Anda bilang sendiri, sudah seringkali dibahas, tapi seperti lingkaran setan ia selalu kembali lagi. Apa orang yang mempertanyakan itu tidak tahu kalau itu sudah pernah dibahas? Kemungkinan besar ya. Apakah orang itu tidak mencari dulu lewat fitur pencarian? Kemungkinan besar tidak, karena mencari pesan dalam milis dengan jumlah pesan total hampir 30.000 tidak semudah yang dibayangkan.
Jadi di sinilah saya rasa Wikipedia dapat berperan penting. Wikipedia dapat MENDOKUMENTASIKAN segala sejarah dari semua pihak dengan metode pencarian yang relatif lebih mudah. Masalah banyak orang yang menyunting, menurut saya semakin banyak orang yang menyunting semakin baik. Masalah tidak dapat dipercayai, siapa sih yang dapat dipercaya di jaman ini? Kalau Anda masih percaya 100% kepada omongan satu orang tentang hal ini, Anda orang yang kasihan sekali. Semakin banyak yang menyunting memang belum tentu semakin objektif, tetapi paling tidak semakin tidak subjektif. Nanti siapa gitu yang punya banyak waktu luang, silakan ubek-ubek pesan-pesan yang dahulu, dijadikan satu (dikompilasi), taruh di Wikipedia. Begitu ada orang/member baru tiba-tiba nyeletuk "Eh, apa ya bedanya Tionghoa/Cina?" langsung saja dibalas "Oh, itu lho, baca saja di artikel Wikipedia "Tionghoa vs. Cina" yang ditulis sama anggota milis ini sendiri." Diskusi selesai, waktu tidak terbuang sia-sia menerangkan hal yang sama berulang-ulang. salam wikipediawan, Benny Lin --- In [email protected], liang u <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Rekan-rekan, saya hanya nimbrung sedikit, masalah ini sudah lama jadi debat hampir di tiap majalah. Di US sendiri di California diadakan debat langsung antara Sindhunata dan Siauw Tiong Djin, yang mewakili istilah Cina dan Tionghoa, akhirnya masyarakat Tionghoa di sana sepakat memilih istilah Tionghoa. > Bahkan dalam bahasa Inggerispun mereka memilih Tionghoa. Di sana ada Tionghoa Cultural Centre. > > Yang paling bagus menurut saya ikuti anjuran seorang kiayi dari NU (maaf lupa namanya) dalam majalah Sinergi lama ia mengatakan: Sudah jangan ribut cari alasan asal usul dll, kalau yang disebut Cina tersinggung oleh sebutan itu, sebagai bangsa yang beradab kita harus menghentikannya. > > Setuju? Saya sih setuju, kalau kita merasa demokrat jangan memaksa orang lain, maka saya usulkan secara netral saja, yang merasa Cina membentuk kelompok Cina, yang merasa Tionghoa membentuk kelompok Tionghoa. Memang kita jadi pecah, tapi daripada bersatu lalu gontok-gontokan mending berpisah secara damai. Untuk apa saling maki dari dulu, sudah berapa tahun saya di milis ini, masalah ini tak pernah selesai, ada yang menerangkan sejarah secara panjang lebar . Toh hasilnya tak ada. Setelah reda, lalu mulai lagi, terjadi lagi debat yang tak ada habisnya. > > Menurut saya kita adalah orang Tionghoa Indonesia, ini benar, tapi secara ras adalah Tionghoa, mau tak mau tak dapat dipungkiri. Orang Tionghoa tak harus setuju politik Tiongkok, itu masalah lain, kita kan hanya bicara masalah istilah apa yang ingin kita pergunakan. > > Wikipedia bukan semacam majalah ilmiah, yang kebenarannya tidak diseminarkan dan dibahas para ahli. Siapapun dapat mengisinya, jangan dipercaya seratus persen. > > Hentikanlah debat ini, biarlah kita pecah, tapi secara damai. Tak ada jalan lain. > > Beberapa hari yang lalu baru saya usul bahwa kita harus menerima pluralisme secara politik, agama, aliran sosial dll. Hanya kalau bersatu baru bangsa ini kuat tak terpuruk terus. Biarlah kita plural tapi jangan saling serang lagi. Biarlah kita buat dua kelompok Tionghoa dan Cina, tapi yang Cina jangan terus menyerang dan mengejek yang Tionghoa. > > Mengenai babah dan totok juga baru belum lama kita berdebat. Memang ada dua budaya yang beda, tapi ada perasamaannya. Totok masih murni sedang babah budaya totok yang sudah bercampur budaya Indonesia asli. Beda, tapi perbedaan itu tak usah diributkan, keduanya kita pelajari, keduanya kita hormati. Saya bahkan secara terus terang mengatakan, saya peranakan sudah 4 turunan. Leluhur datang ke Indonesia pada zaman perang candu. Lalu apakah saya tak boleh belajar Mandarin? Karena saya bisa Mandarin, saya dianggap apa? Dengan peranakan akur, dengan totokpun akur dan diterima. Bahkan dengan pribumi Sunda, Batak, Jawa bahkan Irianpun akur. Lalu apa salahnya kalau begitu? Saya tak perduli dimasukkan ke kelompok mana? Tapi saya tak ingin kedua kelompok itu damai. Biarlah menjadi dua, tapi damai jangan saling serang. Sama seperti kita terhadap kelompok Sunda, Jawa dll. > > Ada yang mengatakan kalau kita ke Tiongkok paling dianggap turis. Memang mintanya visa turis koq takut dianggap turis. Kita turis secara hukum. Tapi kalau kita bicara secara manusiawi, kita sesama manusia, yang mempunyai leluhur yang sama. Saya pernah menulis, di Hainan saya bertamu di rumah seorang petani. Ketika mereka tanya leluhur saya dari mana? Saya jawab Hokkian. Mereka bahkan mengatakan," Oh, sama dong, leluhur kita juga dari Hokkian (jangan lupa orang Hainan mayoritas adalah turunan Hokkian)." Ketika saya jawab:" Saya sudah empat turunan di Indonesia," Mereka bahkan mengatakan, "Kami juga sudah beberapa turunan di Hainan, bahkan kampung leluhur di Hokkian sana sudah tak tahu," Saya bilang lagi: "Kami tinggal di luar Tiongkok, di Indonesia, sedang kalian di Hainan masih wilayah Tiongkok, jadi beda dong." Mereka bahkan menjawab lagi, "Beda itu kan politik, politik yang membuat ini negara Tiongkok, ini negara Indonesia, orangnya kan tetap itu-itu > juga, tidak, kita adalah sama, kita saudara katanya, mari kita minum." Saya ingin bertanya kepada rekan-rekan, dengan mendapat perlakuan begitu dari beberapa orang petani, apakah saya salah? Saya peranakan, mereka juga merasa peranakan Hokkian tinggal berturun-turunan di luar wilayah Hokkian. > > Mungkin kita harus kembali kepada semboyan, bahwa: Semua manusia di dunia ini adalah saudara. Termasuk yang Cina dan Tionghoa. Kalau si Cina mengejek terus yang Tionghoa, untuk apa kita bicara budaya Tionghoa? > > Salam > Liang U
