PENGANTAR EDISI INDONESIA

Joesoef Isak

 

Bagi pembaca yang anti-komunis, apalagi anti-cina dan mata-hati pun tertutup 
rapat, buku Han Suyin ini tidak perlu dibaca, malah kalau bisa kepingin rasanya 
dihidupkan lagi KOPKAMTIB agar buku ini dilarang beredar. Bagi pembaca yang 
juga keras anti-komunis tetapi mata-hati terbuka, masih open minded, begitu pun 
bagi pembaca yang non-komunis tetapi berlapang dada, buku Han Suyin ini patut 
dibaca. Ini bukan saja buku-bacaan mengasyikkan, tetapi juga sekaligus 
buku-pembelajaran – dengan catatan: pembelajaran bukan untuk dijiplak atau 
ditiru, tetapi untuk dibaca dengan sikap mandiri dan kritis. 

 

Materi latar-belakang yang digarap Han Suyin adalah gerak perkem-bangan 
Tiongkok feodal ke Tiongkok modern, Tiongkok nasionalis ke Tiongkok komunis, 
dengan aktor sentral Zhou Enlai – dikelilingi nama-nama tenar seperti Sun 
Yatsen, Chiang Kaishek, Mao Zhedong, Zhu De, Peng Dehuai, Soong Chingling, Deng 
Xiaoping, Nie Rongzhen, Chen Yi, dan puluhan lain para pelaku utama di pentas 
sejarah Tiongkok Baru – di tengah massa buruh perkotaan dan berjuta tani di 
bentangan alam pedesaan. 

 

Bagi rakyat Tiongkok, terutama generasi tua dan kaum intelektual yang mengerti 
sejarah, Zhou Enlai adalah pemimpin kebanggaan, disayang dan dihormati; cerdas, 
ramah, rendah-hati, politikus yang selalu mementingkan rakyat lebih dulu, 
nyaris tidak berbuat salah. Kalau pun berbuat salah, rakyat memaklumi dan 
memaafkannya karena apa yang dia amalkan bagi kepentingan orang banyak 
sepanjang usianya, membikin semua kesalahan kecil dan besar menjadi tenggelam 
tidak ada arti. Lawan-lawan politiknya pun mengakui integritas Zhou Enlai, 
seorang politikus inteligen, tajam dan santun. “Benggolan imperialis” anti 
komunis seperti Kissinger dan Nixon dalam ucapan maupun tulisan mengakui 
terbuka kepada publik martabat anggun Zou Enlai sebagai politikus. 

 

Han Suyin pun sangat menghormati dan mengagumi Zhou Enlai, tetapi dia tidak mau 
menulis sebuah hagiography, dia tidak mau menjadikan obyek tulisannya seorang 
dewa tanpa cacat, sempurna serba benar. Han Suyin tidak mau mengkultuskan 
obyeknya – tidak mau“melukis ular menambah kaki”, maksudnya berlebihan 
puja-puji, menambah-nambah bumbu penyedap, yang tidak ada jadi ada. Bukan Zhou 
Enlai, bukan Han Suyin, tetapi pembaca sendiri tidak bisa tidak yang akan 
membangun kharisma Zhou Enlai secara utuh berdasar fakta dan data yang berbaris 
dalam sejarah. 

 

Cukup banyak penulis Barat menggambarkan pribadi Zhou Enlai yang mereka kagumi 
sebagai seorang komunis yang mengemban paradoks. Pada Zhou Enlai mereka melihat 
kepribadian-kembar – berpendidikan barat dan timur, produk intelektual yang 
menyerap rasionalitas renaissance, i.e. idea-idea pencerahan Prancis, sekaligus 
bergelimang dalam tradisi filsafah konfusiusisme yang sarat kearifan, wisdom. 
Cukup banyak analis Barat melihat Zhou Enlai sebagai seorang kontroversial, 
“split personality”, berbagai paradoks mereka lihat built-in pada dirinya. Zhou 
Enlai mereka lihat kukuh pada ideologinya tetapi bisa bersikap dan bertindak 
sangat pragmatis. Santun, lemah-lembut sekaligus juga tegar dan keras. Dia suka 
pada harmoni, tenteram-tertib, tapi tidak segan berontak dan berlawan. Radikal 
tetapi juga konservatif. Militan revolu-sioner sekaligus superluwes. 
Gejala-gejala itu tergambar dalam penjabaran Han Suyin yang mengikuti segala 
sepak-terjang Zhou Enlai. 

 

Pribadi retak, split personality, sudah populer dalam rumusan psiko-analitik 
menurut text-book sekolahan. Novel dan film banyak mengelola thema itu dengan 
istilah-istilah bipolar behaviour, psycho-pathology, dsbnya. Tidak perlu 
diperdebatkan benar tidaknya, karena boleh jadi kasus-kasus seperti itu memang 
ada dalam pergaulan masyarakat. Tetapi saya menganggap keliru bila rumus itu 
dikenakan pada pribadi Zhou Enlai. Bila dikatakan seorang pribadinya 
terbelah/split, maka orang itu sakit. Sakit jiwa, tidak sehat otak, tidak 
normal perilakunya. 

 

Dalam hal Zhou Enlai, saya melihat dia justru seorang pribadi kuat, mantap 
tidak bimbang mendua, solid. Pribadi utuh. Sikap dan tindakannya tepat. Tepat 
sesuai waktu, tepat sesuai kondisi semasa, tepat sesuai masalah yang dihadapi; 
bukan sama sekali berkepribadianganda. Apakah keputusan dan tindakan yang dia 
ambil berhasil atau tidak, itu soal lain. Zhou Enlai bukan figur protagonis 
kembar a la dr. Jekyll and mr. Hyde, pengejawantahan kebajikan di satu pihak 
dan iblis di lain pihak. 

 

Tidak ada paradoks. Zhou Enlai berpribadi utuh, inteligen di atas rata-rata 
orang pintar. Seorang intelektual revolusioner rendah hati yang penuh 
tanggung-jawab, tidak kenal putusasa atau berhenti karena capek. Dia memiliki 
keunggulan-keunggulan lebih daripada banyak pemimpin lain. Antara lain yang 
mencolok: sebagai pemimpin dia menjadi inspirator, dan punya naluri tajam 
mendetect genius-genius di antara para kader dan pembantu yang ada di 
sekelilingnya. Ini suatu faktor sangat penting dalam kerja revolusi, karena 
mulai dari situ terjadi perbaikan organisasi, pembagian kerja lebih efisien, 
menghidupkan kerja kolektif dan akselerasi gerakan massa dalam kadar kualitas 
yang lebih tinggi. Gerak revolusi tersendat-sendat kalau dipimpin orang-orang 
mediocre apalagi dangkal kerdil. Revolusi membutuhkan orang-orang cerdas dan 
kreatif, itu sebabnya Zhou lebih menghargai pendapat yang lain. Tukar pikiran 
terbuka lewat silang pendapat yang berbeda, otak terusmenerus terasah tajam 
untuk melahirkan keputusan dan tindakan terbaik, begitulah ciri kepemimpinan 
Zhou Enlai. 

 

Zhou Enlai seorang demokrat sejati, dia menerapkan dalam teori dan praktek azas 
demokrasi, sudah tentu bukan demokrasi Barat apalagi standar demokrasi a la 
Bush. Demokrasi yang dianut dan diterapkan Zhou Enlai sangat luas ruang 
geraknya, namun seluas apa pun ruang gerak tetap ada kontur, ada garis batas 
tebal bagaikan the Great Wall yang cukup menjamin kebebasan gerak semua warga 
Tiongkok. Garis batas itu adalah 1. Kepentingan Rakyat, 2. Azas Negara 
(sosialisme) dan 3. Kesatuan Wilayah Tiongkok. Deng Xiaoping yang menerapkan 
prinsip demokrasi Zhou, bertindak keras terhadap peristiwa Tien Anmen karena 
apa yang menamakan “demonstrasi demokrasi” yang didukung dan tidak henti-henti 
disanjung-sanjung oleh pers Barat sampai hari ini, sudah melintasi tiga garis 
batas demokrasi Tiongkok – apabila dibiarkan akan kacau-balau Tiongkok sosialis 
yang baru berdiri, negeri yang belum mantap dan masih harus dibangun; akan 
muncul kembali gejala-gejala feodalisme tuan-tanah besar dan raja-raja perang – 
suatu situasi yang 

menguntungkan negeri-negeri kapitalis untuk ikut kembali campur tangan di dalam 
negeri Tiongkok sebagaimana sebelumnya terjadi semasa dinasti Qing sebelum 
Kemenangan 1949. 

 

Demonstrasi Tien Anmen oleh pemuda dan mahasiswa juga a historis, anak-anak 
muda itu tidak faham sejarah perjuangan heroik para pahlawan seperti Mao 
Zhedong, Zhou Enlai, Zhu De, Soong Chingling, Chen Yi dan ribuan lainnya yang 
dengan tuntas berhasil mengubah Tiongkok feodal menjadi Tiongkok Baru. Berkat 
perjuangan heroik itu, suatu reformasi kualitatif telah terjadi. Kondisi 
sosial-politik, ekonomi dan budaya Tiongkok berubah secara substansial. Bahwa 
banyak jatuh korban, sungguh sangat disesalkan. Siapa harus bertanggung-jawab? 
Yang selenggarakan atau yang gagalkan demon-strasi? Bagaimanapun, kalau sudah 
mengusik azasazas paling dasar, segenap kekuatan Tiongkok Baru harus berani 
membayar beaya penangkalnya betapa pun tinggi harganya. Terlalu naif menganggap 
demo Tienamen suatu gerakan lugu tidak berdosa yang cuma menuntut lebih banyak 
kebebasan demokratis. 

 

Garis demokrasi Zhou yang diterapkan Deng Xiaoping, sampai sekarang konsisten 
dilanjutkan oleh Hu Jintao, malahan Deng Xiaoping menerima dua sistem dalam 
satu negara. Hong Kong dan Macau berazas pasar bebas kapitalis – berbeda dengan 
wilayah Tiongkok sosialis lainnya. Dua wilayah itu bebas mengatur diri sendiri, 
tetapi tetap dalam kerangka Satu Tiongkok, tetap dalam batas-batas demokrasi 
Tiongkok. Taiwan pun ditawarkan penyelesaian yang sama. 

 

Mempertahankan azas negara dan kesatuan wilayah Tiongkok, itulah yang disebut 
pihak Barat sebagai “demokrasi standar-ganda”, padahal pihak barat dengan Bush 
di baris paling depan justru menerapkan sewenang-wenang demokrasi standar-dobel 
mereka. Kriteria dan standar Demokrasi Barat a la Bush adalah: kepentingan 
Amerika tidak boleh terhalang untuk ikut campurtangan di negeri-negeri di mana 
terdapat kepentingannya. Bila ada negeri di dunia-ketiga 

menghalangi kepentingannya, maka negeri itu dianggap menjalankan demokrasi 
standar ganda, bahaya bagi perdamaian dunia, maka harus “dikerjain” (seperti 
dialami Indonesia dan Irak). Demokrasi Terpimpin Bung Karno bertentangan dengan 
demokrasinya Barat, jadi perlu dihancurkan. Barat berhasil di Indonesia , 
tetapi puluhan resimen local army friends Barat tidak berhasil di Tiongkok. 

 

Sungguh ironis urusan demokrasi ini. Komunis Mao mengutip filsafat Tiongkok 
kuno 500 tahun y.l. mengatakan: Biarlah Beratus Bunga Mekar Bersama, Beratus 
Ideologi Bersaingan Suara – tetapi menurut Bush dan Pancasilais-Suharto ada 
satu ideologi harus ditumpas tuntas habis. 

 

Saya masih ingin memfokuskan lagi pada satu keunggulan Zhou Enlai. Ini terjadi 
terutama pada puncak Revolusi Kebudayaan di paroh akhir 60-an, suatu situasi 
yang suram dan berat. Semasa itulah Zhou Enlai banyak dikritik orang di dalam 
dan luar negeri, dianggap tukang kompromi, tidak punya pendirian sendiri, dalam 
segala cuaca manut pada Mao Zhedong, padahal ketua Mao sudah bikin blunder 
besar dengan konsep “Lompatan Jauh ke Depan” – lantas disusul dengan gebrakan 
revolusi kebudayaan yang bertujuan baik tetapi amburadul lepas kontrol karena 
titik-tolaknya mengenyampingkan partai komunis sendiri. Dalam situasi seperti 
itu, Zhou Enlai tetap mendampingi dan mendukung Mao. Banyak orang tidak 
mengerti, tetapi justru di situlah kita lihat kualitas Zhou Enlai sebagai 
politikus ulung yang teruji. Dia bukannya tidak tahu kesalahan-kesalahan serius 
Mao Zhedong, dia bukan tidak punya konsep pemikiran lain. Bahkan pada saat 
revolusi kebudayaan masih berkecamuk pun, Zhou sudah siapkan konsep pembangunan 
alternatif. Tetapi sebagai pemimpin yang punya kesabaran revolusioner, tahu 
betul situasi dan momentum, piawai menye-lesaikan konflik internal, maka konsep 
alternatif itu tidak menyebabkan tabrakan antara kekuatan revolusi pendukung 
Zhou dan Mao. 

 

Zou Enlai mendampingi dan tetap konsisten mendukung Mao Zhedong, karena secara 
politis dia sadar betul bahwa Mao Zhedong adalah identik dengan Tiongkok Baru. 
Melawan dan merongrong Mao Zhedong berarti melawan dan merongrong Tiongkok 
Baru, sedangkan Tiongkok Baru belum stabil, masih harus dipertahankan, masih 
harus diselamatkan dari berbagai macam risiko. Risiko bahaya dogmatisme kiri 
extrem (misalnya “The Gang of Four”), bahaya latent feodalisme tuan-tanah 
besar, juga sisa-sisa kaum nasionalis kanan pro barat yang menunggu kesempatan 
bangkit kembali. Di atas itu semua masih mengintai campur-tangan semi-kolonial 
kapitalisme asing yang tidak henti-henti berkepentingan ikut mengatur urusan 
dalam negeri Tiongkok. Dalam situasi yang masih sangat rentan seperti itu, bagi 
Zhou mendukung Mao dan memprioritaskan eksistensi Tiongkok Baru adalah mutlak. 
Bertahun-tahum dia sabar menahan diri, tetapi 1971 orang sudah mulai tahu Zhou 
punya gagasan alternatif. Dan baru di tahun 1975 Zhou Enlai yang sabar-politik 
muncul terbuka meng-umumkan program pembanguan “Empat Modernisasi” Tiongkok 
Baru, suatu kosep jelas bertolak-belakang dengan konsep Lompatan Jauh Mao 
Zhedong. Tidak ada geger-gegeran! Berkat kesabaran revolusionernya, seluruh 
negeri, rakyat dan Partai menyambut baik konsep Zhou Enlai. Mao Zhedong pun 
menerimanya. “The Gang of Four” yang masih bengis berkoar-koar tidak berdaya 
apa-apa. Itulah kerja taktikus dan strateeg yang kenal betul situasi dan tahu 
gunakan momentum yang matang. Program Empat Modernisasi pun dilengkapi 
perangkat pimpinan penerus dan pelaksana di masa-depan, dalam hal ini Zhou 
sudah cukup lama mem-persiapkan Deng Xiaoping, karena dia sendiri sudah 
dirundung penyakit kanker ganas dalam stadium tinggi. Di RRT yang sekarang laju 
meluncur menjadi negara adikuasa baru, ternyata garis Zhou-lah yang jalan. 
Karena itu kita tidak termasuk kelompok pengritik di dalam dan di luar negeri 
Tiongkok yang menuduh sikap Zhou semasa revolusi kebudayaan salah, plin-plan 
tidak punya pendirian, melulu mengekor Mao Zhedong. 

 

Walaupun mengagumi garis Zhou Enlai dan Deng Xiaoping yang sekarang berada di 
atas angin, saya tetap punya sikap bercadang. Tiongkok Baru pada saat ini 
berada dalam satu lomba politik yang sangat menentukan. Bagaimanakah akhir 
lomba demokratisasi politik dan ekonomi yang sekarang cukup sengit sedang 
berpacu? Perjalanan politik memang selalu open-ended, tidak pernah ada titik 
tamat, tetapi kita sangat penasaran apakah benang merah cita-cita sosialisme 
baru Tiongkok yang akan sampai duluan di garis final? – ataukah konsep 
kemakmuran a la MacDonald, Starbucks, berikut sisa-sisa kekuatan pra-1949 yang 
tidak kelihatan di permukaan? Gerbong panjang kelompok MacDonald menggunakan 
pesawat jet kapitalisme global, mungkinkah mereka yang duluan mencapai final? 
Saya pribadi mengharapkan eksperimen sosialisme Tiongkok Baru akan unggul. 

 

Butir lain dalam pengantar ini, saya masih mau mengingatkan pada satu topik 
penting yang relevan dengan Indonesia – masalah sangat prinsipieel, yaitu: 
merdeka dan hidup tegak dalam “KEMANDIRIAN”. 

 

Pada puncak Perang Dingan antara komunisme Soviet Uni dan kapi-talisme Amerika 
Serikat dan memanasnya Perang Vietnam, Kruschov pada pertengahan 1958 
berkunjung ke Beijing bertemu Mao dan Zhou. Demi “persahabatan abadi” Kruschov 
membujuk Mao membangun Pakta Pertahanan bersama. Dan dia juga tawarkan untuk 
mendatangkan para ahli Soviet guna memasang instalasi nuklir di Tiongkok. 

 

Mao didampingi Zhou menolak tawaran yang sangat menarik itu. Mao tajam 
bertanya, jari siapa yang siap di atas tombol peluncuran? Beberapa tahun 
kemudian baru terungkap kata-kata pedas antara dua pemimpin komunis itu. Mao 
konon mengatakan dengan penuh percaya diri: “Walaupun harus pakai celana kolor, 
Tiongkok mandiri akan membangun instalasi nuklirnya sendiri, juga oleh 
ahli-ahli Tiongkok sendiri!” (Ingat ucapan Bung Karno: Go to hell with your 
aid!–?-ed.) Kruschov sengit menukas: “Ah, petani Cina celana kolor pun tak 
punya!”. Para marsekal dan jenderal RRT yang sangat tergiur oleh tawaran 
Kruschov, antara lain Peng Dehuai, ketika itu mengkritik Mao telah bersikap 
dogmatis ke kiri-kirian. Mengapa menolak? Bukankah suatu kemajuan hebat bagi 
angkatan bersenjata RRT dan bagi Tiongkok menjadi kekuatan nuklir dunia? 

 

Belakangan walau pun harus menunggu enam tahun lebih, terbukti garis mandiri 
Mao dan Zhou Enlailah yang paling benar. Pada 16 oktober 1964 Tiongkok 
meledakkan bom atomnya pertama, tanpa tergantung negeri mana pun di dunia, juga 
tidak tergantung negeri sesama komunis. Tiongkok RRT yang mandiri langsung 
berubah status sebagai kekuatan nuklir dunia! Inilah pembelajaran luar biasa 
tentang arti penting bersikap MANDIRI! Politisi dan para aktivis Indonesia, 
profesional dan amatiran, patut merenungi pengalaman berharga bagaimana 
Tiongkok menilai hakekat mandiri, juga apa hasil politiknya bila teguh 
konsekuen bersikap mandiri. Ada satu informasi lagi yang penting tentang makna 
MANDIRI dalam berpoliktik. Informasi ini tidak banyak diketahui di luar 
Tiongkok, bahkan mungkin juga kurang diketahui orang-orang PKI sebelum 1965. 

 

Dari dokumen-dokumen partai ternyata Partai Komunis Tiongkok dengan pimpinan 
Mao Zhedong dan Zhou Enlai sudah dari awal berdirinya bersikap ketat MANDIRI 
terhadap Partai Komunis Uni Soviet – sejak Stalin masih berkuasa dan ketika 
Komintern masih aktif mau mendikte gerakan komunis sedunia. Sikap MANDIRI yang 
konsisten itu sering menimbulkan situasi konflik menegangkan, tetapi PKT tidak 
pernah mau manut mengekor saja, bahkan PKT lebih sering berlawan. Dengan 
kemandirian yang konsekuan, Tiongkok memanfaatkan optimal konflik dua adikuasa 
Uni Soviet dan Amerika Serikat bagi kepentingan nasionalnya sendiri. Inilah 
butir sangat penting untuk direnungi politisi kita yang sejak 1965 membiarkan 
Indonesia terus tetap tergantung pada Kapitalisme Barat. 

 

Bung Karno menolak keras bantuan kaptalisme dunia yang sarat dengan berbagai 
jerat ketergantungan. Dengan seruan “Go to hell with your aid!”, Bung Karno 
mantap mau mendidik rakyat Indonesia dan membangun karakter bangsa agar tidak 
menjadi bangsa pengemis. Kemerdekaan tanpa kemandirian tidak lain adalah 
semi-kolonialisme*. Kapital besar – asing mau pun swasta domestik, welkom 
sekali bagi Indonesia karena modal sangat diperlukan untuk pembangunan dan 
kesejahteraan rakyat. Meraih profit optimal dalam bisnis adalah wajar, akan 
tetapi mekanisme kontrol di bidang politik dan ekonomi harus efektif berjalan 
dalam batas tidak mengorbankan kemandirian bangsa dan negara. 

 

Saya sering menegaskan arti Peristiwa September 1965. Memang betul PKI berhasil 
dihancurkan, berjuta warganegara Indonesia dipenjarakan dan dibantai, namun 
fakta terpenting adalah bahwa Suharto “mendem jero” Bung Karno sampai menemui 
ajalnya. Itulah titik tonggak dalam sejarah dunia bahwa Indonesia Mandiri 
beralih menjadi Indonesia Tergantung. Soekarno tumbang – kiprahlah Indonesia 
Tergantung. 

 

Dalam Indonesia Mandiri, Indonesianya Bung Karno, kepentingan rakyat 
didahulukan. Dalam Indonesia Tergantung, kepentingan selapis tipis elit 
diprioritaskan, “Cendana” dan orang-orang pilihan selingkarannya dadakan-sontak 
jadi milyuner dolar, konflik etnik dan agama meledak di mana-mana, korupsi 
mewabah sampai sekarang. Pembangunan apapun dalam era reformasi sekarang ini, 
adalah Pembangunan dalam Keter-gantungan. Sampaisampai melawan terorisme pun 
ketergantungan Indonesia tergantung pada gantungannya; padahal teror tidak 
pernah terjadi dalam periode Indonesia Mandiri Bung Karno, 1945– 1965. 

 

Cobalah sejenak beranjangsana ke masa lalu, mengebat-ngebat kisah-balik sejarah 
mutakhir kita sendiri. Kita pernah kenal Dwitunggal Bung Karno–Bung Hatta, 
sejak pendudukan Jepang Hatta mendampingi Bung Karno. Berdua mereka 
proklamirkan kemerdekaan Indonesia, sedangkan kita tahu betul dua pucuk 
pimpinan nasional itu punya gaya dan pemikiran berbeda. Sampai satu waktu di 
tahun 1957 Bung Hatta tidak bisa lebih lanjut mendampingi Bung Karno, lalu 
mengundurkan diri sebagai wapres. Suatu fakta dalam sejarah nasional yang semua 
kita ketahui, tetapi yang tidak disadari – tidak dicatat – Bung Hatta 
sebenarnya berkorban demi persatuan Indonesia. Hatta tidak pernah memobilisasi 
kekuatan untuk melawan Bung Karno. Hatta pasti bersikap demikian atas kesadaran 
bahwa melawan Bung Karno akan timbulkan kerusuhan di seluruh negeri. Walau 
tidak sepikiran dengan Soekarno, Hatta juga menolak keras gerakan separatis 
PRRI/Permesta. Bagi Hatta, seperti juga Bung Karno kemerdekaan dan keutuhan 
Indonesia harus di atas segalanya. Lantas apa yang terjadi delapan tahun 
kemudian? 

 

Pada 1965 jenderal Suharto muncul di pentas politik Indonesia. Dia hancurkan 
PKI, tetapi lebih parah lagi dia tidak peduli Soekarno. Memang Suharto bukan 
kualitas Bung Hatta atau Zhou Enlai, baik intelektualitas mau pun kadar 
nasionalismenya, apalagi bersih dari keserakahan mengisi kantong sendiri. 
Suharto tidak peduli Soekarno, tidak peduli kemandirian Indonesia. Suharto 
bukan saja beda dengan Bung Hatta, dia pun berbeda jauh dari seorang tokoh PSI 
pewaris Sjahrir, dikenal oleh anak-anak muda yang mengelilinginya sebagai oom 
Kiyuk alias Soebadio. Walaupun beda pendapat, Soebadio peduli dan tepat menilai 
Soekarno. Terang-terangan dia ucapkan dan menulis: Soekarno adalah Indonesia, 
Indonesia adalah Soekarno! 

 

Menderetkan di sini nama-nama Mao Zhedong, Zhou Enlai, Bung Karno, Hatta, 
Sjahrir, Soebadio, sekadar contoh pembelajaran bagaimana mereka telah 
memperjuangkan kemerdekaan, selanjutnya memelihara kemandirian Indonesia. Sikap 
itu bertolak belakang dengan tokoh Orde Baru jenderal Suharto berikut segerbong 
pengikutnya yang all out menyeret Indonesia ke Ketergantungan. 

 

Sebenarnya bukan cuma Suharto yang tidak mengerti Bung Karno, banyak 
sukarnoissukarnois pun tidak mengerti Bung Karno. Terlalu sering saya mendengar 
ucapan para marhaenis: Bung Karno hebat sekali, cemerlang ajaran-ajarannya! 
Lihatlah Pancasila, konsep Trisakti, pemer-satu rakyat-bangsa-negara. Sempurna! 
Cuma celaka sekali, Bung Karno punya satu cacat yang gawat. Mengapa Bung Karno 
anjurkan Nasakom? Mengapa Bung Karno membela-bela PKI? Sayang! 

 

Saya anggap ucapan seperti itu tidak ketolongan bodohnya atau sudah parah 
kejangkitan trauma takut berat dicap KOPKAMTIB simpatisan PKI yang sedang 
gencar dibasmi sampai ke akar-akarnya. Memodifikasi ucapan Soebadio, saya malah 
tidak ragu mengatakan: Soekarno adalah Nasakom, Nasakom adalah Soekarno. 

 

Nasakom itulah inti ajaran Bung Karno tentang persatuan dan kesatuan bangsa. 
Credo itu embrionya sudah dilahirkan oleh Bung Karno di tahun 1926, 
Nasionalisme-Islam-Marxisme. Tidak ada urusan sama sekali bela PKI. Nasakom 
adalah urusan Indonesia bersatu, urusan Indonesia mandiri, adil dan sejahtera 
bersama. Kalau pun hari ini Indonesia sudah berdemokrasi, lalu mengundangkan 
resmi PKI boleh berdiri kembali, coba lihat apa yang akan terjadi. Apakah akan 
berdiri PKI baru? Masihkah komunis Indonesia mampu membangun lagi PKI? Mungkin 
saja! Mungkin yang berdiri bukan satu, malahan sepuluh PKI. Itu semua urusan 
mereka. Urusan kita adalah urusan persatuan, kesatuan, samenbundeling van alle 
revolutionaire krachten, demi Indonesia jaya mandiri. Berdikari! Bukan saja 
PKI, partai apa pun silakan aktif dalam ruang gerak Nasakom yang luas berkontur 
Pancasila dan persatuan-kesatuan Republik Indonesia. Dalam Nasakom itu sendiri 
sudah built-in sistem pengamanannya, siapa mengkhianatinya hancur sendiri. 
Demikian canggihnya konsep Nasakom Bung Karno. 

 

Tan Malaka, Thamrin, Tjipto Mangunkusumo, Soekarno, Hatta, Amir Sjarifuddin, 
Sjahrir, Sutardjo, Ratulangi, Abikusno, Muso, Lim Kun Hian, A. Patty, 
Kartosuwiryo, Siauw Giok Tjhan, Daud Beureueh, Natsir, Yap Thiam Hien, 
Baswedan, dan banyak lagi lainnya adalah pimpinan yang tanpa kecuali berjuang 
untuk kemerdekaan nasional, keadilan dan kesejahteraan rakyat Indonesia, tetapi 
mereka berbeda pendapat, bahkan bersengketa tajam. Masing-masing bertindak 
benar dan merasa benar. 

 

Sekarang – hari ini – kita tentu berhak bertanya, benar atau salahkah sikap 
mereka? 

 

Sejarah sendiri jangan pernah dilupakan, tetapi generasi baru sekarang tidak 
perlu dan jangan sampai mengangkat konflik sesama cita-cita di masa lalu 
menjadi bahan pertengkaran aktual hari ini. Generasi masa kini yang sudah 
berpisah waktu limapuluh tahun lebih dari generasi sebelumnya, mempunyai 
kesempatan untuk mengendapkan pikiran, merenungi, merefleksi masa lalu itu. 
Sejarah harus dipelajari bukan untuk perpecahan, tetapi untuk tidak melakukan 
lagi kesalahan mubasir masa lalu. Dengan kesadaran politik yang tinggi, tugas 
kita hari ini mutlak menggalang kekuatan pendukung kemandirian Indonesia, tahu 
secara baik bagaimana menangani perbedaan dalam barisan sendiri, dengan tepat 
mengelola perbedaan itu untuk justru menjadikannya kekuatan kubu Indonesia 
mandiri yang ampuh. Dengan sendirinya kubu persatuan itu juga perlu mengenali 
betul siapa musuh utama sesungguhnya yang harus dilawan bersama. Yang jelas, 
musuh utama utama adalah masih tetap imperialisme global berwajah semi-kolonial 
yang punya lahan pembiakan di dalam negeri dan selama puluhan tahun 
dipersonifikasi oleh Suharto dengan Golkar sebagai kendaraan politik berikut 
semua organisasi afiliasinya. Tetapi Suharto di tahun 1998 sudah lengser, tidak 
usah mutlak kita anggap Golkar dan sisa-sisa pendukung Suharto masih tetap 
sebagai musuh utama yang harus ditaklukkan. Itu salah besar, kecuali kalau 
sisa-sisa Orde Baru itu tetap bersikukuh menggantung terus pada Suharto, 
apalagi menjadi perpanjangan di dalam negeri bagi kekuatan imperialisme global 
yang memang punya agenda ingin mengatur Indonesia tetap tergantung pada 
kapitalisme global. 

 

Yang paling celaka, kalau kekuatan yang seyogianya sekubu, memperlakukan 
kekuatan seiring sejalan – tetapi berbeda pendapat – sebagai lawan utama yang 
perlu disingkirkan. Menganggap sekutu sendiri yang berlainan pendapat lebih 
berbahaya daripada musuh utama yang wajib ditaklukan. Ini adalah gejala umum di 
antara kekuatan-kekuatan progresif yang mau menyusun front. Sampai sekarang 
belum ada front persatuan yang berhasil. Bukan karena musuh mahakuat tidak 
tertaklukkan, tetapi karena barisan sendiri selalu saling bertengkar, 
pecah-belah berantakan. Unsur-unsur pejuang ini mengerti betul teori 
kontradiksi, tetapi begitu terjun dalam praktek, teori tidak jalan. Semua cuma 
teori, semua serba di wilayah wawasan saja, tetapi gagal penerapan dalam 
praktek. Ini fatal sekali dalam menyusun front menghadapi musuh, padahal ini 
sangat elementer, mutlak diperlukan. 

 

Satu contoh kecil: Chiang Kaishek menempatkan Zhou Enlai sebagai nomor satu 
dalam daftar untuk ditangkap hidup atau mati. Sebaliknya Zhou Enlai tidak 
henti-hentinya mengajak Chiang Kaishek berikut jenderal-jenderal Guomindang 
lainnya – bahkan juga kekuatan kelompak-kelompok tuan-tanah besar – untuk 
bekerja-sama memerangi musuh Tiongkok nomor satu ketika itu: imperialisme 
Jepang. Zhou Enlai bahkan atas nama partai memerintahkan kepada komite-komite 
di daerah basis yang sudah berada di bawah penguasaannya, agar sebagian 
kekuasaan diberikan kepada tuan-tanah – semua itu demi melawan musuh utama, 
imperialis Jepang. Chiang Kaishek pun yang pernah ditahan jenderalnya sendiri, 
dibebaskan atas bantuan Zhou Enlai. Lagi-lagi atas pertimbangan kekuatan 
sebarisan satu kubu tidak harus baku-hantam. Semua mutlak bersama melawan satu 
musuh utama: Jepang. Bukankah ini pembelajaran bagaimana pentingnya menguasai 
teori front, tetapi terlebih-lebih penting lagi menerapkannya dalam praktek? 

 

Pengalaman Tiongkok, khusus peranan Zhou Enlai tinggi manfaatnya untuk 
dipelajari, tentu saja bukan untuk menyontek mentah-mentah karena kondisi 
politik sosial budaya Tiongkok berbeda dengan Indonesia, juga berlainan kurun 
waktunya. Yang dapat kita lakukan adalah menarik essensi nilai-nilai universal 
terbaik dari watak dan gaya kepemimpinan Zhou Enlai. Sikap mandiri revolusioner 
bekerja bagi kepentingan rakyat tanpa pamrih, cerdas kreatif, berilmu, beradab, 
imun korupsi seperti Zhou, adalah nilainilai universal yang di mana pun valid 
dan berguna. Bukan saja Tiongkok, Indonesia pun sangat memerlukan nilai-nilai 
luhur itu. 

 

Kemandirian Indonesia sudah terlalu lama terinterupsi oleh mentalitet 
ketergantungan militerisme Suharto. Akibatnya kita defisit pemimpin berwatak 
mandiri. Bukankah kita perlukan banyak pimpinan yang punya visi dan misi 
mandiri guna menggerakkan Indonesia berjalan maju dan tidak terus berjalan di 
tempat seperti sekarang ini? Indonesia perlu banyak sekali pemimpin yang jijik 
korupsi, piawai menyelesaikan beda pendapat dalam barisan sendiri, tahu 
memelihara rujuk-nasional, pantang diskriminasi etnik dan agama, tidak 
gebyah-uyah menghantam lawan, sebaliknya tegas menghadapi lawan utama yang 
harus ditaklukkan. Untuk itu mutlak diprioritaskan bekerja untuk memulihkan 
lebih dulu ideologi kemandirian Bung Karno, membebaskan diri dari mentalitet 
ketergantungan pada level wawasan, dan lebih-lebih lagi pada saat berpraktek 
politik berlandas watak revolusioner Pancasila–Trisakti. Masa kini dan masa 
depan perlu kepemimpinan politik nasional yang punya karakteristik intelektual 
revolusioner komplet sebagaimana dirinci di atas. 

 

Semua pihak yang bergerak dalam institusi politik dan budaya, perlu 
memperioritaskan agenda membangun kesadaranmational dancharacter building guna 
menegakkan kembali Indonesia Mandiri, bebas dari ketergantungan pada 
kapitalisme global! Kesejahteraan ekonomi peringkat tinggi, Indonesia yang 
modern, maju ilmu dan teknologi, wibawa Indonesia bermartabat bisa diwujudkan 
hanya dengan sikap politik demikian. 

 

Anak-anak muda generasi baru Tiongkok masakini yang sudah hidup dalam 
kemakmuran tidak tahu lagi sejarah perjuangan Mao Dzedong, Zhou Enlai dan 
ribuan pahlawan pembangun Tiongkok Baru – anak-anak muda Indonesia sudah tidak 
kenal Tan Malaka, Dewantoro, Bung Karno, Bung Hatta, Siauw Giok Tjhan. Idola 
mereka bukan lagi para patriot pembebas bangsa, melainkan pengusaha-penguasa 
yang berprestasi menjadi multi-milyuner dollar, tidak peduli hasil korupsi atau 
hasil menjual kemandirian bangsa. Cita-cita ideologi yang didamba-dambakan 
adalah kebebasan demokrasi Barat. 

 

Kenyataan ini harus kita koreksi – menjadi kaya lewat kerja keras dan jujur 
hanya cara itulah yang patut dihormati! 

 

Han Suyin mempersembahkan karyanya kepada generasi muda Tiongkok; Hasta Mitra 
mempersembahkan buku ini kepada generasi muda Indonesia sebagai literatur 

pembelajaran berkarakter dalam politik.  ? ? ? 



--------------------------------------------------------------------------------

* Semi-kolonialisme – Sejak dibagi-baginya kekayaan alam Indonesia di 
konferensi para kapitalis sedunia di Geneva tahun 1967, sumber-sumber alam 
Indonesia dari minyak di Aceh sampai tembaga dan emas di Papua Barat, hampir 
semua dikuasai kapital global. Semua proyek dikerjakan tenaga buruh murah 
Indonesia; perusahaan raksasa asing bebas mentransfer seluruh keuntungan ke 
negeri asal. Indonesia jadi pasar bebas barang-barang jadi luar negeri. Hutang 
“pembangunan” bermilyar dolar yang dikantongi boss Orde Baru berikut para 
kroninya, harus dibayar oleh rakyat turun-temurun sampai lunas. Semua ini 
dipermudah dengan bantuan pemerintah dan parlemen Indonesia sendiri yang tidak 
keberatan pada ketergantungan dan meyakini kebenaran ekonomi neo-liberalisme. 
UU penanaman modal asing disediakan agar kapital global bisa beroperasi di 
Indonesia tanpa halangan. Bangsa Indonesia boleh menjadi kuli di negerinya 
sendiri. Begitulah semi-kolonial. – ed.


[Non-text portions of this message have been removed]



.: Forum Diskusi Budaya Tionghua dan Sejarah Tiongkok :.

.: Website global http://www.budaya-tionghoa.org :.

.: Pertanyaan? Ajukan di http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :.

.: Arsip di Blog Forum Budaya Tionghua http://iccsg.wordpress.com :.

 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke