk debat terbuka dimanapun juga masalah ini. karena bagi saya tuduhan bahwa Gereja memberangus Budaya Tionghua untuk memperoleh umat harus ditanggapi. Salam, Tantono > > > catatan: pendapat seperti diatas ini bisa kita simpulkan jika kita tidak > menutup mata terhadap sejarah politik, sosial dan budaya di seluruh dunia. > kita juga berhutang pada teori dan studi2 ilmu sosial yang dilakukan > pendahulu2 kita, kalau setiap membuat analisa disuruh mengemukan data, > saya kira sebagian besar ilmu sosial akan runtuh. yang jaya hanyalah ilmu > statistik. > > Salam, > ZFy > > > Sdr Andreas Robby Wirdja yth, > > Kalau dilihat diskusi dengan sdr Zfy ini makin lama makin tak produktif, > > kilahnya lagi, malas cari data atau data nggak perlu karena tidak sedang > > nulis desertasi (mungkin yang dimaksud disertasi) , dan analisanya hanya > > berdasarkan sepak terjang Shindunata (kalau ini pasti Kristoforus > > Sindhunata, ). Saya memang mencari tulang dalam telur, herannya kok > > ketemu > > juga, gedeeee lageee. > > Kalau diskusi etis sebelum menuduh cari data dulu, lha ini tidak kok, > asal > > nuduh saja, kalau ditanya buktinya : ah nggak usah toh bukti nggak perlu > > karena tidak sedang > > -- Best regards, Tantono Subagyo [Non-text portions of this message have been removed]
