Pro Tantono dan ZFY
Salam Damai Andreas Robby Wirdja Re: Pro Sdr Andreas Robby Wirdja dan sdr Zfy Re: Re: [budaya_tionghu Posted by: "[EMAIL PROTECTED]" [EMAIL PROTECTED] gudupugu Sun Feb 25, 2007 6:59 am (PST) Sdr Tantono, kalau saya bilang jumlah mobil di jakarta bertambah banyak dibandingkan !0 tahun lalu, dengan cara mengamati jalan2 di jakarta yang semakin macet saja, apakah ini tidak sah? apakah saya harus mengemukakan data kepemilk mobil dari kepolisian baru anda pecaya? angka sttistik bukan satu2nya bukti, banyak cara untuk mengungkapkan kebenaran, sayangnya, yang menolak pendapat saya hanya mau memakai data angka sebagai pegangan. anda juga sama sekali tak mau memikirkan pertanyaan penting ini: kemana larinya penduduk Indonesia yang seblumnya tak beragama, setelah Orba memberlakukan Wajib beragama? Dada: Mudah saja memplintir balik argument2 anda itu : Kalau orang suka dengan pembuktian terbalik , maka saya lebih suka yang dinamakan pertanyaan terbalik hehehehe Ada perbedaan mendasar antara mengamati dan menghakimi. Mengamati jalan raya dan menghakimi umat atau etnis agama tertentu......... Coba saya kasih tantangan begini , seorang non-tionghoa tanpa data dan tanpa dasar mengatakan: "kalau saya bilang orang tionghoa itu sombong , arogan , eksklusif , materialistis , dan bertanggung jawab atas rusaknya ekonomi negri ini , dan biang kesenjangan sosial" .......sekarang coba anda debat fiktif dengan si non-tionghoa itu , simulasikan!!!!!! Ntar jawaban ente , akan menjawab pertanyaan ente sendiri . Dan pertanyaan ente , akan dijawab oleh jawaban ente sendiri......... ========================================================================= Sebenarnya, Saya memaparkan masalah2 ini bukanlah mau me-nyalah2kan agama apapun, saya hanya menekankan: hubungan budaya Tionghoa dengan semua agama di indonesia sangat dipengaruhi oleh perkembangan politik. ketika Budaya tionghoa ditekan penguasa, semua agama juga ikut menjauhi ( kalau tidak memusuhi) semua yang berbau ketionghoaan. sebaliknya, saat situasi politik multy kultural sedang naik daun di era reformasi, diimbangi oleh naiknya kekuatan ekonomi Negeri Tiongkok, budaya Tionghoa mulai naik daun, semua agama beramai2 mengakrabi budaya tionghoa. tidak usah gereja, masjidpun ikut mendatangkan barongsai kok. semua ini sebenarnya tak ada sangkut pautnya dengan inti ajaran agama! Dada: Anda berbicara tentang sebuah fenomena YANG TERJADI DIMANAPUN. budaya itu ditentukan oleh kekuatan ...(kekuatan bisa berarti apa saja , politik , ekonomi dst) Sekarang coba pikir : 1. Hampir semua orang didunia menggunakan bahasa Inggris, mungkin termasuk anda juga. Saat kekuatan barat meningkat pesat , semua bangsa mempelajari bahasa ini . 2. Hampir semua orang menggunakan system bilangan hindu-arab , mungkin termasuk anda juga. 3. Hampir semua orang merayakan tahun baru , valentine dll , mungkin termasuk anda juga 4. Hampir semua orang menggunakan produk-produk barat , termasuk produk oom bill gates , termasuk anda juga....... Sekalipun si Inggris tidak memaksakan bahasa mereka untuk anda pelajari , toh anda yang terpaksa belajar bahasa Inggris. Kalau anda tidak mau rugi tentunya. Ada perlombaan kasat mata yang menentukan satu produk budaya diangkat menjadi budaya universal. Dan dari suatu kebutuhan mau tidak mau dipelajari seluruh dunia. Akan tetapi camkan hal ini. Bukan berarti budaya yang satu lebih unggul dari yang lain. Sifatnya sementara mengikuti siklus pasang-surut hegemoni. Sudahlah saya pakai bahasa yang lebih mudah saja . Anggap saja interaksi antar budaya itu seperti bursa saham yang berfluktuasi .(kita lepaskan dulu jubah etnis). Mungkin pada saatnya nanti , bahasa Mandarin yang menjadi bahasa universal, atau bahasa India atau bahasa lainnya. Sama seperti anjuran saya terhadap bung Andreas , begitu anda , terus membahas masalah agama seperti ini. Anda orang yang pertama yang memberangus budaya tionghoa. Karena dengan kata lain , waktu member tersita untuk menonton jam tayang utama olimpiade antar agama di milist ini. Dan slot acara untuk budaya dan sejarah tiongkok jadi tersita. ============================================================================= Semua agama dalam penyebaran pasti menempuh bebagai cara, jika pertahanan budaya yang dihadapi sangat kuat, mereka pasti akan menyesuaikan diri terhadap budaya setempat, agar lebih mudah diterima. contohnya adalah menara kudus di masjid Kudus dan gamelan di gereja Jawa seperti yang disebut Tantono. Tapi jika yang dihadapi sedang lemah, seperti Budaya tionghoa di zaman Orba, mana ada yang menggubris? untuk apa repot2 mengakomodasi, melakukan modifikasi2 segala. dalam kondisi ini kebijakan pemurnian pasti yang unggul. Dada: Mangkanya saya mengajak anda melihat dunia. Saya bisa saja mengeluhkan jaman aniaya umat katolik diseluruh dunia , begitu juga umat agama lain. (itu terjadi sepanjang sejarah ribuan tahun) Dipikir-pikir memang sakit hati., akan tetapi apalah gunanya. Ada yang datang ada yang pergi . Saat anda mengkalkulasi umat yang anda katakan tidak beragama , didunia lain juga ada umat beragama yang mengalami tekanan. Tetapi kalau berpikir positif, cobaan dan tekanan justru memilah2 mana umat agama yang suam-suam kuku , dan mana umat agama yang beriman. Pedangpun harus ditempa berkali-kali agar semakin keras dan tajam. =========================================================== catatan: pendapat seperti diatas ini bisa kita simpulkan jika kita tidak menutup mata terhadap sejarah politik, sosial dan budaya di seluruh dunia. kita juga berhutang pada teori dan studi2 ilmu sosial yang dilakukan pendahulu2 kita, kalau setiap membuat analisa disuruh mengemukan data, saya kira sebagian besar ilmu sosial akan runtuh. yang jaya hanyalah ilmu statistik. Dada: Semua ilmu itu saling terkait dan berkerjasama , tidak saling meniadakan, bahkan bisa bertransformasi dalam beberapa pendekatan(approach) Salam, ZFy > Sdr Andreas Robby Wirdja yth, > Kalau dilihat diskusi dengan sdr Zfy ini makin lama makin tak produktif, > kilahnya lagi, malas cari data atau data nggak perlu karena tidak sedang > nulis desertasi (mungkin yang dimaksud disertasi) , dan analisanya hanya > berdasarkan sepak terjang Shindunata (kalau ini pasti Kristoforus > Sindhunata, ). Saya memang mencari tulang dalam telur, herannya kok > ketemu > juga, gedeeee lageee. > Kalau diskusi etis sebelum menuduh cari data dulu, lha ini tidak kok, asal > nuduh saja, kalau ditanya buktinya : ah nggak usah toh bukti nggak perlu > karena tidak sedang [Non-text portions of this message have been removed]
