Kelapa Gading dan Pasar Glodok (V) - Makan di Indonesia tidak kalah dengan Hongkong dan RRT
Sewaktu saya menulis artikel ini hari saptu dan minggu tanggal 17-18 Maret, siapa yang mengira bahwa hawa udara yang beberapa hari sebelumnya adalah hawa musim semi, sekarang berobah menjadi hawa uadara winter yang sangat dingin, terutama dengan datangnya angin yang keras. Diluar saya dengar jatunya es-es batu memukul kaca jendela. Malamnya hujan salju, meskipun di Belanda tidak seberapa besar dibandingkan dengan negara-negara Eropa Barat lainnya. Bahkan di Spanyol hujan salju yang berat, ditanah salju setinggi 20 cm.Beberapa jalanan di tutup untuk umum. Hujan salju ini akan berjalan beberapa hari lamanya. Padahal Spanyol letaknya lebih selatan daripada Belanda. Saya bangun kebun dan jalanan putih seperti karpet yang putih menutupi lapangan. Tidak salah ada pepatah Belanada: "Maart heeft zijn staart, atau bulan maret mempunyai buntutnya."Buntut ini berarti buntutnya musim winter. Juga di belanda diprediksi akan hujan salju tetapi tidak tahan lama akan mencair. Mall di Kelapa Gading sangat besar, mall yang lama di perbesar dengan mall yang baru dan lebih lux. Food court disini juga ada dua, makan di food court di mall yang tua lebih murah dari pada food court yang baru. Kalau anda berani bisa makan rujak cingur di food court yang lama, menunya besar dan harganya Rp. 25 000, mahal dalam ukuran Indonesia. Herannya di foodcourt ini satu lalerpun saya tidak kelihatan, sungguh mengherankan, padahal di luar banyak nyamuk dan laler. Juga toiletnya bersih. Kami lihat selalu ada orang yang membersihkan lantai mall, dalam hal kebersihan di mall Kelapa Gading mungkin dapat dibandingkan dengan mall-mall di Eropa Barat. Juga terasa temperatur yang nyaman seperti di kota pegunungan Malang atau Bandung. Pokoknya di Kelapa Gading adalah daerah yang dengan sukses dibangun menjadi kota mandiri. Semua ada angsalkan dompet anda cukup berisi. Beli barang untuk penghidupan di Kota, dan terutama di Glodok mungkin lebih murah dari pada beli di mall kelapa Gading. Di Glodok kwantitet barangnya lebih beraneka warna, tetapi lebih semerawut. Apalagi kiosknya kecil-kecil, tetapi penuh dengan barangnya, sampai penjualnya pun ruangan geraknya terbatas. Mungkin kalau anda mencari items seperti korokan kuping, serit rambut, bahkan kaca mata untuk membaca yang sudah jadi, harganya murah, mesin cukur kumis yang kecil sukar dicari di Kelapa Gading, tetapi mudah didapat di Glodok. Apalagi kalau anda cari barang-barang chusus Tionghoa seperti obat-obatan, teh hijau, makanan, pecah-belah, mangkok sumpit, guci teh, pakean dalam buatan Tiongkok etc. etc. Tempatnya adalah di Pasar Glodok. Di Pasar Glodok anda dapat makan makanan klasik Tionghoa yang enak, tetapi menghilang di resto yang elit: masakan Lu dari kuping, berbagi jeroan babi; kura-kura, loh mie etc. angsalkan anda berani tidak takut kena diare dan duduk dibangku bersama orang yang anda tidak kenal. Tinggal tegantung pilihan anda senang kemana, saya sebetulnya lebih senang ke pasar Pecinan, kesulitannya ialah kurang "convenient", kalau kita capai sukar untuk bisa duduk dengan santai. Dapat dikatakan dalam satu barisan: "di Glodok areal marketnya lebih kecil, tetapi barang-barangnya lebih terkonsentrasi dan lebih berpancawarna baik kwalitet, kwantitet dan macamnya barang." Di Surabaya dapat dibandingkan antara kunjungan ke pasar atom dan ke mall Tunjungan Plaza. Inilah tipikal dari Pecinan klassik, meskipun sudah banyak berobah! Tinggal di Kelapa Gading dapat kira-kira di bandingkan di jaman Tempo Doeloe dengan tinggal di daerah Pecinan di Surabaya di daerah Simolawang, diamana terdapat jalanan seperti Nanking straat, Wuchang straat, Tientsin straat etc. tetapi harus disesuaikan dengan situasi jamannya. Saya kenal daerah Simolawang karena letaknya tidak jauh dari rumah saya dan kedua saya mempunyai beberapa teman yang tinggal disitu. Menurut emosi bukankah lebih baik kalau daerah-daerah pecinan diberi nama yang berbunyi ketionghoan dari pada katakan umpamanya Janur asri. Tetapi saya juga menegrti bahwa secara politis, dan pikiran yang tenang ini akan mengurangi proses integrasi dalam masyarakat Indonesia. Karenanya anggaplah quotasi saya ini sebagai satu fantasi dari seorang senior! Setiap hari kami sudah janji dan kami dipapak dengan mobil untuk makan luar dan bergantian masakan apa yang kami makan. Umumnya kami makan kuisin Tionghoa, lalu masakan Jawa, jarang masakan Eropa dan karena bergantian selera maka tidak membosankan. Restoran Angke yang ternama di centrum kota, membuka cabangnya di Kelapa Gading. Makan disini lebih santai tidak seramai di kota, restorannya lebih besar dan lebih bersih lingkungannya. Perdagangan tidak semudah seperti yang kita pikirkan sebelumnya, ada resto yang baru buka, tetapi banyak juga yang tutup. Ada satu restoran yang kami sering makan setiap tahun kalau kami datang di Jakarta, restoran ini termasuk elit, enak masakannya, terutama panggangan babi, bebek, ayam dan sup kepala ikan. Makan di resto ini harganya tidak murah dan lagi porsinya kecil. Sayang resto ini sekarang tutup; mungkin kalah dalam kompetisi, dan ini bukan satu-satunya. Dari gejala ini dapat diketahui akan kompetisi dalam bidang restoran di Jakarta sangat berat. Tetapi tokh ada saja orang yang masih berani buka resto yang elit dan mahal harga menunya. Kami mencoba makan di dua resto yang baru dibuka dan berbicara dengan chefkoknya, yang ternyata datang dari Hongkong, tidak dapat bicara bahasa Indonesia. Kami bercakap-cakap dengan beliau dan ternyata chef kok ini mempunyai saham di resto ini. Sekarang saya rasa trend di Jakarta untuk makan bubur, karena dahulu tidak pernah ada anggota keluarga saya yang mengajak kami makan bubur, tetapi ini kali kami sampai tiga kali makan siang makan bubur di tiga resto bubur yang berlainan. Bubur dimakan dengan Dim Sum dan telur bebek yang dinamakan Bi-Tan, ialah telur bebek "seratus tahun" buatan RRT. Istri saya dan juga saya langsung ingat pada keluarga kami di Nederland yang biasa pada setiap minggu, makan bubur pagi bersama dengan keluarga. Kebiasaan ini kami bawa dari pengalaman penghidupan kami di RRT dan Hongkong. Di Holland kami makan bubur dengan bitan, telur goreng dadar, asinan sayur buatan Taiwan dan ikan Taoco hitam buatan RRT., kacang goreng dan Dim Sum (frozen), yang bisa beli di toko-toko Tionghoa. Yang paling enak buat saya ialah dengan Fu-ru (fermented beancurd) yang pedas, tahu yang bagi orang yang tidak sukah berbauh tidak enak, tetapi yang sukah berbauh wangi seperti keju perancis. Semua lauk pauk boleh dihilangkan tetapi "tahu" ini adalah satu "must" apabila kami makan bubur! Makan bubur cara klasik Tionghoa bersama keluarga, inclusive anak cucu, sangat santai sekali dan senang! Makan bubur ini jangan makan dengan sendok garpu, tetapi selera anda akan meningkat apabila anda makan dengan sumpit dan minum teh Tiongkok, bagi saya ialah Long Jing, Wu Long, teh bunga melati atau Tong Ting. Di restoran ada banyak macam bubur, bubur ikan, bubur ayam, bubur daging babi etc., tetapi umumnya sekarang orang Indonesia tidak begitu berani makan ayam, takut kena Flu Burung. Chef kok dari restoran-restoran yang ternama umumnya datang dari Hongkong atau RRT, dan bahkan ada orang yang mengatakan bahwa masakan Tionghoa di Indonesia terutama di Jakarta dan Surabaya tidak kalah dengan restoran-restoran di RRT atau Hongkong. Pada malam hari restoran restoran penuh dengan pengunjung terutama pada saptu malam dan minggu siang, susah untuk memparkir mobil. Orang bisa bertanya katanya ekonomi Indonesia dan bisnis hampir dalam segala bidang sepih, tetapi tokh restoran-restoran yang elit-elit tetap penuh dengan manusia. Memang tidak salah bahwa berlibur di Indonesia, betul-betul santai, tidak bekerja dan terutama makan. Setiap malam keluarga datang untuk mengajak makan ke restoran. Begitu enaknya sampai istri saya "blenger" dan minta makan tahu goreng tek-tek ala Surabaya, tahunya digoreng dengan telor, dimakan dengan taoge dan sambel kecap, atau rujak cingur. Saya milih Soto Madura atau nasi Rawon, nasi campur, semua ini makanan chas Jawa, tetapi enak, makanan yang kami biasa makan sewaktu kami muda!" Juga ini kali kami cukup makan buah-buahan terutama buah Manggis dan buah Langsep dan Jeruk, yang terachir ini import dari RRT dan juga kuwe-kuwe basah buatan nyonya seperti lemper, kroket, kuwe-kuwe buatan dari hunkwe dan agar-agar yang dimasak dengan santan. Nyaman rasanya, timbullh nostalgia masa muda kami, Tempo Doeloe tinggal di Soerabaya! Kunjungan saya ke Indonesia mempunyai beberapa tujuan diantaranya ialah mengunjungi keluarga, terutama menemui ibu mertua saya yang menderita penyakit tua, kerja sama antar universitas chususnya dibidang kedokteran dan juga dengan hospital-hospital, mengunjungi teman-teman lamaku dan ini kali spesial berreuni dengan anggota-anggota Tionghoa-Net di penggunungan Ciater, Bandung yang akan diadakan pada tanggal 25 februari. [Non-text portions of this message have been removed]
