Yuli, Chaina dan Chinese itu bahasa Inggris, Zhongguo dan Huaren itu bahasa mandarin.
Kita tidak membahas bagaimana mereka2 menamai diri mereka sendiri, yang kita bahas bagaimana kita menamai mereka! Apakah kita tidak bisa memakai bahasa Indonesia sepenuhnya saat membahs dunia internasional? Kalau Tionghoa Amerika harus diucapkan American Chinese, mestinya orang Inggris juga harus disebut English ( atau d indonesiakan kembali menjadi Englis ) orang amerika mestinya disebut american atau amerikan .... Ini salah satu cara merusak bahasa Indonesia!!! Kita menamai diri kita Tionghoa, apakah orang luar juga harus menyebut kita Tionghoa? tentu tidak, orang amerika tetap menyebut kita Indnesian Chinese.. masalah bahasa begini jangan rancu ZFy -- Original Message ----- From: ulysee_me2 To: [email protected] Sent: Wednesday, November 14, 2007 8:34 AM Subject: [budaya_tionghua] Re: Lalu bagaimana ...? Tambahan + Jangan melenceng dari topik Mau komentar soal yang ini aja: "Kalau pertimbangannya hanya sekedar pembedaan, istilah Tionghoa sebenarnya juga bukan monopoli WNI. bagaimana dng Tionghoa Amerika? Tionghoa Eropa, Tionghoa Thailan dll? apa mereka tidak berhak disebut Tionghoa lagi? Kalau istilah Tionghoa mau dimonopoli WNI, bagaimana menamai Tionghoa negeri Tiongkok dan Tionghoa perantauan di negeri lain, bagaimana menamai orang Tionghoa Taiwan dan Hongkong ?" UL: Gue jadi bingung. Bukankah yang ngotot disebut tionghoa itu hanya yang di Indonesia doank? Gue dah tanya sama yang di malaysia, dia gak pernah denger istilah tionghoa disana, katanya yang lazim digunakan disana malah istilah cina dan chineese. Yang di Singapur juga. Di Hongkong apalagi, coba deh di crosscheck ama broer Chan, apa ada istilah tionghoa digunakan di Hongkong?? Sebab narasumber gue umur 40 kebawah neh. Lalu gue juga email sepupu gue di Amerika, dia malah bilang, "disini kita udah American chineese, enggak pernah denger istilah tionghoa atau tiongkok, masa nanti kita disebut tiongkokeese??? " Jadi biarin aja lah istilah "tionghoa" dipergunakan secara 'eksklusif' di Indonesia untuk menunjukan 'kastanya yang lebih tinggi' toh di tempat lain ngga ada yang ributin soal itu, heheheheh. (hehehe, gue jadi hobi nyindir soal 'kasta' ha ha ha) --- In [email protected], "Skalaras" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Kalau pertimbangannya hanya sekedar pembedaan, istilah Tionghoa sebenarnya juga bukan monopoli WNI. bagaimana dng Tionghoa Amerika? Tionghoa Eropa, Tionghoa Thailan dll? apa mereka tidak berhak disebut Tionghoa lagi? > > Kalau istilah Tionghoa mau dimonopoli WNI, bagaimana menamai Tionghoa negeri Tiongkok dan Tionghoa perantauan di negeri lain, bagaimana menamai orang Tionghoa Taiwan dan Hongkong ? Kalau pola berpikirnya hanya asal beda, mungkin pilihannya tinggal begini: orang Tionghoa untuk orang Indonesia, orang Tiongkok untuk yang dari negeri Tiongkok, yang diluar itu, terpaksa terima sampahnya ----- orang Cina lagi. absurd bukan? lantas, bagaimana membedakan yang dari Taiwan, Hongkong , Belanda dan Amerika? habislah istilahnya....apa semua perlu mencipta istilah baru? pasti bingung.... > > Padahal, dalam dunia Internasional, semua disebut Chinese ( English) dan Huan Ren ( mandarin), kok tidak ada yang bingung ya? karena dalam istilah yang tunggal itu manusia kan bisa menambahi keterangan tambahan . Chinese bisa menjadi Indonesian Chinese, American Chinse, Mainland Chinese dll2, demikian juga untuk isatilah Huaren, tinggal ditambah keterangan negara asalnya. mengapa pola yang sama tak bisa dipakai untuk istilah tionghoa? mengapa yang sederhana ini mau dijadikan rumit? > > Saya kok cenderung beranggapan, Tionghoa yang ngotot mau membuat garis tegas Tionghoa sana dan Tionghoa sini agaknya masih terbebani bayangan gelap sejarah masa lalu ----- trauma politik zaman orde baru, lewat cara ini, mereka bisa dng gagah menunjukkan bahwa meski dia Tionghoa, dia sangat "patriotik" dan 100% Indonesia, dia bukan "komunis" Cina lho. pola pikir ini kalau diteruskan, pasti ada sebagian yang ngotot mempertahankan "budaya" ganti nama, aagar tetap terlihat beda dng nama cina asli! atau... sebagian mengambil jalan berliku : setuju nama Tionghoa tapi harus dieja dng dialek Hokian, mengambil romanisasi gaya baheula.... waduh, susahnya jadi Cina ya..... > > Salam, > ZFy > > > ----- Original Message ----- > From: Benny Lin > To: [email protected] > Sent: Tuesday, November 13, 2007 5:54 PM > Subject: [budaya_tionghua] Re: Lalu bagaimana ...? Tambahan + Jangan melenceng dari topik > > > Saya melihat bahwa kebanyakan pesan-pesannya sudah melenceng dari > topik dan malah membahas istilah Tionghoa/Cina, bukannya Tiongkok/Cina > seperti topik awalnya, bahkan sudah melebar hingga pembahasan istilah > Indon/Indonesia. Mari kembali ke topik awalnya, perlukah pembedaan > Tionghoa/Tiongkok tersebut, perlukah kita peduli akan penamaan negara > Tiongkok, dan adakah sangkut-pautnya dengan kita orang > Tionghoa/non-Tionghoa di Indonesia? Saya lihat satu-satunya balasan > yang sesuai topik adalah dari sdr. Hai-hai: > > >Sebenarnya saya tidak setuju untuk mengubah sebutan > >negara Cina atau China menjadi Tiongkok. Sebab sebutan > >itu sudah mendunia. Biarlah sebutan itu digunakan > >untuk membedakan antara orang-orang Tionghua di > >Indonesia dan negara China. Kalau kita mengubah > >sebutan negara Cina menjadi Tiongkok, maka akhirnya > >kita akan menghadapi masalah untuk membedakan orang > >Tionghua di Indonesia dengan negara Cina. Bahkan, > >akhirnya kit aakan menghadapi prasangka baru, bahwa > >orang-orang Tionghua adalah orang-orang yang yang > >walaupun warga negara Indonesia, namun hatinya ada di > >negara Tiongkok (Cina). > > >go ho > >hai hai > > Senada dengan sdr. Hai-hai, saya mau menambahkan sedikit saja, mungkin > banyak yang masih tidak menyadari bahwa pembedaan ini diperlukan untuk > menghindari kebingungan antara WNI dan WN "China". Paling tidak ada > tiga pandangan mengenai hal ini: > 1. Yang WNI disebut orang Tionghoa, dan WN "China" juga orang > Tionghoa. Ini jelas akan menimbulkan kebingungan, terutama di bidang > jurnalisme dan surat-surat resmi. > 2. Yang WNI disebut orang Tionghoa, dan WN "China" disebut orang > Tiongkok. Walaupun berbeda, namun dirasa masih mirip, sehingga bagi > yang tidak faham perbedaannya juga akan bingung. Namun dengan > sosialisasi saya rasa masalah ini dapat diselesaikan bersamaan dengan > waktu. > 3. Yang WNI disebut orang Tionghoa, dan WN "China" disebut orang Cina. > Penyebutan orang "China" sebagai orang Cina dirasa tidak akan > membingungkan sebab sejak Orba sudah digunakan istilah ini. Inilah > yang menjadi pokok pembahasan yang saya angkat. > 4. Yang terakhir tapi tidak masuk hitungan adalah kedua-duanya disebut > orang Cina. Tidak masuk hitungan karena seperti yang saya sebutkan, > penggunaan sebutan Tionghoa untuk menggantikan Cina sudah tidak > dipermasalahkan lagi, yang menjadi masalah adalah Tiongkok/Cina. > > Mengenai usulan untuk membahas hal ini di dunia nyata, saya setuju > sih, mulai dari sekarang kumpulkan saja data-datanya penunjangnya > dulu. Dari pembahasan yang lampau sih saya berpendapat bahwa tidak > sulit meyakinkan orang bahwa Tionghoa lebih baik daripada Cina (suku > di Indonesia), tapi yang sulit adalah meyakinkan bahwa istilah > Tiongkok adalah lebih baik daripada Cina (negara dan penduduknya). > Pelajari juga apa saja alasan orang menolak penggantian istilah ini. > > Sejauh ini saya lihat orang-orang menolak hal ini dikarenakan: > -Sejarah: lebih dari 30 tahun pakai istilah Cina, jadi terbiasa > -Sudah terbiasa: karena sejarah > -Lebih mudah diucapkan: dasar orang males > -Tidak bermaksud menghina: sudah jadi bahasa sehari-hari, konotasi > negatifnya sudah memudar > -Ini berkenaan dengan negara lain, jadi orang Indo tidak perlu tersinggung > -<ada lagi?> > > Sedangkan penolakan penggunaan istilah ini menggunakan alasan: > -Sejarah: jaman Soekarno memakai istilah Tiongkok, bukan Cina > -Konotasi negatif: jaman Soeharto, terutama awal-awal, istilah Cina > bermakna sangat negatif > -Digunakan oleh Gus Dur, Megawati, dan SBY > -Istilah Tiongkok netral: sedangkan Cina mengandung konotasi meskipun > tidak senyata dulu > -Negara Tiongkok adalah negara nenek moyang orang Tionghoa > -Jika setuju menggunakan Tionghoa, seharusnya juga setuju menggunakan > Tiongkok. > -<ada lagi?> > > Juga perlu ditanamkan dulu dalam pikiran bahwa tidak semua yang > menggunakan istilah Cina serta-merta bermaksud buruk (kebanyakan dari > mereka tidak bermaksud demikian melainkan demi konsistensi saja), dan > juga tidak semua yang menolak Cina dan mendukung Tiongkok serta- merta > picik/kolot/buang-buang waktu/<hal-hal negatif lainnya> (kebanyakan > dari mereka hanya bermaksud menghentikan penggunaan istilah yang salah) > > Jadi mohon sebelum berkomentar kita: > 1. jangan generalisasi > 2. jangan berprasangka buruk/subjektif > 3. jangan diperkeruh > 4. jangan ngotot > 5. berusaha mencari titik temu secara objektif > 6. memaparkan pro-kontra masing-masing pendapat > 7. paling penting: CANTUMKAN OPINI ANDA TERHADAP MASALAH INI sehingga > orang lain tahu Anda mendukung yang mana. > > Kalau saya, saya mendukung penggunaan istilah Tiongkok atas Cina > dengan alasan yang telah saya paparkan di atas. > > --- In [email protected], "Benny Lin" <bknliem@> wrote: > > > > Seperti yang mungkin Anda sudah tahu (atau mungkin belum), pemungutan > > suara di Wikipedia yang saya utarakan di sini kurang lebih sebulan > > lalu telah usai. Bung Rinto Jiang kurang lebih seminggu lalu juga > > sudah memberikan pranala pemungutan suara yang baru (yang sayang > > sekali tidak boleh diikuti oleh orang yang baru mendaftar untuk > > menghindari perekrutan sesaat). > > > >--cut > > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > [Non-text portions of this message have been removed]
